Adira Finance Bidik Pembiayaan Rp 36 Triliun

Kondisi ekonomi domestik diprediksi akan jauh lebih baik pada tahun ini. Optimisme itu muncul dari mulut Direktur Utama Adira Finance, Willy Suwandi Dharma. Beragam paket kebijakan telah dikeluarkan pemerintah. Bank Indonesia pun telah menurunkan suku bunga acuan (BI rate) untuk memacu roda perekonomian.

“Tahun ini, ekonomi akan jauh lebih baik. Harga kendaraan bermotor memang bakal naik. Tapi, masyarakat membutuhkan mobilitas tinggi. Mereka pasti membutuhkan kendaraan,” katanya.

Tahun lalu, Adira Finance berhasil menggelontorkan pembiayaan untuk kendaraan bermotor hingga Rp 30,5 triliun. Pembiayaan sepeda motor dan mobil hampir sama jumlahnya namun tentu jumlah unitnya berbeda.

Untuk tahun ini, Adira Finance menargetkan pembiayaan kendaraan bermotor sebesar Rp 35-36 triliun. Dibandingkan dengan membeli secara tunai, opsi membeli secara kredit akan lebih banyak dipilih. Uang yang tersisa bisa dimanfaatkan sebagai modal usaha atau kegiatan produktif lainnya.

“Melihat prediksi yang positif dari banyak kalangan tentang perekonomian Indonesia tahun 2016, kami berani menargetkan nilai sebesar itu. Dengan pertumbuhan yang lebih baik, harapannya kami bisa menyalurkan pembiayaan lebih banyak,” katanya Willy usai Grand Launching Adira Finance Corporate University di Jakarta.

Direktur Utama Adira Finance, Willy Suwandi Dharma (kanan) Direktur Utama Adira Finance, Willy Suwandi Dharma (kanan)

Pada tahun ini, perseroan masih mengandalkan pendanaan dari kredit perbankan dengan skema joint financing. Porsinya sekitar 40-45%. Selain itu, ada juga obligasi dan pinjaman dari luar negeri untuk menyeimbangkan pinjaman dalam denominasi rupiah dan dolar AS.

Selain kendaraan bermotor, Adira Finance juga mengincar pembiayaan nonotomotif. Seperti pembiayaan elektronik yang selama ini telah berjalan. Ada juga pembiayaan multiguna dengan agunan kendaraan bemotor seperti pendidikan, pariwisata, dan lain-lain.

Ke depan, perseroan juga mulai mengembangkan pembiayaan multiguna dengan agunan lain di luar kendaraan bermotor, misalnya rumah. Dalam tiga tahun mendatang, perseroan menargetkan porsi pembiayaan nonkendaraan bermotor mencapai 30% dari total pembiayaan.

“Kami juga mengembangkan pembiayaan lain seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan pembiayaan untuk industri penunjang sektor energi untuk mendukung program pemerintah,” katanya.

Namun, perseroan harus lebih dulu menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten agar pembiayaan yang disalurkan lebih efektif dan tidak menjadi macet. Sebagai bisnis baru, risiko pembiayaan jelas lebih besar sehingga perseroan mesti berbenah dari segi infrastruktur dan SDM.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)