Antisipasi Angkasa Pura I Hadapi ASEAN Open Skies 2015

PT Angkasa Pura I bersama dengan Infrastructure Asia menegaskan bahwa pelatihan dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia serta pembangunan infrastruktur aviasi yang mumpuni merupakan faktor kunci bagi Indonesia dalam menghadapi ASEAN Open Skies yang akan mulai diberlakukan di tahun 2015.

ap_400_berita-angkasa-pura-airports-kembali-kirim-20-karyawan-ke-incheon-corporate-communications-b07560b2af1940f49e59b54d35b541d0d8d7eb11ap-i---iaaa-2

ASEAN Open Skies akan memberikan akses lebih luas bagi maskapai-maskapai penerbangan untuk saling beroperasi di wilayah ASEAN. Meskipun demikian, dalam memaksimalkan kebijakan baru ini perlu didukung dengan infrastruktur yang memadai.

Adapun yang menjadi pertimbangan Angkasa Pura I adalah dalam hal seberapa perlu menambah kapasitas penumpang pesawat bila terminal-terminal di bandara sudah penuh sesak, atau menambah kepadatan lalu lintas udara padahal jumlah air traffic controller masih di bawah kebutuhan pasar, atau juga menambah ruang landasan pacu karena pesawat bakal mungkin mengalami kesulitan ketika melakukan pendaratan dan penerbangan.

“Kebijakan ASEAN Open Skies ini akan sangat terasa imbasnya bagi Indonesia yang jumlah populasinya hampir setara dengan populasi di ASEAN,” imbuh Tommy Soetomo, Presiden Direktur PT Angkasa Pura I.

Ia mengatakan bahwa jumlah penumpang terus mengalami peningkatan. Penumpang domestik pada 2011 tercatat mengalami kenaikan sebesar 16,3% dan 18,7% pada 2012. Namun pada 2013 terjadi penurunan hingga separuhnya akibat kenaikan biaya operasional dan penurunan daya beli.

Berdasarkan fakta tersebut, Indonesia sangat membutuhkan pengembangan yang signifikan bagi bandara-bandaranya. "Untuk memiliki infrastruktur bandara yang mampu menjawabkebutuhan pasar, dibutuhkan kerjasama antara pemilik infrastruktur, penyedia jasa teknologi dan para pemilik saham," tutur Tommy.

Sementara itu, Sari Sande Riana, Event Director Infrastructure Asia, mengatakan “Sebagai salah satu pemain di industri infrastruktur, kami memandang ASEAN Open Skies sebagai sebuah langkah yang bijak guna memajukan industri aviasi di Indonesia dan ASEAN. Oleh karena itu, daya saing sangat diperlukan Indonesia untuk meningkatkan industri aviasinya dimulai dari infrastruktur bandara dan perluasan terminal, peningkatan kapasitas Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara internasional dan renovasi bandara di kota-kota besar lainnya di Indonesia.” Bandara Soekarno Hatta sebagai bandara utama tersibuk di Indonesia, mulai tahun 2015 harus mampu melayani 370.000 penerbangan dan 60 juta penumpang setiap tahunnya.

“Kondisi ini jelas membutuhkan investasi baru di bidang infrastruktur penerbangan dalam negeri, tidak hanya Soekarno Hatta namun bandara-bandara kecil di Indonesia Timur yang akan menjadi pasar domestik masa depan,” tutur Sari.

Jika dilihat dari potensi perekonomiannya, Indonesia adalah pasar yang menarik karena memiliki pertumbuhan penumpang global yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara lain yang masih di bawah 5%. Dengan pencapaian ini, bisa dipastikan bandara-bandara di Indonesia akan semakin sibuk melayani penumpang lokal maupun penumpang internasional.

Sedikitnya 14 bandara baru akan dibangun untuk meningkatkan lalu lintas transportasi di kawasan Indonesia Timur yang ditargetkan akan selesai tahun ini oleh Kementerian Perhubungan demi meningkatkan perjalanan jarak pendek transportasi komuter.

Pemberlakuan ASEAN Open Skies yang dimulai tahun 2015 akan meningkatkan jumlah kebutuhan SDM dalam semua bidang yang mampu memfasilitasi berbagai aspek industri penerbangan. Kenyataannya, Indonesia saat ini sedang mengalami defisit SDM penerbangan yang mencakup pilot, pengendali lalu lintas udara dan teknisi. Kebutuhan pilot di Indonesia sepanjang tahun 2011- 2015 mencapai 4.000 orang, sementara sekolah pilot di Indonesia hanya menghasilkan sekitar 1.600 orang pilot, artinya terjadi defisit pilot sebanyak 2.400 orang sampai tahun depan.

Indonesia saat ini memiliki kurang dari 3.000 teknisi dimana diperkirakan lima tahun mendatang, kebutuhan akan mencapai 6.000 teknisi. Dalam hal ini, kebutuhan SDM pengatur lalu lintas udara juga mencapai 2.000 – 2.200 orang dimana saat ini pertumbuhannya hanya sekitar 800 – 1.000 orang per tahun . (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)