Alat Berat dan Tambang Selamatkan Bisnis Astra

Seperti yang sudah diketahui, bisnis otomotif adalah kontributor terbesar dalam portofolio PT Astra International Tbk, yakni sekitar 47%. Namun,  daya beli masyarakat yang masih lesu dan melemahnya Rupiah mengakibatkan segmen otomotif masih belum menunjukkan kinerja yang baik.

Dalam konferensi pers yang gelar usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Kuartal I/2018 di Jakarta (25/4/2018), Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk, Prijantono Sugiarto, mengungkapkan ada dua segmen mengalami penurunan kinerja cukup signifikan, yaitu otomotif dan agribisnis.

Data dari laporan keuangan kuartal I/ 2018 yang dikeluarkan pada saat RUPS tersebut, diketahui laba bersih dari segmen otomotif yang diatribusikan kepada induk perusahaan menurun dari Rp 2,28 triliun pada kuartal I tahun 2017 menjadi Rp 2,10 triliun tahun 2018, atau menurun 8% QoQ.

Segmen agribisnis pun mengalami penurunan kinerja signifikan. Segmen yang berjalan dengan bendera PT Astra Agro Lestari (AALI), itu mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada induk perusahaan turun 55% QoQ. Pada tahun 2017, laba bersih AALI tercatat Rp 629 miliar, menurun menjadi Rp 283 miliar pada tahun 2018.

Meski demikian segmen bisnis alat berat dan tambang justru tampil dengan kinerja yang bagus di kuartal I 2018 ini. Laba bersih dari segmen ini naik 68% dari Rp 902 miliar kuartal I /2017 menjadi Rp 1,5 triliun pada kuartal I 2018.

PT United Tractors Tbk (UT), yang 59,5% sahamnya dimiliki oleh perseroan, melaporkan peningkatan laba bersih sebesar sebesar 69% menjadi Rp2,5 triliun. Peningkatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan kinerja bisnis mesin konstruksi dan kontraktor penambangan serta kegiatan pertambangan, sebagai dampak dari peningkatan harga batu bara.

Pada segmen usaha mesin konstruksi, volume penjualan alat berat Komatsu mengalami peningkatan sebesar 38% menjadi 1171 unit, dimana pendapatan dari suku cadang dan jasa pemeliharaan juga meningkat.

PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak perusahaan UT di bidang kontraktor penambangan batu bara, mengalami peningkatan produksi batu bara sebesar 6% menjadi 26,5 juta ton dan kontrak pengupasan lapisan tanah (overburden removal) meningkat sebesar 22% menjadi 2017 juta bank cubic metres. PAMA juga melaporkan peningkatan penjualan batu bara sebesar 36% menajdi 2,6 juta ton.

Selain itu PT Acset Indonusa Tbk (Acset), perusahaan kontraktor umum yang 50,1% sahamnya dimiliki UT, mencatat peningkatan laba bersih sebesar 27% menjadi Rp39 miliar, karena adanya peningkatan pendapatan terutama dari proyek-proyek konstruksi infrastrukturnya.

Secara keseluruhan pendapatan bersih konsolidasian grup meningkat 14% menjadi Rp 55,8 triliun, seiring dengan peningkatan pendapatan terutama berasal dari bisnis alat berat dan pertambangan serta otomotif.

“Kami optimistis akan terus mendapat keuntungan dari harga batu bara yang stabil, sementara persaingan di pasar mobil semakin ketat,” ungkap Prijono.

Laba bersih konsolidasi grup mencapai Rp 5 triliun, turun 2% dibandingkan dengan laba bersih konsolidasian grup pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, nilai aset bersih per saham tercatat sebesar Rp 3.186 pada 31 Maret 2018, naik 4% dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun 2017.

Nilai utang bersih, di luar grup jasa keuangan, mencapai Rp 2,4 triliun, dibandingkan dengan nilai kas bersih Rp 2,7 triliun per 31 Desember 2017. Hal tersebut disebabkan oleh investasi grup dijalan tol, Go-jek dan belanja modal pada bisnis kontraktor penambangan.

Pada 2018 ini, Prijantono mengaku, pihaknya akan mengalokasi belanja modal  sebesar Rp 29 triliun “Ini akan menjadi belanja modal terbesar sepanjang sejarah Astra,” ujarnya. Belanja modal yang cukup fantastis tersebut akan digunakan untuk melanjutkan pembangunan aset dan investasi untuk IT dan digitalisasi.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!