3 Strategi Sukses Bersaing di Industri Katering

Di era yang menuntut serba cepat dan mudah, budaya masak bersama dengan tetangga atau keluarga tak banyak lagi 'terdengar' di perkotaan saat mengadakan acara, syukuran atau 'makan besar'. Pada akhirnya, katering pun menjadi pilihan. Tak heran, bisnis ini pun marak dan persaingan pun makin ketat. Salah satu contoh katering yang sukses adalah Katering Kenanga yang pernah didaulat sebagai 'langganan' kepresidenan.

Menurut pengamat industri makanan sekaligus Presiden Direktur PT Permata Tene, produsen gula rafinasi, Andre Vincent Wenas, industri katering sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang. Pasalnya, kebutuhan untuk konsumsi makanan yang variatif di masyarakat begitu tinggi namun keahlian untuk memproduksi menu-menu tersebut masih terbatas. Tak heran, kebanyakan orang memilih untuk menggunakan jasa katering. Meskipun begitu, mengembangkan bisnis ini tak selamanya mudah. Katering Kenanga di Bogor misalnya, mampu bertahan di gempuran karena dibesarkan dengan ketelatenan sang pemilik. “Mereka pun bisa bertahan beberapa generasi karena pola kepemimpinan yang bagus.”

 

Namun, kepemimpinan sendiri tidaklah cukup. Ada tiga hal yang harus diperhatikan, menurut Andre. Pertama, variasi menu. Dunia kuliner, menurut pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua 1 Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) ini, sejalan dengan gaya hidup. Mengingat 60% konsumsi Indonesia berasal dari kelas menengah berdasarkan data Nielsen, kebutuhan variasi makanan pun tinggi. Makanan tak lagi sekadar alat mengenyangkan perut. Makanan sudah menjadi bagian dari life style. “Kuliner harus bisa sejalan dengan gaya hidup. Munculnya variasi menu ini bisa menyesuaikan dengan tren kebutuhan konsumen,” ujar Andre.

 

Kedua, ekspansi bisnis. Sebagai negara berkembang yang 'sejajar' dengan Cina, India dan Rusia, Indonesia pun menikmati untung dari stagnansi bisnis di Eropa maupun Amerika Serikat. Investasi diperkirakan mengucur deras di 2012. Ekspansi bisnis kuliner pun bisa jadi pilihan investasi. “Pembukaan kafe baru bisa jadi salah satu cara mengenalkan diri ke khalayak lebih luas. Produsen bisa juga buka restoran dengan konsep prasmanan atau display menu di dalam etalase kaca.”

 

Ketiga, teknologi. Pemain di industri katering tidak boleh stuck dengan konsep-konsep lama yang merugikan padahal dengan bantuan teknologi, masalah dapat diatasi. Makanan yang gampang basi misalnya. Saat ini, menurut Andre, adalah era 'frozen food'. “Mungkin hal itu bisa dicoba mengingat potensinya besar. Banyak pegawai kantoran yang yang bisa mengkonsumsi. Praktis. Sampai dikantor, tinggal dihangatkan dengan microwave.” Di Indonesia, menurut Andre, belum banyak yang terjun dibisnis ini.(Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)