APLIC Congress 2015, Tempat Bertemunya Praktisi Asuransi Jiwa Asia Pasifik

Asia Pacific Financial Services Association (APFinSA) bekerja sama dengan Financial Planner Association (FPA) Indonesia, akan menyelenggarakan APLIC Congress di Bali Nusa Dua Center pada 23-26 Maret 2015 mendatang. Kegiatan ini terdiri dari kongres, eksibisi dan golf. Ajang APLIC Congress 2015 ini merupakan wadah bagi mereka yang bekerja di industri jasa keuangan, khususnya perusahaan asuransi jiwa.

Acara yang mendapatkan dukungan utama dari MNC Business, Asia Insurance Review, Sun Life Financial (sebagai Exclusive Titanium Sponsor), Astrindo, Reachout Foundation, dan Garuda Indonesia (sedang dalam konfirmasi) ini adalah yang ke-15 kalinya diselenggarakan. Sementara penyelenggaraannya setiap dua tahun sekali, dan lokasinya berganti-ganti di antara 11 negara Asia Pasifik yang menjadi anggota APFinSA.

Konpers APLIC

Asia Pasific Insurance Council (APLIC) sendiri sebenarnya adalah nama lama dari Asia Pasific Financial Services Association (APFinSA), yang telah berdiri sejak September 1991, dan beranggotakan 11 asosiasi perwakilan setiap negara di kawasan Asia Pasifik. Negara-negara tersebut adalah Australia, Hong Kong, Jepang, Macau, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Indonesia. Pada tanggal 3 Juli 2003, nama APLIC diregistrasikan sebagai sebuah nama baru yakni Asia Pasific Financial Services Association (APFinSA). Namun, nama APLIC tetap dipertahankan sebagai nama kongresnya, dan setelahnya disebut APLIC Congress.

"Indonesia baru pertama kali menjadi tuan rumah APLIC Congress ini, walaupun kegiatan ini sudah diadakan 14 kali. Tahun depan yang akan digelar di Bali itu adalah yang ke-15 kalinya. Pelaku industri jasa keuangan dari luar negeri merasa senang acaranya diadakan di sini, karena mereka menganggap level opportunity (untuk tumbuh) di negara kita masih besar. Makanya kita kalau jadi pembicara pada kongres di luar negeri menjadi yang disegani," tutur Henry Januar, Ketua Umum FPA Indonesia.

Henry mengatakan bahwa pertumbuhan asuransi jiwa di Indonesia itu masih di atas rata-rata, sedangkan di negara lain sudah stagnan. Dia mencontohkan misalnya di Malaysia, dengan populasi di sana antara 22-24 juta jiwa, individu pemegang polis sudah mencapai 60%. Lalu, di Singapura sudah di atas 87%. Sedangkan di Indonesia, dengan penduduk sekitar 250 juta jiwa, baru 7% yang punya polis asuransi. "Pertumbuhan di sini diprediksi masih akan sangat tinggi. Apalagi kita ini adalah negara yang konsumtif. Jadi mereka melihat kita sebagai market yang besar. Sebab di negara lain juga sudah tidak bisa berkembang lagi; satu orang bisa punya 2-3 polis," ungkapnya.

Beberapa pembicara internasional dijadwalkan akan hadir dalam seminar dan kelas motivasi sepanjang APLIC Congress mendatang. Seperti Nick Vujinic, Guy Baker, Lee Sheng Wah, Samuel Yung dan lainnya. Dengan mendatangkan para pembicara internasional diharapkan akan bisa membantu para praktisi jasa keuangan, khususnya agen asuransi jiwa. Karena misalnya ada pembicara yang sharing soal bagaimana mengatasi kendala-kendala penjualan.

"Kita berharap bisa mendorong para agen itu supaya tidak jadi stagnan seperti tahun ini. Karena ada beberapa perusahaan asuransi jiwa yang tidak mencapai target pada tahun ini. Tapi saya yakin tahun depan akan bisa kembali naik. Ekspektasi teman-teman asuransi jiwa bahwa pertumbuhan mereka akan mencapai 7%-8% di 2015," jelasnya.

Kalau agen asuransi jiwanya lebih kompeten, maka hal itu akan berpengaruh juga ke konsumen. Karena pada seminar atau kelas motivasi itu akan ada tiga hal yg diajarkan. Pertama adalah motivasi, yaitu mengajarkan kepada agen supaya punya self awareness yang tinggi. Kedua, workshop tentang bagaimana menjual polis, menangani klaim, dan sebagainya. Ketiga, akan diajarkan bagaimana supaya agen itu bisa menjual tanpa memaksa.

"Jadi pada akhirnya setelah acara ini, konsumen bisa dilayani oleh agen asuransi yang benar-benar qualified. Yang jadi harapan kita juga bahwa para agen bisa stay dan loyal kepada perusahaan tempat dia bekerja dan nasabahnya. Karena di Indonesia, banyak agen yang pindah-pindah perusahaan asuransi," ucapnya.

Dia bilang, ditargetkan akan ada lima ribu praktisi jasa keuangan, khususnya asuransi jiwa yang akan datang dalam acara kongres itu. Mungkin sebagian yang datang dari perusahaan jasa keuangan lokal, dan separuhnya lagi dari perusahaan jasa keuangan dari negara Asia Pasifik lainnya. Kemudian, dari kongres tersebut diharapkan akan tercipta sebuah kesepakatan tentang industri jasa keuangan, khususnya asuransi jiwa, yang bisa diimplementasikan di masing-masing negara peserta. Implementasi itu harus berlangsung dalam dua tahun ke depan, sebelum adanya kongres berikutnya lagi.

"Yang mau dibahas pada tahun depan, pertama adalah penyeragaman industri. Dalam arti harus ada aturan main penjualan produk asuransi (yang hrs ditepati agen). Kedua, harus adanya platform perusahaan asuransi jiwa. Jadi perusahaan asuransi lokal bisa mengetahui apa yang dilakukan perusahaan asuransi di luar negeri. Ketiga, kita mau membangun satu profesionalisme yang sama di Asia Pasifik," paparnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)