Agar Barito Pacific Tidak Bertumpu pada Petrokimia Saja

Didirikan sejak tahun 1979,  PT Barito Pacific Tbk. dikenal sebagai salah satu pionir di bidang pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan menerapkan cara pengolahan hutan yang berkelanjutan.

Perusahaan yang awalnya bernama PT Bumi Raya Pura Mas Kalimantan itu dalam perjalanannya berkembang menjadi  holding company dari beberapa anak perusahaan. Sebut saja PT Chandra Asri Petrochemicals Tbk.(CAP) , bidang petrokimia berlokasi di Cilegon;  bidang properti, Griya Tirta Asri berlokasi di Jakarta dan Cikupa; bidang perkebunan sawit di Kalimantan Barat, dan pengolahan kayu di Kalimantan Selatan.

Lini bisnis dengan pertumbuhan paling pesat adalah petrokimia yang menyumbang kontribusi bagi Barito sebesar 98%. Menurut Presiden Direktur PT Barito Pacific Tbk., Agus Salim Pangestu, faktor yang mendorong penjualan meroket pada bisnis petrokimia adalah peningkatan permintaan pasar domestik atas produk olefin dan polyolefin yang diproduksi CAP. “

"CAP merupakan perusahaan petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Saat ini CAP menguasai pangsa pasar domestik sebesar 45%,” tambahnya. Melihat potensi tersebut, CAP melihat peluang untuk meningkatkan produksi guna memenuhi permintaan domestik.

Di tahun 2005-2010, Barito Pacific melakukan ekspansi untuk pre-introduction of the group setelah krisis yang melanda Indonesia. Namanya kembali dikenal pasar, di saat itu pula Barito Pacific mengambil langkah besar untuk berekspansi lebih luas.

Setelah Temasek menjalin kemitraan di tahun 2005, Siam Cement Group (SCG) ikut bergabung di tahun 2010 sebagai pemain di industri petrokimia. Bagi Agus, kemitraan bersama SCG memberikan teknologi dan pendanaan sehingga manajemen Barito Pacific bisa memperoleh dana murah.

Pengembangan usaha selanjutnya dilakukan untuk kurun waktu 2010-2015 dengan menambah bisnis kelapa sawit seluas 10 ha sebesar Rp1 triliun. Tak hanya itu, bisnis energi panas bumi untuk menjaga stabilitas finansial dan pertumbuhan penjualan dilakukan Barito Pacific. “Upaya diversifikasi bisnis di sektor energi dilakukan dengan berencana mengakuisisi Star Energy Group, perusahaan panas bumi terbesar di Indonesia yang berkapasitas 875 MW. Perusahaan ini juga menjadi peringkat ketiga terbesar dunia untuk sektor geothermal,” ujar Agus.

Diprediksi tahun 2017,  Barito Pacific akan menuai kenaikan kinerja yang terindikasi dari pendapatan pada semester I/2017 sebesar Rp16,31 triliun. Jumlah ini naik 35% dari periode yang sama tahun sebelumnya, yakni Rp12,05 triliun. Laba periode berjalan yang didistribusikan kepada entitas induk pun melonjak 35,51% atau menjadi US$ 66,81 juta dari US$ 49,30 juta. Perusahaan menargetkan pendapatan di tahun 2017 naik 20-15% dari tahun lalu.

Manajemen berusaha serius untuk bisnis energi baru dan terbarukan seiiring dengan rencana mengambil alih Star Energy Group Holding Pte. Ltd. dan mendirikan anak usaha baru di bidang pembangkit listrik.

“Barito Pacific pada September tahun ini telah membeli saham perusahaan panas buni, PT Derajat Geothermal Indonesa dan PT Star Energy Geothermal Suoh Sekincau. Selain itu, Agustus lalu juga telah diumumkan juga anak usaha baru, PT Indo Raya Tenaga, hasil join dengan PT Indnesia Power untuk menggarap proyek pembangkit listrik Jawa 9 dan Jawa 10,” ungkapnya.

Strategi bisnis diversifikasi yang dilakukan ini melebarkan bisnis Barito Pacific agar  memiliki kontribusi besar dari anak perusahaan lain. Alhasil, nantinya tidak hanya bertumpu dengan produk petrokimia CAP.

 

Reportase: Yosa Maulana

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)