Wadah I-4 untuk Diaspora Indonesia

Forum Diaspora Indonesia 2 di Berlin (ketum I-4) Forum Diaspora Indonesia 2 di Berlin (ketum I-4)

Ada banyak cara untuk membawa nama Indonesia di kancah internasional. Salah satunya melalui peran besar orang-orang Indonesia yang berada di luar negeri, baik untuk bekerja, tinggal menetap, dan lain sebagainya. Banyak di antara mereka yang berprofesi sebagai ilmuwan, peneliti, dan dosen yang menghasilkan berbagai riset.

Melihat potensi yang tinggi tersebut, dibentuklah ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau yang dikenal dengan I-4 sebagai wadah bagi para ilmuwan Indonesia di luar negeri. Berikut adalah wawancara SWA Online dengan pihak I-4, Muhammad Nurwegiono, Divisi Media (Elektronik dan cetak) I-4 dan juga Associate Director dari Yayasan Global Aliya Indonesia.

Bisa dijelaskan bagaimana gambaran I-4 dari awal berdiri hingga saat ini?

Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional atau disingkat I-4 merupakan wadah untuk mengakomodasi dan mengorganisasikan seluruh potensi Ilmuwan Indonesia di seluruh dunia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia demi kemajuan Indonesia.

Sejarah berdirinya I-4 sendiri berawal dari ide anak muda yang bernama Achmad Adhitya, Ph.D. Kandidat dan teman-teman PPI lainnya yang ingin membuat sebuah forum, dimana orang-orang Indonesia yang hebat di luar negeri bisa bertukar pikiran tentang apa yang sudah mereka lakukan dan apa yang bisa mereka lakukan untuk Indonesia.

I-4 dideklarasikan pada hasil Simposium Internasional Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dunia di Den Haag pada bulan Juli 2009 yang dibuka oleh Mantan Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono melalui teleconference serta dihadiri oleh Prof. Yohanes Surya, Ph.D., Anies Baswedan, Ph.D., Prof. Dr. Ken Kawan Soetanto, Dr. Eng. Khoirul Anwar, Etin Anwar, Ph.D dan masih banyak lagi Ilmuwan-ilmuwan Indonesia lainnya. Organisasi ini diharapkan dapat menjadi cikal bakal penegasan kembali pentingnya jaringan Internasional yang menghubungkan putra-putri terbaik bangsa yang sedang berdomisili di luar negeri (diaspora). Berdirinya I-4 ini mendapat sambutan dan dukungan sangat positif dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (waktu itu Depdiknas) melalui Dirjen Pendidikan Tinggi, I-4 pun diresmikan oleh Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bapak Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, di Jakarta. Dan kita juga diundang ke Istana Negara oleh Mantan Wakil Presiden RI Bapak Prof. Dr. H. Boediono, M.Ec.

Sejak saat itu I-4 sudah melakukan sosialisasi melalui seminar hingga workshop ke berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Medan, Makassar, Jogja, Aceh, Jayapura dan kota-kota lainnya hingga ke negara Malaysia, Mesir, Korea, Taiwan, Jepang, Swedia, Berlin, Paris, London untuk mengenalkan I-4 lebih luas. I-4 aktif dengan berbagai kegiatan baik secara offline maupun online hingga kepengurusan saat ini yaitu Dr. Dessy Irawati, Ph.D. FeRSA yang merupakan Ketua Umum I-4 periode 2013 - 2015.  Dalam kepengurusan beliau sejak 2013 lalu banyak hal yang sudah dilakukan serta ditingkatkan lagi berbagai kegiatan dan kerjasama I-4 dengan organisasi lain seperti Diaspora Indonesia, PPI Dunia, IASI, Bank BNI, Universitas di luar dan dalam negeri, serta pihak-pihak lain. Kegiatan-kegiatan lainnya juga seperti Kuliah Online maupun I-4 Talks yang dilaksanakan secara rutin melalui teleconference sejak 2013 lalu masih terus dijalankan sampai sekarang karena kegiatan ini mendatangkan pembicara yang profesional dibidangnya serta teruji kecakapannya di dunia Internasional.

