AIPI Fokus Memajukan Pertumbuhan Ilmu Pengetahuan Indonesia

rsz_2aipi

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) tengah menjaring ratusan ilmuwan muda Indonesia guna dikembangkan potensinya. Salah satunya adalah dengan mengirimkan ke negara tetangga, seperti halnya program pengayaan sains ke Australia sebagai bagian dari Indonesia Science Agenda.

Tujuan dari program kerja sama antara Sekretariat Negara dengan AusAid ini adalah untuk menciptakan pertumbuhan ilmu pengetahuan di Indonesia, di mana salah satu pilar utamanya adalah dengan membangun kompetensi manusianya. Caranya, mendorong curiosity mereka untuk menggali pengetahuan sebanyak mungkin yang nantinya dapat diimplementasikan di berbagai aspek di Indonesia.

“Kami masih perlu banyak input dari negara – negara tetangga, terutama untuk mendorong pertumbuhan di sektor – sektor substansial seperti agriculture, real security, ecology changing, marine content, biotechnology, hingga natural disasters,”  kata Prof. Jamaludin Jompa, Guru Besar Universitas Hasanuddin, yang memiliki spesialisasi marine content ini.

Penggalakan pertumbuhan ilmu pengetahuan, menurutnya juga tidak bisa ditolerir. Alasannya adalah karena hal tersebut sangat erat kaitannya dengan segala konten kenegaraan, seperti ekonomi, sosial, dan ke-pemerintahan, komputasi, food & energy, tata kota, serta kesehatan.

“Kita harus memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk keluar menjadi negara yang berkembang. Jangan malah terjebak di dalam middle income trap,” tambah Prof. Jamal.

Sementara itu, Sangkot Marzuki, Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, berkaca pada survei McKinsey di mana 40% faktor penentu pertumbuhan suatu negara, lahir dari inovasi, yang juga tidak terlepas dari ilmu pengetahuan. Sebaliknya, jika tidak dapat mengembangkan ilmu pengetahuan, Indonesia akan selamanya menjadi objek pasar. “Jika itu terjadi, maka kita bisa menjadi independent dalam memecahkan masalah sendiri, atau bahkan memberikan solusi untuk masalah negara tetangga,” katanya.

Adapun kondisinya saat ini, Indonesia masih jauh tertinggal dari negara – negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand. Menurut Marzuki, hal ini dikarenakan expense dari pemerintah untuk mengembangkan ilmu pengetahuan masih minim. Misalnya saja dibandingkan dengan Swedia yang memiliki rasio sebesar 3.5, Indonesia masih berada di titik 0.08.

Ditambah lagi dengan belum adanya lembaga independen yang menangani pendanaan untuk pengembangan ilmu pengetahuan, membuat Indonesia masih tertinggal. “Ke depannya kami akan bekerja sama dengan berbagai pihak, pemerintah melalui kementerian Riset dan Teknologi, juga dengan akademisi,” tambah Marzuki. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)