Ada Bonus Kesetiaan di Bakrie Sumatra Plantations

Tak banyak orang yang tertarik bekerja di industri perkebunan. Selain jauh dari “peradaban” karakteristik industri ini juga lebih konservatif. Strategi kompensasi dan benefit harus dibuat menarik dan kompetitif. Salah satunya, adalah bonus kesetiaan yang rutin dibayarkan setiap tahun di muka.

“Tidak semua karyawan mendapatkan ini, hanya orang-orang tertentu yang kami anggap harus dipertahankan atau talent potensial,” kata M. Awaludin Syafri, Senior Manager HR Development Division Head Bakrie Sumatra Plantations Tbk.

Menurut dia, itu bisa menjadi pemanis di tengah lesunya perekonomian seperti saat ini. Para karyawan potensial alias talent tetap merasa diperhatikan. Dengan begitu, loyalitas mereka kepada perusahaan pun tetap terjaga.

Untuk pekerja di perkebunan yang sekitar 40%-nya berusia di atas 40 tahun, lanjut dia, perusahaan tetap menjaga kultur. Apa itu? Tidak merekrut manager dari luar tetap dari management trainee, yakni program khusus untuk mendidik generasi penerus.

“Saat ini, sudah ada 11 angkatan management trainee. Jumlah ini lebih banyak dibanding perusahaan perkebunan yang lain,” katanya.

M. Awaludin Syafri, Senior Manager HR Development Division Head Bakrie Sumatra Plantations Tbk.

M. Awaludin Syafri, Senior Manager HR Development Division Head Bakrie Sumatra Plantations Tbk.

Untuk mengantisipasi lesunya perekonomian, terutama saat harga komoditas anjlok seperti sekarang, menurut dia, Bakrie Sumatra Plantations telah melakukan pemetaan struktur tenaga kerja dengan kondisi perkebunan terkini. Struktur tenaga kerja dibagi dua yaitu staf sebanyak 750 orang dengan level supervisor ke atas dan nonstaf sekitar 10 ribu yang bekerja di kebun.

“Untuk nonstaf kami buat fleksibel menyesuaikan kebutuhan produksi. Saat ekonomi tengah lesu, beberapa jabatan akan dirangkap satu orang. Jika produksi kebun rendah, mau tidak mau kami harus cut karyawan,” ujar dia.

Perusahaan memang harus menyesuaikan produktivitas kebun. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah karyawan di kebun terus menurun. Jumlah karyawan di kebun sempat mencapai 17 ribu orang. Seiring penurunan luasan lahan, mau tidak mau perusahaan harus melakukan efisiensi.

Perusahaan mengacu pada angka yield perhektar. Dengan kata lain, jumlah produksi dalam setahun yang dapat dihasilkan setiap hektarnya. Saat ini, standar di pasar adalah 18 ton perhektar pertahun. Namun, Bakrie Sumatra Plantations mengacu pada angka di bawah itu.

“Sekarang, kami mengelola lahan seluas 78.000 hektar dengan komoditas kelapa sawit dan karet yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Kami fokus ke produktivitas yang sifatnya strategi operasional,” ujar dia.

Untuk meningkatkan efisiensi biaya HR, lanjut dia, perseroan tidak menerapkan strategi buying talent. Waktu promosi sudah disesuaikan dengan kebutuhan sumber daya manusia yang telah dipetakan. Dengan kata lain, Divisi HR sudah memiliki rencana pengelolaan sumber daya manusia untuk 10 tahun ke depan.

Kebijakan kompensasi dan benefit di industri perkebunan terikat dengan kebijakan di masing-masing daerah. Contoh, perusahaan harus membayar bonus 3 kali gaji untuk staf nonstaf dalam setahun untuk perkebunan yang berlokasi di Sumatera. Saat kondisi sulit pun, mereka harus tetap melakukannya.

“Namun, kami menyiasatinya dengan tidak membayarkan dalam satu waktu tetapi di waktu yang berbeda, misalnya saat anak masuk sekolah, THR, dan akhir tahun,” ujar dia. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Semester 1, Laba Bersih Jasa Marga Rp 925 Miliar

Perusahaan pelat merah, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, berhasil membukukan total laba bersih sebesar Rp 925 miliar pada semester I...

Close