Accenture: Tak Semua Pebisnis Paham Makna Digital

Presiden Joko Widodo telah mencanangkan pengembangan ekonomi digital. Hanya saja, masih banyak pelaku bisnis yang belum memahami makna digital secara keseluruhan. Banyak pelaku usaha yang menganggap bahwa digital sama dengan hadir di online.

“Perlu dipahami, ekonomi digital bukan hanya e-commerce. E-commerce hanya sebagian dari ekonomi digital. Pebisnis harus dapat menyusun strategi yang bisa mempercepat pertumbuhan,” kata Prihadiyanto, Managing Director, Accenture Indonesia.

Berdasarkan penelitian Accenture dan Frontier Economics, penggunaan digital, termasuk Internet of Things (IoT), bisa menambah triliunan dolar AS ke ekonomi global pada 2030 mendatang. Hanya saja, asumsi itu bisa terwujud jika para pelaku usaha menyusun strategi penggunaan digital pada 2016 dan menerapkannya di tahun berikutnya.

Prihadiyanto, Managing Director Products Lead Accenture Indonesia

“Untuk Indonesia, drivers pertumbuhan bisnisnya adalah jumlah penduduknya yang besar. Jumlah penduduk yang semakin banyak di tingkat ekonomi menengah, lebih mudah, akan mendorong pertumbuhan daya beli dan daya saing,” kata dia.

Ambil contoh, aktivitas para millenials di industri pariwisata. Dari data Accenture, para millenials yang mewakili 45% penduduk Asia-Pasifik jika ingin menentukan liburan menggunakan TripAdvisor, booking tiket pesawat dan hotel via online, menentukan arah bepergian dengan Google Maps, dan meng-upload foto dan cerita di FB, IG, Twitter, dan video di YouTube.

“Bila tulisan di blog mereka mendapat perhatian dari teman-teman konsumen lain, industri turisme dan pendukungnya rela untuk membayar mention fee atau memberi hadiah dengan gimmicks atau voucher layanan,” kata dia.

Jadi, peluang bisnis di ranah digital sangat terbuka lebar di Indonesia dengan jumlah penduduk yang begitu besar. Sayangnya, lanjut dia, masih banyak pengusaha yang belum menyadari pentingnya menyusun strategi digital.

“Tak hanya e-commerce, ada banyak hal lain yang bisa diterapkan yakni analytics, proses bisnis, shared services, dan inovasi lain seperti penerapan fintech dan inklusi finansial,” ujarnya.

Prihadiyanto menjelaskan, kuncinya adalah agility, yakni siap bergerak cepat dan selalu berubah. Untuk itulah diperlukan pengelolaan sumber daya manusia yang bagus untuk mencapai tingkat agility yang dinginkan. Sumber daya manusia yang bersifat statis bisa membatasi diri dalam dunia digital.

“Pemimpin SDM harus mencari karyawan dengan kemampuan yang lebih fleksibel. Dan lebih mengerti prioritas bisnis dan kompetisi yang dinamis. Salah satunya, dengan memecah jebakan silo antara fungsi teknis dan bisnis,” kata dia.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)