Tahun ini direncanakan I-4 akan mengeluarkan dua buku, yang pertama “Kisah 25 Ilmuwan Indonesia yang Mendunia” bekerjasama dengan organisasi Masyarakat Nano Indonesia dan Nano World Indonesia, dimana buku ini tidak hanya memperkenalkan 25 Ilmuwan Indonesia yang karyanya sudah dikenal dunia internasional, tetapi juga mengisahkan perjalanan hidup dan karir nya dimulai mereka masih duduk di bangku kuliah hingga memegang jabatan strategis di tempat kerjanya. Dengan harapan agar anak-anak Indonesia lebih banyak lagi keinginannya menjadi seorang Ilmuwan. Buku tersebut diketuai langsung oleh peneliti senior Dr. Irawan Satriomo yang bekerja di University of Florida, Amerika Serikat. Menariknya dalam buku ini kita melibatkan mahasiswa/i Indonesia yang menulis bukunya.

Pemilihan penulis berdasarkan hasil dari rangkaian proses seleksi dari 500 orang lebih menjadi 25 orang terbaik yang mewakili kampus nya masing-masing seperti dari Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Jakarta serta universitas lainnya. Dan buku yang kedua mengenai buku biografi dari Ketua Umum I-4 saat ini yaitu Dr. Dessy Irawati, Ph.D. FeRSA, di dalam buku tersebut banyak pelajaran yang bisa kita dapatkan nanti.

Negara patut bersyukur memiliki putra/i bangsa seperti Rahmadi Trimananda, Tracey Yani Harjatanaya, Fahita Advani serta teman-teman I-4 lainnya baik yang masih aktif maupun tidak aktif lagi walaupun mereka lagi di luar negeri tetapi mereka punya cinta yang besar terhadap negara kelahirannya yang terus memberikan waktu, tenaga dan pikiran nya untuk Indonesia melalui I-4. Teman-teman di I-4 itu volunteer (tidak digaji), tetapi mereka bekerja seperti di gaji. Semangat nya yang luar biasa membuat I-4 tetap terus berkibar. Saya teringat apa yang disampaikan oleh Pak Anies Baswedan “Relawan tak dibayar bukan karena tak bernilai tetapi karena tidak ternilai”.

Apa program I-4 dalam kaitannya dengan mitra di luar negeri?

Hampir bisa dibilang semua program-program I-4 bermitra dengan organisasi-organisasi di luar negeri maupun dalam negeri. Karena I-4 terbuka luas kepada organisasi yang ingin bermitra dengan I-4 demi kemajuan bangsa dan negara di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu program nya rutin adalah I-4 Talks dan Kuliah Online, dimana program ini secara rutin diselenggarakan setiap bulan minimal 2 kali yang mengundang narasumber yang ahli dibidangnya untuk berbicara pada topik yang masih terhangat. Dalam hal ini I-4 bermitra dengan Radio PPI Dunia, dimana peran radio ini bisa membantu menjangkau semua pendengar baik di tanah air maupun di luar negeri yang terhubung dengan internet. Sehingga yang mendengarkan diskusi I-4 Talks nya secara Live Streaming Video juga bisa didengarkan dari radio yang mungkin koneksinya terbatas.

Bagaimana realisasi dan hasilnya sejak awal bermitra hingga saat ini?

Yang terlihat sampai tahun 2015 ini, hasilnya banyak dari universitas yang ingin diadakan secara live di kampus nya. Karena, mereka mendapatkan ilmu dari orang-orang yang ahli dibidang nya dengan gratis tanpa dipungut biaya. Setiap kali diadakan kegiatan rutin I-4 Talks dan Kuliah Online, banyak yang mengikutinya secara Live Streaming Video baik dari Indonesia maupun luar negeri. Mereka pun aktif bertanya kepada narasumber atau pembicara. Karena tidak hanya membahas topik yang sifatnya penelitian, tetapi juga sampai ke topik mengenai bagaimana mendapatkan beasiswa ke Eropa, Amerika dan lain-lainnya.

Dalam dua bulan ke depan rencananya akan membuat program baru yang bernama I-4 Talks goes to Campus sebagai salah satu wujud keinginan besar dari para mahasiswa/i yang ingin kampusnya dihadiri oleh I-4 untuk sharing knowledge dari para ilmuwan di luar negeri. I-4 harapkan organisasi baik dalam maupun luar negeri bisa ikut bergabung dalam program ini untuk meningkatkan semangat mahasiswa/i Indonesia untuk belajar.

Sudahkah punya program yang terkait dengan kalangan diaspora Indonesia?

Iya I-4 sudah punya program dengan kalangan diaspora Indonesia di luar negeri. Namanya Forum Diaspora Indonesia, dimana baru saja Forum Diaspora Indonesia kedua diselenggarakan pada tahun lalu di Jerman yang menghadirkan Dr. Dino Patti Djalal selaku narasumber kehormatan pada Forum Diaspora Indonesia II bertema Peran Diaspora Indonesia dalam Menyukseskan Pendidikan Nasional di Berlin, Sabtu (15 November 2014).

