Apindo Optimis Ekonomi 2016 Membaik

Membaiknya kondisi ekonomi Indonesia sedikit membawa angin segar bagi dunia usaha di Indonesia. Sebelumnya, ekonomi Indonesia pada kuartal kedua mengalami kemerosotan hingga angka 4,67 persen. Di kuartal ketiga, kondisinya mulai membaik di angka 4,73% dan diperkirakan akan terus membaik hingga akhir tahun 2015 nanti.

Selama ini, kondisi ekonomi nasional memang lebih kurang dipengaruhi oleh perekonomian global, antara lain pemulihan perekonomian US dan serta kawasan Eropa, tumbuhnya perekonomian negara berkembang dan emerging countries, serta masih rendahnya harga minyak dunia yang hanya menguntungkan negara pengimpor minyak. Belum lagi kondisi perekonomian Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.

Berdasarkan hal tersebut, APINDO memprediksi perekonomian Indonesia akan tumbuh sebesar 5,5% di tahun 2016. Memang jumlahnya lebih kecil dibandingkan asumsi pertumbuhan RAPBN yakni sebesar 5,8 hingga 6,2%. Namun APINDO memiliki pertimbangan sendiri mengenai prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2016 nanti.

“Di tahun 2016, rebound ekonomi kemungkinan akan terjadi. Namun mesti harus tetap hati hati oleh beberapa hal. Mengenai AS yang akan menaikkan suku bunga, hingga harga minyak bumi masih belum bisa diprediksi. Oleh sebab itu, kami memprediksi perekonomian akan mengalami pertumbuhan yang positif,” ujar Hariyadi, Ketua APINDO.

Tidak hanya itu, kondisi dinamika dalam negeri ternyata cukup berpengaruh terhadap petumbuhan ekonomi di tahun 2016 nanti. Kondisi tersebut antara lain terkait dengan perbaikan konsumsi pemerintah dan investasi dengan mempercepat laju infrastrukutur, perbaikan iklim investasi, serta kestabilan sosial politik. Ketiga hal tersebut mendukung optimisme pertumbuhan Indonesia menuju arah yang lebih baik lagi di tahun 2016.

“Sejauh ini arah pemerintah dalam mendukung pertumbuhan industri Indonesia sudah positif. Mereka mulai memberi perhatian lebih pada percepatan pembangunan infrastruktur seperti jalan tol pelabuhan dan listrik. Demikian pula dengan pengurangan biaya logistik melalui pembenahan sistem logistik nasional. Selain itu penyelesaian eksekusi belanja negara dan paket paket regulasi kebijakan ekonomi diperkirakan akan meningkatkan masuknya investasi ke angka 8,6 hingga 9% karena pengaruh permintaan domestik dan ekspor. Semakin membaik jika kestabilan sosial politik Indonesia terus terjaga,” papar Haryadi.

Johnny Darmawan, Ketua Industri Apindo juga mengapresiasi langkan pemerintah dalam mendukung pertumbuhan industri di Indonesia. “Selama ini, biaya logistik memakan anggaran sebanyak 26% dari PDB. Padahal industri Indonesia dituntut untuk kompetitif . Selama ini Indonesia hanya melihat di komoditas saja. Padahal di negara maju, manufaktur lebih banyak daripada komoditas. Jadi bisa dikatakan bawa saat ini arahnya sudah benar,” ujar Johnny. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)