500 Ribu Orang Nikmati Buah Karya Wanita Listrik

Listrik adalah kebutuhan pokok masyarakat. Banyak hal tidak dapat dilakukan tanpa listrik. Di saat yang sama, Indonesia memiliki potensi air yang luar biasa. Inilah yang memantik ide Tri Mumpuni dan suaminya, untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga mikrohidro. “Total (pembangkit listrik mikrohidro yang sudah terbangun) ada di 85 lokasi. Total (investasi) sekitar Rp 160-200 miliar,” kata Tri, selaku Direktur Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA).

Saat ini, lanjut dia, yang beroperasi hanya sekitar 85%. Ada banyak faktor yang memicu pengurangan. Seperti, masuknya PLN untuk mengaliri listrik ke suatu daerah. Keberadaan pembangkit listrik mikrohidro biasanya langsung dimatikan seiring kedatangan BUMN setrum tersebut.

Tri Mumpuni Iskandar Executive Director IBEKA

“Faktor lainnya, biasanya, air setelah 10 tahun berkurang karena hutan sebagai tangkapan air di hulu rusak,” terangnya.

Wanita berjilbab yang telah membuat sekitar 61 desa terpencil yang awalnya gelap gulita menjadi terang benderang menjelaskan, masyarakat perlu dilatih agar mampu merawat dan mengoperasikan pembangkit listrik racikannya. Sehingga, pembangkit yang telah susah-payah dibangun tidak sia-sia atau dibiarkan rusak tidak terawat.

“Semua diserahkan ke masyarakat. Mereka menjalankannya melalui Koperasi Listrik Desa, kecuali ada satu di Aceh yang dijalankan oleh BUMDes (badan usaha milik desa),” papar Tri.

Dia menambahkan, listrik yang dihasilkan ada yang langsung dinikmati penduduk dan dioperasikan sendiri. Tetapi, ada juga yang dijual ke PLN. Pertama kali, tahun 1999 silam dijual seharga Rp 112/kwh. Pada tahun 2002 naik menjadi Rp 436/kwh hingga tahun 2010 menjadi Rp 565/kwh. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)