Aneka Bumi Pratama Fokus Bahan Baku Ban

Produk ban tak ada matinya selama masih ada kendaraan bermotor berjalan di muka bumi. Inilah fokus utama PT Aneka Bumi Pratama, yakni memproduksi SIR 10 dan 20, yang merupakan bahan setengah jadi untuk pabrik ban di dalam maupun luar negeri. Sejak berdiri tahun 1987, perseroan telah fokus pada ekspor produk karet setengah jadi tersebut.

“Kami punya 2 pabrik di Palembang dan Jambi serta beberapa cabang untuk pembelian. Produknya untuk jenis SIR 10 dan 20. Total karyawan ada 1943 orang,” kata General Manager ABP, Yudha Munim.

Menurut dia, sekitar 90% produksi diekspor dengan negara tujuan utama, yakni Korea, Jepang, dan Jerman. Sisanya, untuk memenuhi permintaan dalam negeri seperti dari PT Gajah Tunggal Tbk, PT Multistrada Arah Sarana Tbk, dan PT Hankook Tire Indonesia.

“Kualitas senantiasa dijaga. Kualitas permintaan dari pembeli selalu kami penuhi. Berdasarkan informasi dari tim marketing kami, ABP satu-satunya pabrik SIR yang ada di Indonesia yang acceptable untuk semua pabrikan ban,” kata dia.

General Manager PT Aneka Bumi Pratama, Yudha Munim. General Manager PT Aneka Bumi Pratama, Yudha Munim.

Dia menjelaskan, pada tahun 2014, target produksi mencapai 120 ribu ton untuk pabrik di Palembang dan 104 ribu ton untuk pabrik di Jambi. Pada tahun 2015, target dinaikkan menjadi 240 ribu ton untuk kedua pabrik. Namun, tidak berhasil dicapai karena suplai bahan mentah yang sulit, terutama saat kemarau panjang.

“Produksi hingga September 2015 mencapai 1.490 ton. Sedangkan, di tahun 2013 lebih sedikit lagi karena saat itu kami tengah melakukan ekspansi kapasitas produksi,” katanya.

Untuk mengantisipasi kesulitan suplai bahan baku, lanjut Yudha, perseroan berencana memiliki lahan karet sendiri. Pada tahun 2010, mereka sempat mencari lahan karet yang potensial. Sayang, status tanah yang belum bersih (clear) menjadi kendala utama karena bisa menjadi masalah di kemudian hari.

“Saat melakukan survey ke lapangan, diketahui kebanyakan perkebunan karet tumpang-tindih dengan pertambangan. Kebijakan ABP, kondisi overlapping tidak bisa ditolerir. Untuk investasi, kami inginkan yang kondisi aman,” kata dia.

Dia mengharapkan peran aktif pemerintah untuk meningkatkan permintaan di dalam negeri saat situasi di pasar dunia masih belum kondusif. Pelemahan ekonomi global juga membuat industri kendaraan bermotor stagnan. Permintaan ban juga terkena imbasnya.

“Kami sempat mencoba untuk fulkanisir dan juga ada bantalan-bantalan yang dipakai untuk pelabuhan. Karena permintaan belum besar, fokus kami sekarang hanya supply bahan untuk pabrikan ban,” ujar dia. (Reportase: Syukron Ali)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)