Asia Afrika Realisasikan Smart City

Asia yang merupakan benua terbesar di dunia, memiliki tingkat kepadatan penduduk di kota, dimana diperkirakan pada tahun 2025 nanti, 60 persen penduduk dunia berada di benua ini. Begitupun dengan kota-kota di Afrika, di mana permasalahan sosial, penduduk, kesehatan, menjadi agenda penting untuk diselesaikan. Dibutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

20150422_113705

Menurut Prof. Dr. Suhono H. Supangkat, Chairman Asia Afrika Smart City Summit (AASCS) 2015, permasalahan di kota berada di seputar kemacetan, pemukiman, dan lingkungan hidup. Untuk itu dibutuhkan tim yang dapat menjadi jalan pembuka untuk menuju kota yang lebih baik.

“Lebih baik di sini adalah kota yang dapat memberi layanan kepada masyarakatnya dan membuat masyarakat nyaman. Ya,salah satunya dengan inisiasi Smart City ini,” tambahnya.

Smart City merupakan ide untuk mewujudkan kota cerdas dengan mengintegrasikan seluruh sistem kota dengan menggunakan teknologi. Beberapa kota di Indonesia pun sudah mulai mengimpelementasikannya, seperti Bandung dengan Bandung Command Centre, Bogor dengan Green Roomnya.

Kota lainnya seperti Surabaya akan segera merilis salah satu program dari Smart City-nya pada tanggal 24 April 2015 ini. Sedangkan kota-kota lain di Afrika seperti Victoria juga masih dalam tahap pengenalan konsep kotanya.

Membangun Smart City, Asia dan Afrika juga mengambil banyak pengalaman dari negara-negara lain seperti Jepang. Ditemui pada AASCS hari pertama (22/4), Prof. Tosio Obi dari Waseda University Jepang mengatakan bahwa Bandung sudah melakukan aksi yang tepat dengan Smart City. Menurutnya Indonesia merupakan negara yang termasuk rawan bencana, sehingga dengan teknologi, bencana dapat ditanggapi dengan cepat. Selain itu, dengan teknologi yang diusung dalam Smart City, menjadi jembatan antara analisis data pemerintah tentang permasalahan di kotanya dengan kebutuhan masyarakat.

Oleh karena itu melalui AASCS 2015 ini, kota-kota di Asia dan Afrika saling belajar dan berbagi pengalaman untuk sama-sama menuju kota cerdas yang diinginkan. “Kita disini berbagi ide dan pengalaman. Bandung sendiri sudah merilis 15 aplikasi untuk Smart City salah satunya Bandung Command Centre. Jadi kota-kota lain yang mau memakai aplikasi kami silahkan saja. Tinggal disesuaikan dengan bahasa di negaranya,” kata Ridwan Kamil yang menggunakan iket sunda saat AASCS hari pertama.

Ridwan juga mengatakan bahwa mungkin suatu saat bisa dibuat ikatan kerja sama yang menyeluruh dengan semua negara. Karena menurutnya kurang efisien jika membuat MoU dengan setiap negara secara bilateral. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)