5 Tren Kompensasi & Benefit

Kebijakan kompensasi dan benefit terus berubah dari waktu ke waktu. Selalu ada penyempurnaan untuk mendorong produktivitas karyawan. Mereka yang bekerja melebihi ekspektasi juga mendapatkan kompensasi dan benefit yang lebih baik.

Praktisi Human Resource (HR), Budy Purnawanto, mengatakan ada 5 tren kompensasi dan benefit. Pertama, adalah fixed pay ke variable pay. Artinya, tidak ada karyawan yang mendapat penghasilan berupa gaji, bonus, dan fasilitas lain yang sama satu sama lain. “Variable pay yang dimaksud terdiri dari berbagai pilihan. Porsi variabelnya pun lebih diperbesar,” kata dia.

Kedua, pemberian gaji yang tidak lagi berdasarkan posisi atau jabatan, tapi pada kompetensi personal. Semakin spesifik keahliannya, akan semakin mahal gajinya. Contoh, seorang tukang bangunan yang baru bisa menata batu akan menerima bayaran yang lebih rendah daripada tukang yang sudah bisa instalasi listrik. “Dengan sistem ini, kompetensi dan keahlian karyawan akan semakin dihargai,” katanya.

Ketiga,  lebih fleksibel. Tak hanya pada jam kerja, pemberian bonus atau fasilitas kepada karyawan juga kini lebih fleksibel. Misalnya, fasilitas kendaraan. Karyawan bisa memilih fasilitas mobil kantor, atau mobil pribadinya di rental oleh perusahaan, atau memilih diberi uang tunai. “Terserah karyawan naik kendaraan umum, kereta, atau sepeda ke kantor,” katanya.

budy purnawanto Tigaraksa Budy Purnawanto, Praktisi HR: "Untuk menjaga talent tetap setia dengan perusahaan, office politics pastinya diharamkan di semua kantor."

Keempat, adalah diferensiasi. Perusahaan akan memetakan dan membedakan antara satu karyawan dengan yang lain berdasarkan kinerjanya. Untuk mereka yang punya performa di atas rata-rata, perusahaan akan memberi kompensasi dan benefit yang berbeda dengan karyawan lain yang kinerjanya biasa-biasa saja.

“Kelima, adalah keadilan sosial sesuai kebijakan pemerintah, seperti standar gaji minimal UMP, asuransi kesehatan BPJS, dana pensiun. Pengusaha harus ikut,” ujar dia.

Untuk menjaga talent tetap setia dengan perusahaan, lanjut dia, office politics pastinya diharamkan di semua kantor. Tidak ada promosi jabatan berdasarkan kedekatan dengan atasan karena semuanya berdasarkan pada kinerja dan kebutuhan perusahaan. Perusahaan harus melihat talent berdasarkan kinerja dan kompetensinya. “Jadi, diri mereka sendiri yang menentukan, apakah layak untuk dipromosikan atau tidak. Nasib karyawan ditentukan dirinya sendiri,” katanya.

Dia menambahkan, perusahaan juga mesti jeli menawarkan peluang karier dan pengembangan diri lebih banyak agar karyawan lama tidak tergoda tawaran dari perusahaan lain. Rumput tetangga memang lebih hijau. Karyawan baru juga rentan pindah kantor jika lingkungan kerjanya tidak cocok.

“Perusahaan harus menyediakan lingkungan kerja yang nyaman agar karyawan merasa rugi meninggalkan perusahaan,” katanya. (Reportase: Syukron Ali)

Tags:
Survei Gaji

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)