2015, Nilai Pasar Farmasi US$ 6 Miliar

Pasar farmasi Indonesia pada tahun ini diperkirakan mencapai US$ 6 miliar atau tumbuh 3-4% dibanding tahun lalu. Ke depan, pasar farmasi baik obat-obatan dengan resep dokter maupun obat-obatan yang dijual bebas (OTC) akan tumbuh lebih tinggi, 8-9%. Direktur Utama Combiphar Michael Wanandi yakin kebutuhan akan kesehatan akan terus meningkat. “Anda akan melihat pertumbuhan yang konstan sekitar 6-7%. Dari total jumlah penduduk (Indonesia sekitar 250 juta), diprediksi ada sekitar 2-3% yang sakit dan membutuhkan pengobatan,” katanya.

Menurut dia, kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sedikit mengangkat pemasaran produk obat generik. Dia mencatat pertumbuhan ketiga jenis obat yang masuk ke rekomendasi obat BPJS di atas 20% sepanjang tahun 2014. Kenaikan cukup tinggi tersebut lebih karena minimnya persaingan di tiga produk tersebut. Secara keseluruhan, Combiphar sulit mengharapkan pertumbuhan dari obat generik dan lebih mengutamakan penjualan obat-obatan dengan resep dokter.

“Tahun 2014, komponen ethical tumbuh sekitar 15%. Tahun ini, saya yakin bisa di atas itu. Kalau pertumbuhan obat generik, berat. Kami harus main di volume karena harga ditekan habis. Itulah yang membuat kami menggenjot bisnis consumer healthcare,” ujarnya.

farmasi_8

Dengan melakukan rebranding dari generic ke consumer healthcare, lanjut dia, perseroan setidaknya mampu menjaga keseimbangan usaha. Sulit bagi Combiphar untuk menyediakan obat-obatan murah tapi berkualitas. Sistem e-catalog yang dianut BPJS, dimana harus mencantumkan harga obat, juga menimbulkan ketidakpastian. Perseroan harus bisa menghitung volume dan biaya produksi untuk setiap permintaan obat yang jumlahnya tidak sedikit.

“Lalu, BPJS hanya menjamin kontraknya itu hanya untuk setahun. Padahal, untuk memenuhi itu harus membangun pabrik yang kapasitasnya tidak untuk setahun-dua tahun, melainkan jangka panjang. Nah, kalau setelah setahun BPJS tidak melanjutkan, pabriknya itu untuk apa?” katanya.

Oleh karena itulah, menurut Michael, Combiphar kini lebih banyak bermain di produk kesehatan yang sifatnya preventif yang hingga kini belum banyak dilirik oleh perusahaan asuransi. Toh, di mata banyak orang, tentu mencegah lebih baik dari mengobati. Beban biaya pengobatan yang ditanggung pemerintah juga akan lebih ringan. Perseroan mesti jeli melihat potensi bisnis seiring ketersediaan modal yang terbatas.

“Kalau mau melihat Combiphar, dari 2011 ke 2014, kami tumbuh lumayan bagus. Aset menjadi dobel, tumbuh di atas 90 %. Profitabilitasnya juga naik empat kali lipat. Hal-hal itu menjadi parameter karena saya lebih melihatnya ke financial numbers. Bukan spesifik produk,” ujarnya.

Saat ini, Combiphar tengah menggenjot produksi obat dengan teknologi biosimiliar, yakni obat-obatan biologi yang dibuat mengikuti produk penemuan asli yang sudah habis masa patennya. Selain itu, perseroan juga akan meningkatkan produksi obat-obatan untuk penyakit degeneratif seperti kanker, jantung, hipertensi yang kebutuhannya terus naik dari tahun ke tahun.

“Di area itu price competition-nya lebih sedikit. Karena di Indonesia pemain Biosimilar ini belum banyak dan kalau pun nanti sudah masuk teknologinya saya yakin pemainnya sedikit, karena patennya akan habis 2-3 tahun kedepan. Pemain/produsen biosimilar tidak banyak, sehingga untuk masuk ke BPJS tidak harus dengan perang harga murah,” katanya. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)