2018, Bali Ingin Punya 100 Desa Wisata

Bali adalah surga dunia di mata para wisatawan domestik maupun mancanegara. Bicara pariwisata Bali, tentu tak boleh melewatkan keindahan sunset di Pantai Kuta, hangatnya mentari pagi di Pantai Sanur, ataupun gemerlap dunia malam di sekitar kawasan Legian. Semua destinasi wisata itu terletak di sebelah Selatan Bali.

Sesungguhnya, keindahan Bali tak hanya ada di wilayah Selatan. Di Bali bagian Barat, ada banyak tempat wisata yang tak boleh dilewatkan. Kabupaten Jembrana, misalnya, punya tempat wisata pantai, sejarah, serta Taman Nasional Bali Barat yang kesohor sebagai rumah dari penangkaran burung langka khas Bali, yakni Jalak Bali.

Kepala Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra, menilai pariwisata Bali selama ini hanya terkonsentrasi di bagian selatan. Itulah kenapa pihaknya mengembangkan konsep desa wisata. Inovasi ini diharapkan mampu memberikan pemerataan pendapatan antara wilayah Bali Barat dan Selatan. “Target kami, punya 100 desa wisata di tahun 2018 mendatang,” katanya.

Saat ini, sudah ada 24 desa wisata yang tersebar di 9 kabupaten/kota. Pada tahun 2015, sudah ada 11 desa wisata baru yang tengah mendapat pembinaan. Selain untuk mengembangkan pariwisata Bali, konsep desa wisata juga bisa digunakan untuk mengentaskan kemiskinan sekaligus menambah pendapatan asli daerah (PAD).

“Setiap desa di kabupaten/kota di Bali memiliki ciri khas. Itulah yang dijual sehingga setiap desa bisa ikut menikmati dampak kegiatan pariwisata. Perekonomi desa akan semakin terangkat,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra (www.disparda.baliprov.go.id) Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Yuniartha Putra
(www.disparda.baliprov.go.id)

Selama ini, Pemda menerima masukan dari masyarakat atau pihak swasta tentang desa mana saja yang layak dikembangkan menjadi desa wisata. Setelah memenuhi persyaratan tertentu, perangkat desa dan masyarakat setempat akan mendapatkan pembinaan sembari dipersiapkan infrastruktur utama seperti akses jalan dan lain-lain.

“Memang belum semuanya bisa berjalan. Ada juga desa yang masih ditata. Untuk promosi, selain dilakukan bersama-sama di tingkat kabupaten/kota dan provinsi dengan bantuan Asita (Asosiasi Biro Perjalanan Indonesia) dan HPI (Himpunan Pramuwisata Indonesia), masing-masing desa wisata diarahkan mempromosikan ciri khasnya di media sosial,” ujar Yuniartha.

Selain kesiapan infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya, lanjut dia, juga ada pembinaan tentang kesadaraan masyarakat menjaga kebersihan dan kesiapan mental saat menyambut kedatangan wisatawan ke daerahnya. Pola hidup bersih dan keramahan saat menjamu tamu adalah prioritas utama.

Dari data Kadisparda Bali, kunjungan wisatawan asal Eropa ke desa wisata Bali masih yang terbesar. Disusul, para pelancong dari Amerika, Australia, dan Asia. Belakangan, jumlah kunjungan wisatawan domestik ke desa-desa wisata di Bali terus merangkak naik.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)