LP3I Perkuat Skill Pelajarnya untuk Siap di Dunia Kerja

Pendiri LP3I, Syahrial Yusuf

Memiliki lebih dari 50 cabang di Indonesia, LP3I memiliki tujuan menciptakan SDM yang mumpuni untuk mengurangi angka penganggura di Indonesia. Didirikan oleh Syahrial Yusuf yang merupakan lulusan Ekonomi, Universitas Padjajaran, LP3I menjawab ‘kegagalan’ lulusan universitas yang kurang dibekali ketrampilan dunia kerja.

Keinginan LP3I untuk menciptakan lulusan yang siap kerja ingin diwujudkannya agar pengangguran di Indonesia dapat di redam. Menurut Ketua Yayasan LP3I, Isral Nurdin, dirinya ingin menghasilkan lulusan yang nantinya akan mendapat gaji di atas UMR, fasih bahasa Inggris, dan 10% menjadi wirausaha. “LP3I didirikan dengan semangat entrepreneur, memang ada kebutuhan perusahaan terhadap kualifikasi SDM yang dipersiapkan LP3I,” ungkapnya.

Bagi Isral, lulusan perguruan tinggi (sarjana), tapi skill yang dimiliki tidak sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sebagai pendiri LP3I, Syahrial Yusuf dinilai gigih dengan obsesinya untuk mengurangi pengangguran di Indonesia. Dia berusaha mencari terobosan dan ide agar menciptakan sistem pendidikan yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang ada. “Setiap zaman memiliki permasalahan berbeda. Beliau dengan kreativitasnya mencari cara menghadapinya,” ujar Isral.

Awal berdirinya LP3I sebagai tempat kursus komputer, bahasa Inggris, akuntansi, dan sekretaris di tahun 1989. Menurut Syahrial Yusuf, jika seseorang dapat melakukan hal-hal tersebut pasti kesempatan kerja akan terbuka. Keistimewaannya, kursus yang di modifikasi oleh dirinya menggunakan pola pengajaran perguruan tinggi. Saat itu cabang LP3I hanya satu berada di Pasar Minggu dengan satu kelas berisi 25 orang, dengan 6-8 ruangan. Di awal berdirinya, LP3I memiliki lebih dari 20 dosen, Berstatus tetap dan sementara.

Dua tahun kemudian, LP3I berkembang ke wilayah Tangerang, Jakarta Barat, Aceh, dan Bali. Tahun 2000 mendapat izin sebagai perguruan tinggi, kemudian berganti nama menjadi politeknik mulai tahun 2003 dengan 30 cabang, tersebar di Medan, Bandung, dan Jakarta. Perubahan ini menandai bahwa LP3I mendapatkan izin baru dari DIKTI untuk menyelenggarakan program 3 tahun, vokasional. “Untuk memenuhi izin ini dilalui dengan berbagai persyaratannya. Kita membuat studi kelayakan, sama seperti perguruan tinggi lainnya, disesuaikan dengan kebutuhan,” jelas Isral.

Di awal tahun, LP3I memperkenalkan diri dengan mengunjungi sekolah-sekolah agar dikenal. Syahrial juga berusaha meminta perushaaan untuk mempekerjakan pelajar LP3I. “Memang awalnya mereka menolak karena ingin lulusan sarhana. Saya berusaha meyakinkan mereka bahwa hal ini untuk melatih mental kerja. Akhirnya mereka minta tenaga kerja lagi. Saat itu pelajar kami ada 40 orang, hingga semuanya akhirnya bisa bekerja di beberapa perusahaan,” kenang Syahrial Yusuf.

Tantanggan yang dihadapi LP3I adalah mencari dosen berkualitas. Namun Syahrial akhirnya mengkader dosen sendiri untuk kebutuhan tersebut. Menurut Isral, untuk cabang di daerah, memang ada kesulitan sendiri. Pengajar yang diingikan LP3I adalah praktisi. “Yang membuat LP3I alumninya mudah mendapatkan pekerjaan karena pengajarnya praktisi. Kebanyakan dosen-dosen LP3I ini praktisi, sehingga ilmu yang diberikan tenaga praktis,” ujarnya.

LP3I berusaha memperlihatkan bukti melalui lulusannya yang banyak mendapatkan pekerjaan. Ada beberapa LP31 yang gagal seperti di daerah Jawa Tengah dan Kabupaten Purbalingga yang hanya bertahan 4 tahun. Hal ini dikarenakan industrinya tidak mendukung.Keberadaan  LP3I harus diikut industrinya, jika tidak mendukung, tidak akan berkembang.

Inspirasi pendidikan vokasional yang diusung LP3I ini didapatkan Syahrial dari mengadopsi pendidikan di Australia dan Jerman. Menurutnya, banyak pendidikan di luar negeri yang berkonsentrasi pada vokasional yang memberikan skill pada pelajarnya Untuk siap masuk dunia kerja. Maka dari itu, LP3I memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan untuk membantu menyiapkan tenaga kerja. LP3I yakin bahwa pendidikan yang bagus akan menghasilkan lulusan yang bagus pula dan mudah terserap oleh industri.

LP3I memiliki obsesi untuk tidak hanya tumbuh di Jakarta dan sekitarnya, tapi juga ingin memberikan kontribusi ke seluruh wilayah di Indonesia. Maka dikembangkanlah LP3I ke berbagai daerah seperti Medan, Makassar, Bali, dan masih banyak lagi. Untuk membuka cabang LP3I dibutuhkan dana sekitar Rp 2-3 miliar, termasuk sewa gedung untuk menampung maksimal 500 mahasiswa. “Kita harus membuka pasar baru, memperkenalkan lagi. Kami juga ada pemilik asset. Dari 53 cabang, 40% milik LP3I, 60% milik luar. Pola seperti itu terbuka bagi semua orang yang memiliki visi sama untukbekerja sama,” urainya.

Dalam hal menyiapkan generasi penerus, LP3I mempersiapkan dengan pelatihan dan kaderisasi dan memberikan kesempatan memimpin. Target ke depan, LP3I dapat mewujudkan 10% lulusannya untuk menjadi entrepreneur. Saat ini telah mencapai sekitar 4%. LP3I ikut ambil bagian sehingga kurikulumnya di desain agar targetnya dapat mencapai 10%. Rencananya juga LP3I akan mengembangkan politeknik di Lampung dan Jambi.

LP3I juga bekerja sama dengan universitas-universitas tertentu di daerah dan Melbourne Polytechnique karena sama-sama mengedepankan vokasional. “Setelah dilihat, kurikulum kita sama dengan kurikulum Melbourne Polytechnique, level 4 untuk akuntansi. Nanti alumni akuntansi kLP3I dapat memeproleh sertifikat level 4 dari Melbourne Polyctechnique, prosesnya melalui pertukaran pelajar,” jelas Isral. LP3I memiliki 53 cabang, di antaranya 30 kampus, sisanya politeknik dan bermitra dengan 20 ribu perusahaan di seluruh Indonesia.

Reportase: Nisrina Salma

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)