Arief Yahya: Kembangkan Konsep "Great" untuk Kejar 1 Juta Wisman/Bulan

Siapa tak kenal tagline berikut: Malaysia, Truly Asia. Begitu indahnya sampai para wisawatan mancanegara lupa kalau keindahan alam Indonesia jauh lebih memesona. Inilah fokus utama pemerintahan saat ini, bagaimana mengembangkan sumber daya alam daerah unggulan.

Konsep branding-nya pun dibuat semenarik mungkin. Ada Great Bali, Great Jakarta, dan Great Batam. Sejauh mana tingkat kesuksesan branding dan kaitannya dengan tingkat daya saing industri pariwisata di tingkat global. Berikut petikan wawancara Tim SWA yang terdiri dari Kemal E. Gani, Joko Sugiarsono, Sudarmadai, Fardil Khalidi dan Wisnu T. Raharjo dengan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya.

Bagaimana pertumbuhan pariwisata kita jika dibandingkan dengan dunia?

Indonesia tumbuh 7,2%, memang melampaui pertumbuhan dunia yang hanya 4,7%. Tapi, dalam bisnis tidak boleh begitu, kita harus tumbuh lebih tinggi daripada main competitor kita, seperti Malaysia. Malaysia tumbuh 9,5%. Berita baiknya, kalau kita rata-ratakan, mulai Januari sampai dengan November (per bulan) 2014 mencapai 775 ribu (kunjungan wisman). Kalau dikalikan 11 kira-kira berarti ada 8,5 juta wisman. Nah, untuk Desember mencapai 915 ribu. Itu angka psikologis pertama yang kita capai. Kalau main di bisnis saya rasa perlu angka psikologis.

Maksudnya angka psikologis?

Saya memang targetkan 900 ribu, karena saya tidak mau menetapkan apa yang tidak bisa saya capai. Ini kaitannya dengan self confidence, terutama buat karyawan. Kalau dia melihat pemimpinnya bisa mencapai target, maka akan timbul motivasi. Kalau nabi-nabi kan mesti memperlihatkan mukjizatnya, baru pengikutnya percaya. Ini titik awal. Milestone berikutya adalah 1 juta (kunjungan wisman per bulan). Saya sudah tetapkan itu terjadi di bulan Juli 2015.

Yang dilakukan apa kok bisa tembus angka psikologis sebesar itu?

Konsep great. Konsep great ini penting dan perlu dimunculkan, karena branding itu sangat mahal. Prioritasnya, Great Bali, Great Jakarta, dan Great Batam. Tiga pintu utama ini sudah menyumbang (wisman) di atas 90%. Sudah lebih besar daripada pareto. Poinnya, utamakan yang utama. Saya rasa semua bisnis juga seperti itu. Nah kalau kita tidak megerti portofolio ini akan sangat berbahaya. Anda bisa bayangkan, kalau Jakarta tidak saya “great”-kan, maka kita menjual sendiri Cianjur, Puncak, Sukabumi, atau Banten. Betapa mahalnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya Menteri Pariwisata Arief Yahya

Cukup menarik ide “utamakan yang utama”. Lalu bagaimana dengan yang lain karena Anda cenderung ke Batam, Jakarta, dan Bali?

Saya bisa membuktikan, konsep great ini akan jadi. Yang lain kita garap atau tidak? Ya tentu saja (digarap). Kalau saya diprotes, saya jawab saya mengerjakannya secara proporsional. Itu kata-kata yang tidak diprotes. Tetap dikerjakan, tapi proportionally ha..ha..ha..

Selain ketiga great tadi, bagaimana dengan pengembangan daerah wisata lainnya semisal Jogja dan sekitarnya?

Kemarin saya bahas bahwa (Great) Jogja itu aneh. Ada sesuatu yang salah di Jogja. Jogja punya Solo, Candi Prambanan, Candi Boko, Candi Borobudur, yang menandakan budayanya hebat. Tap, wismannya sedikit. Memang ada yang dari Bali, tapi kan istilahnya itu diselingkuhi. Kita bandingkan, kuil Angkor Wat itu pengunjungnya 2 juta/tahun. Dari segi keindahan dan sebagainya, minimal Borobudur tidak kalah. Itu yang harus kita bedah.

Ada kemungkinan disconnected. Kalau Bali bagus itu karena terintegrasi. Agama, tourism, dan budaya, jadi satu. Begitu juga dengan Angkor Wat. Saya sudah ketemu dengan teman-teman dari ATF, termasuk dari Myanmar dan Thailand. Mereka beranggapan Borobudur itu seperti Madinah-nya orang Buddha. Dan ingat orang China dan Myanmar itu agama mayoritasnya Buddha. Kita punya potensi untuk attract mereka ke situ.

Mungkinkah selama ini ada ego antar-daerah? Misalnya, Jogja dan Solo tidak ada integrasi. Bagaimana menyelaraskannya?

Ya, itu hal yang paling berat. Kalau tidak mau (bersatu) ya saya tidak mau bantu. Ketika saya ke Cianjur, saya bilang Cianjur akan saya jual atas nama Jakarta. Kalau nggak mau ya nggak saya bantu. Saya orang marketing tahu betapa susahnya. Jangankan Cianjur, brand Indonesia saja masih banyak (orang asing) yang tidak tahu. Indonesia bahkan kalah namanya sama Bali.

Ini sama saja dengan brand telkomsel (yang notabene anaknya Telkom), yang lebih besar daripada brand Telkom. Jadi, betapa mahalnya sebuah brand.

Jadi, untuk strategi branding-nya bagaimana?

Yang dipakai sebagai national branding adalah Wonderful Indonesia, atau untuk lokalnya Pesona Indonesia. Untuk Jakarta, misalnya branding-nya menjadi Enjoy Jakarta by Wonderful Indonesia. Ini sudah ada Kepmen-nya. Di daerah lain, bisa menggunakan “Pesona + nama kota” itu. Contohnya, Pesona Jogja by Wonderful Indonesia. Sebab, branding itu sangat mahal. Tahu Nestle? Begitu ada produk baru “by Nestle” langsung selesai urusannya (laku).

Bagaimana alokasi anggarannya?

Untuk promosi internasional, alokasi anggarannya: branding 50%, advertising 30%, dan selling (termasuk pameran) 20%. Kalau selling itu sebenarnya yang melakukan player, kami hanya memfasilitasi seperti pameran seni rupa di Venice (La Biennale). Kalau branding, kami yang lakukan, dengan porsi 75% ke wisman, dan 25% ke wisnu.

Saya sudah bertemu dengan Discovery Channel, CNN dan Google. Dari 300 juta orang turis mancanegara, yang mengetik tourism atau travel “South East Asia” dan datang ke Indonesia itu cuma 10%. Kebanyakan ke Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan Filipina. Saya sudah bilang ke Country Manager mereka, itu bisa dimainkan. Pokoknya kalau nanti mereka mencari apapun tentang travel Asia tolong arahkan ke Indonesia.

Porsi branding itu, 70% lewat digital marketing. Untuk konvensional kita masih pakai media TV, radio, dan printed media. Orang dari (negara) China tahu Indonesia itu dari media sosial. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)