Dengan dukungan KBRI Berlin, BNI 46 Cabang London, Ikatan Ahli dan Sarjana Indonesia-Jerman, Indonesia Diaspora Network dan Indonesisisches Kultur und Weisheitszentrum. Forum ini dihadiri 200 peserta diaspora Indonesia di Jerman dan dari beberapa negara-negara Eropa (Belanda dan Swedia). Secara paralel, juga digelar wokrshop "Diaspora Menulis" yang dipandu oleh Ketua Umum I-4, Dr. Dessy Irawati, FeRSA dan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin Prof. Dr. Agus Rubiyanto. Workshop ini diselenggarakan dalam rangka menyambut keikutsertaan Indonesia sebagai Guest of Honour pada Franfurter Buchmesse 2015, yang merupakan pameran literatur tersebar di dunia. Forum Diaspora Indonesia II ini juga dimeriahkan dengan bazaar, pertunjukan kesenian, pemutaran film pendek karya diaspora Indonesia dan doorprize tiket Jerman-Indonesia dan Berlin-Barcelona.

Bagaimana hasil yang diperoleh dari program tersebut?

Para peserta yang berasal dari KBRI memiliki pengetahuan baru tentang menulis langsung dari ahlinya. Melalui kegiatan tersebut kami ingin membantu peserta untuk meningkatkan kemampuan dalam menulis.

Pola hubungan mutualistik apa yang mungkin atau sudah dan akan dijalankan?

I-4 saat ini sedang mencoba pendekatan ke pemerintahan untuk bisa berperan langsung membantu ke pemerintahan sekarang dalam pendidikan, manajemen tata kota, dan bidang lainnya yang diperlukan. Indonesia punya banyak putra/i bangsa yang ahli dalam bidangnya. Inilah konsentrasi kita juga selain program-program yang sudah berjalan. I-4 ingin membuat program yang bermanfaat langsung kepada masyarakat Indonesia. Memang keinginan I-4 ini sebenarnya tidak sulit, jika pemerintah yang sekarang lebih bangga dengan SDM dalam negeri.

Lalu apa manfaat buat organisasi dan apa pula buat pihak diaspora? (manfaat baik dari sisi sosial, ekonomi, bisnis, dll)?

Sesuai dengan misi I-4 yang salah satunya tidak hanya menjalin kerjasama antar ilmuwan di luar negeri dengan ilmuwan di dalam negeri, institusi pendidikan tinggi, institusi riset, dunia usaha maupun elemen pemerintahan. Sehingga ini tentu membawa manfaat bersama baik dari pemerintahan kita sendiri, I-4 maupun diaspora nya juga. Jika pemerintahan kita sekarang memberikan kepercayaan kepada Putra/i terbaik bangsa di I-4 dalam proyek pendidikan, manajemen tata kota dan lain sebagainya, rasa kebanggaan dari I-4 sebagai tanah kelahiran dilibatkan dalam pembangunan nasional.

Apa bentuk dukungan yang organisasi harapkan dari pemerintah (dari segi regulasi maupun program kegiatan)?

Mudah-mudahan dari elemen pemerintahan bisa melihat seperti apa program I-4 dan sudah sejauh mana kegiatan berjalan untuk terus berbagi ilmu pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat Indonesia secara luas tidak hanya di dalam negeri maupun di luar negeri (diaspora). Mengenai dana bantuan itu nanti tergantung kesepakatan seperti apa, tapi yang jelas kita diberikan kesempatan untuk duduk bersama dengan elemen pemerintahan untuk bertukar pikiran seperti apa yang akan kita lakukan itu sudah sangat baik.

Apa pula bentuk support yang akan organisasi jalankan demi terciptanya hubungan mutualistik ini?

Karena I-4 belum ada undangan resmi dari elemen pemerintahan untuk bisa berdiskusi bersama untuk menyampaikan dukungan organisasi seperti apa. Sementara waktu I-4 masih melakukan kegiatan-kegiatan yang rutin dilaksanakan. I-4 akan memberikan dukungan dari berbagai bidang yang diperlukan mulai dari pendidikan, ekonomi, tata kota dan lain sebagainya yang diperlukan pemerintahan. Tapi yang paling kita inginkan dalam waktu dekat adalah dari sisi pendidikan dan tata kota. Karena pendidikan merupakan pilar utama untuk menciptakan generasi yang cerdas baik dari moral maupun ilmu pengetahuannya. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)