Mampukah Indonesia Keluar dari Ujian Ketangguhan Ekonomi? | SWA.co.id

Mampukah Indonesia Keluar dari Ujian Ketangguhan Ekonomi?

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai angka 5 persen. Hal ini karena adanya tantangan eksternal dan internal yang masih belum menunjukkan tanda-tanda membaik.

Dalam sebuah buku berjudul Menuju Ketangguhan Ekonomi Indonesia, Indef menjelaskan terdapat empat tema besar untuk menjawab ujian ketangguhan ekonomi. Pertama, kredibilitas fiskal. Ini akan terlihat pada pelaksanaan APBN 2017.  Tantangan terbesar dalam hal ini adalah kualitas belanja negara yang tidak terlalu baik, belum menunjukkan fungsi yang sebenarnya dalam suatu kebijakan fiskal—fungsi stabilitas dan stimulus, fungsi alokasi, dan fungsi distribusi dan keadilan.

Kedua, Indonesia masih memiliki produktivitas dan daya saing perekonomian yang rendah. Saat ini era Pemerintahan Jokowi-JK berupaya memberikan paket kebijakan ekonomi yang diharapkan menajdi stimulus untuk meningkatkan kedua tantangan tersebut. Namunn, dalam Forum Ekonomi Dunia, peringkat Indonesia hanya di posisi 41 di tahun 2016. Kemudian dalam hal inovasi, Indonesia termasuk dalam negara yang tidak inovatif menurut INSEAD The Business School for the World (2016-2017), di mana Indonesia menempati peringkat ke-88.

Kemudian terlihat pada rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia, apalagi di tingkat Asia. Indeks Produktivitas Tenaga Kerja Indonesia berada pada posisi paling rendah yaitu 1,62 pada tahun 2016. Peringkat ini sangat jauh dibanding China di angka 3,31 dan Vietnam di angka 1,97.

Lalu, tahun 2017 juga ditandai dengan ketatnya likuiditas perekonomian. Ini disebabkan karena deficit anggaran negara, walauoun pemerintah telah menargetkan tidak lebih dari 2,5 persen dari PDB. Terakhir, adalah kualitas pertumbuhan ekonomi. Walaupun perekonomian pada triwulan III 2016 mencatat pertumbuhan 5,02 persen, namun ketimpangan pendapatan masih besar dengan indeks gini 0,40, lalu kemiskinan di angka 10,7 persen, dan pengangguran sebesar 5,6 persen.

Pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas ini juga terlihat dengan dominasi sektor non-tradeable, yang tidak seimbang dengan sektor tradeable, terutama pertanian dan industri manufaktur. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan pembenahan pada sektor pertanian, lalu pembenahan struktural, seperti pemanfaatan bonus demografi dan peningkatan investasi sumber daya manusia.

Chairul Tanjung, Ketua Komite Ekonomi Nasional 2009-2014 menyatakan Indonesia harus tetap berada di jalur mainstream dinamika ekonomi kawasan Asia Tenggara. “Harus melakukan reformasi birokrasi dan kelembagaan negara, sehingga menicptakan pelayanan efisien, hilangnya hambatan bagi dunia usaha, dan terciptanya iklim usaha yang kondusif untuk berinvestasi,” tambahnya.

 

Editor : Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
IHSG Cetak Rekor di Level 5.651

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Selasa (4/4/2017), ditutup ke level 5.651 poin, sehingga mencetak rekor tertingg. Atas...

Close