ANZ: Waspadai Dua Faktor Pemicu Inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi sepanjang Juli 2015 mencapai 0,93%, lebih tinggi 0,39% dari realisasi inflasi Juni yang hanya 0,54%. Pemicunya adalah kenaikan harga bahan makanan dan transportasi yang terjadi sebelum maupun sesudah perayaan hari Raya Lebaran.

Glenn Maguire, Chief Economist, South Asia, ASEAN & Pacific ANZ menilai inflasi 7,3% (yoy) adalah yang tertinggi pada tahun ini. Siklusnya, inflasi akan terus menurun sepanjang kuartal III dan akan kembali menanjai pada kuartal IV.

Meski begitu, ia mengharapkan pemerintah dan stakeholder terkait mewaspadai kenaikan inflasi yang dipicu badai El Nino. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bencana kekeringan kian meluas dan bisa mengganggu panen raya. Jika banyak sawah gagal panen, harga beras bisa melonjak.

inflasi

Faktor lainnya yang harus diwaspadai, lanjut dia, adalah kenaikan harga barang. Dari laporan keuangan di kuartal II-2015, keuntungan banyak perusahaan besar terpangkas seiring melemahnya perekonomian global maupun domestik serta pelemahan nilai tukar Rupiah.

“Perusahaan kemungkinan menaikkan harga untuk menutup kenaikan biaya operasional akibat melemahnya kurs rupiah. Namun, langkah ini tampaknya berat jika roda perekonomian belum memutar sesuai harapan,” kata dia dalam rilisnya.

Daniel Wilson, Economist, ASEAN & Pacific ANZ mengatakan, data pertumbuhan ekonomi kuartal II-2015 masih dinanti sebelum memerkirakan target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

“Tahun ini, ekonomi masih akan tumbuh moderat sekitar 4,5%. Dengan PDB melemah, inflasi akan mulai menurun, dan defisit current account akan menurun,” ujarnya.

Dia berharap Bank Indonesia melonggarkan kebijakan suku bunga BI Rate pada kuartal IV-2015 jika pasar keuangan stabil setelah penyesuaian suku bunga The Fed. Para dewan gubernur The Fed akan menggelar Federal Open Market Committee pada September mendatang.

Lembaga yang dipimpin Janet Yellen ini belum pernah menaikkan suku bunga sekalipun dalam sembilan tahun terakhir. The Fed tetap menjaga suku bunga di level mendekati nol persen sejak 2008 lalu. Langkah itu dilakukan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat setelah melewat krisis keuangan 2008 dan resesi yang cukup dalam.

Selain menjaga suku bunga di tingkat yang rendah, The Fed juga memberi stimulus moneter dengan menebar uang di pasar. Salah satu caranya, dengan membeli obligasi yang dimiliki perusahaan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)