Agar Dokter Tak Kalah Bersaing dengan Google

Apa yang Anda lakukan saat merasakan badan dalam kondisi tidak sehat? Ternyata bagi sebagian besar orang di era serbamodern ini, jawabannya bukan segera pergi ke dokter, melainkan cepat-cepat membuka Google.

Fakta menarik ini seperti diungkap Onbee Reasearch usai melakukan riset terhadap 2917 responden di tujuh kota besar di Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan dan Denpasar.

“Dengan semakin maraknya digital mobile yang digunakan masyarakat, jangan heran jika nantinya kompetitor dokter bukan sesama dokter, tapi mesin pencari. Hal itu sudah terjadi, orang sakit yang pertama kali dituju adalah Google,” ujar CEO of Onbee Reasearch, Sumardy, di Jakarta, Selasa (7/5).

Digital mobile sangat berpengaruh terhadap industri kesehatan. Pasien mungkin nantinya tak perlu membawa hasil CT scan ke satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya, karena digital mobile bisa memfasilitasi itu. “Jadi bisa dibayangkan bagaimana teknologi ini bisa membuat ekosistem di industri kesehatan bisa lebih efisien,” katanya.

Sayangnya, di sisi lain digital mobile juga bisa menjadi ancaman bagi dokter dan rumah sakit. Layanan yang kurang baik, komunikasi yang kurang baik akan dengan mudah di-share di internet, bisa cepat menyebar melalui media sosial. “Saat ini kalau di klik di Google, informasi yang tersedia tentang rumah sakit justru berisi hal-hal yang negatif,” katanya.

Untuk meminimalisir dampak negatif tersebut, maka dokter dan rumah sakit harus bisa memaksimalkan kegunaan digital mobile. Mungkin suatu saat rumah sakit bisa bekerjasama dengan operator seluler, disediakan layanan konsultasi 24 jam melalui mobile phone.

Selama ini jika sumber pendapatan terbesarnya rumah sakit berasal dari perusahaan farmasi, mungkin ke depannya revenue itu bisa langsung dari pasien bekerjasama dengan operator seluler.

“Misalkan pasien jantung yang mengalami sakit di dadanya bisa langsung konsultasi ke dokter via mobile, kemudian biaya konsultasi itu di-charge sebagai keuntungan rumah sakit,” jelas Sumardy.

Dokter-dokter juga mungkin ke depan punya aplikasi mobile sendiri, bisa langsung berinteraksi, membuat video-video edukasinya sendiri. Jadi masih banyak peluang yang bisa digali dari pertumbuhan digital mobile yang sangat pesat. (EVA)

 

Leave a Reply

1 thought on “Agar Dokter Tak Kalah Bersaing dengan Google”

Opini ini menarik. Saya percaya orang yang memiliki akses ke internet akan mencari informasi tentang kesehatan di google lebih dulu, karena cepat, dan gratis. Tapi apabila seseorang itu memiliki relasi dokter yang dapat diakses 24 jam, misalnya keluarga atau teman dekat, mungkin dokter tersebut yang akan dihubunginya lebih dulu. Karena cepat, informasinya lebih terpercaya, dan tentunya gratis. :) Hal ini baik, karena berarti perilaku "health-seeking" sudah popular di Indonesia. Ketika sakit, mencari pertolongan supaya sehat. Sayangnya, informasi yang didapat dari beberapa tempat, misalnya blog, tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, apalagi yang ditulis oleh orang-orang yang latar belakang pendidikannya bukan di bidang kesehatan dan tanpa referensi yang jelas. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih sumber informasi. Frase "persaingan dokter dan google" tidak dapat saya sepakati, karena saya pikir tidak ada unsur kompetisi di sini. Google justru membantu dokter untuk memperkenalkan blog atau situsnya. Melalui google (dan berbagai sosial media), orang bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan dari dokter secara gratis, bahkan tak jarang yang memberikan layanan konsultasi. Informasi tentang kesehatan yang akurat akan memperkaya pengetahuan masyarakat. Hal ini dapat meningkatkan "health-awareness" di masyarakat, sehingga diharapkan derajat kesehatan di Indonesia dapat meningkat. Bukankah itu tujuan seorang dokter: membuat masyarakat hidup sehat? Salam, Thareq Barasabha, S.Ked. dr.
by thareq, 11 May 2013, 09:30

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)