LSPR Gandeng ASEAN Menjadi Partner Pengembangan Kehumasan Regional

lspr

Tidak dipungkiri kawasan ASEAN merupakan magnet luar biasa terutama dalam persaingan pasar global. Dengan pertumbuhan ekonomi 4-7 persen rata-rata di kawasan ini, sedangkan dunia hanya 3,1 persen, ASEAN diibaratkan bagai gadis cantik yang sedang banyak ditaksir orang. Hal ini disampaikan H.E. Jose Tavares, Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN pada ASEAN Talks Live at LSPR Jumat (16/9) di Auditorium Prof. Dr. Djajusman, Kampus B LSPR Jakarta.

Pria asli Atambua, NTT yang baru sebulan menjabat posisi Dirjen ASEAN ini, kemudian menuturkan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) merupakan sinyal positif di kawasan ini, setelah selama 40 tahun hubungan regional justru lebih ramai mendiskusikan tentang pertentangan antar negara anggotanya. Seperti Indonesia dengan Malaysia atau Thailand dengan Kamboja.

“Justru yang muncul sering konfrontasi negatif, padahal bagai gadis cantik kawasan ini penuh magnet bagi pasar global,” tuturnya. Ia menyebut nilai intra trade ASEAN itu sekarang sekitar US$ 22,1. Dan ada sekitar 770 perusahaan global yang masuk ke negara-negara ASEAN guna meluaskan pasarnya.

“Bagi Indonesia, ini juga peluang. Pasar bukan lagi 250 juta orang, tapi 670 juta di kawasan ini,” ujarnya. Untuk itu sangat penting meningkatkan kemampuan bangsa ini agar setara dengan negara lain, terutama antar negara di kawasan ini," jelasnya.

Untuk itu ASEAN sendiri menurut Jose meningkatkan labour skill melalui ASEAN Mutual Recognition Agreement (MRA) bagi 8 profesi yaitu dokter, perawat, dokter gigi, engineer, arsitek, surveyor, akuntan, dan tenaga profesional pariwisata guna mendorong peningkatan kualitas profesi –profesi tersebut di kawasan ini.

Jose menyoroti rendahnya kualias pendidikan kita, terutama dalam penguasaan Bahasa Inggris. Menurutnya, ada sekitar 1.000 perguruan tinggi di Indonesia, tapi kualitasnya masih kurang. Dibutuhkan upaya lebih strategis untuk meningkatkan mutu lulusan pergurunan tinggi di Indonesia.

“Padahal, kami di ASEAN memiliki dana dari partner yang dapat digunakan untuk capacity building senilai Rp 3,6 triliun tahun ini, cukup besar, tapi sering kali ini tidak terpakai habis, karena lemahnya proposal untuk penggunaan dana ini,” jelasnya. Ia mengakui hingga saat ini public relation atau kehumasan belum menjadi salah satu profesi yang masuk dalam MRA. Dengan kerjasama yang digagas LSPR diharapkan ke depannya, profesi ini bisa masuk dalam MRA.

Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR, selaku pendiri dan Direktur LSPR-Jakarta, menuturkan, untuk itulah pihaknya menginisiasi terbentuknya ASEAN Public Relation Network ini. “Selama ini kami belajar atau ilmu-ilmu yang kami pelajari adalah public relation dari perspektif western. Padahal, banyak sekali perbedaan yang saya temui, maka itu penting adanya ASEAN perspektif tentang kehumasan,” jelasnya.

Prita berpendapat public relation memegang peranan sangat penting dalam penyebaran informasi di ASEAN. Dengan adanya ASEAN Public Relation Network ini, diharapkan bisa mengatasi tantangan kehumasan di kawasan ini, dengan mengenal lebih baik antar negara.

“Mengenal tetangga dahulu itu lebih utama, karena tetangga adalah saudara terdekat kita, ASEAN ini gadis cantik seperti disampaikan Pak Jose, nomor tiga market share dunia, untuk itu pentig memahami dulu standar, karakter, people masing-masing negara di kawasan ini sebelum lebih jauh ke kawasan lain,” jelasnya.

Pusat Kajian ASEAN untuk Autisme

Selain mengumumkan ASEAN Public Relations Network, pada kesempatan yang sama dan di tempat yang sama diresmikan Pusat Kajian ASEAN untuk Autism atau Center for ASEAN Autism Studies (CAAS). Mengapa di LSPR? Menurut Prita, perhatian pihaknya pada autism studies sudah sejak 2008.

Dalam perjalanan tersebut hingga sekarang masih belum banyak orang paham tentang hal ini. Menurutnya, orang dengan autism mempunyai problem sensori dan komunikasi, yang pada waktu tertentu menjadi tidak sabar dan tantrum sehingga membuat beberapa orang tua menghindari membawa mereka ke area publik.

CAAS merupakan bentuk partisipasi LSPR Jakarta dalam melakukan kajian-kajian komunikasi dan autism dalam ruang lingkup Health Communication for Autism dan Media & Disability Studies di kawasan ASEAN. CAAS diharapkan dapat berperan melakukan berbagai macam kegiatan meliputi penelitian, pendidikan, pengabdian masyarakat, seperti konsultasi, workshop, seminar, diskusi, bedah buku dan publikasi.

Diakui Prita belakangan perhatian Pemerintah untuk mendorong sekolah inklusi, sekolah yang dapat menerima anak-anak kebutuhan khusus, termasuk anak dengan autism makin besar. LSPR mendukungnya dengan memberikan pendampingan dan pelatihan pada guru-guru. Sejak 2008 menurut Prita sudah 5028 guru yang diberikan training dari 1616 sekolah dasar se-Jabodetabek. Dan sudah 750 sekolah dasar dikunjungi untuk mensosialisasikan tentang autism melalui film dan teater untuk menyebarluaskan pemahaman tentang autisme.

“Kekayaan informasi dan pengetahuan yang kami miliki ini, ingin kami bagikan juga ke saudara-saudara kami di kawasan ASEAN, yang kami yakin akan sangat berguna. Itulah tujuan diresmikannya Centre for ASEAN Autism Studies atau CAAS,” ujar Prita.

Tidak banyak kampus yang menyediakan pendampingan bagi anak-anak kebutuhan khusus ini. Saat ini di LSPR-Jakarta ada 50 mahasiwa autis yang belajar di LSPR Beyond Academy dari total 5000 mahasiswa LSPR. Bahkan menurut Prita,, bagi mahasiswa umum LSPR yang mau menulis tests tentang autism akan mendapat nilai lebih dibanding tema lainnya. Dan nilai lebih juga diberikan kampus bagi mahasiswa LSPR yang berkenan menjadi pendamping siswa austis di LSPR Beyond Academy dan yang mau mendampingi anak-anak autis masyarakat umum saat akhir pekan untuk sekadar nonton film atau bermain.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)