Banda Aceh Bangun Smart City Berlandaskan Syariah

Forum Diskusi Kinerja Pemerintah Aceh Forum Diskusi Kinerja Pemerintah Aceh: Smart People untuk Smart City

Siapa tidak kenal dengan Banda Aceh?  Kota yang sembilan tahun lalu mengalami bencana tsunami saat ini telah berbenah. Provinsi Aceh  sekarang terkenal sebagai satu satunya provinsi yang menjalankan syariat Islam sebagai landasan pemerintahannya.

Banyak yang menyangka penerapan syariat Islam sebagai landasan dalam melakukan pemerintahan itu berpengaruh negatif terhadap perkembangan ekonomi di daerah tersebut. Nyatanya tidak demikian. Banda Aceh mampu meningkatkan ekonomi sebesar 1,37% di tahun 2014.

Selain peningkatan ekonomi, Kota Banda Aceh juga mengalami penurunan inflasi sebesar 0,23 persen serta menngalami peningkatan Product Domestic Brutto hingga lebih dari 100%.
Pencapaian ini tentu saja tidak dilakukan secara mudah. Illiza Sa'auddin Djamal, Walikota Aceh, menyatakan,  untuk melakukan hal tersebut Banda Aceh harus melakukan perbaikan dalam waktu yang cukup lama.

“Masalah kependudukan di Kota Aceh pasca terjadinya tsunami dapat dikatakan banyak, seperti perilaku masyarakat yang konsumtif, sifat individualistik, pengangguran, rendahnya mutu pendidikan, kurang partisipatif serta keterbatasan fasilitas publik. Saya berprinsip bahwa perubahan pada suatu tempat harus dimulai dari diri sendiri. Untuk itulah, mulai dari tahun 2009 hingga saat ini, saya terlebih dahulu menyatakan bahwa perilaku dan ahlak masyarakat memang harus di benahi. Salah satu caranya adalah dengan menanamkan nilai agama,” ucap Illiza.

Langkah pertama yang diambil Illiza untuk menciptakan situasi Banda Aceh yang kondusif adalah melakukan reformasi birokrasi. Hal ini dilakukan dengan memperlakukan pegawai sesuai dengan kinerja mereka, mendukung penjaminan hak hak tenaga kerja, serta memercepat proses perizinan.

“Banda Aceh memiliki waktu perizinan yang relatif cepat. Hanya memerlukan waktu satu hari untuk membuat izin berinvestasi. Hanya memang harus sesuai dengan prosedur yang ditetapkan di Aceh,” Illiza mengklaim

Selain reformasi birokrasi, Illiza juga melakukan reformasi terhadap sumber daya manusia di kota Banda Aceh. Hal tersebut dilakukan dengan pendekatan syariat Islam. Illiza menyatakan, dengan mengembangkan sumber daya manusia berdasarkan syariat, dapat menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan toleran.

“Ada beberapa hal yang perlu ditanamkan pada masyarakat Aceh sejak dini untuk menjadi manusia yang unggul, yaitu ahlak. Hal tersebut kami lakukan dengan cara melakukan pembelajaran agama di untuk setiap masyarakat sejak dini. Di sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Tidak hanya itu, kami selaku pemerintah Banda Aceh juga membuat berbagai infrastruktur untuk mendukung pembelajaran masyarakat, dan juga wadah untuk memberdayakan wanita, "tambah Illiza.

Illiza mengklaim bahwa perbaikan dalam bidang birokrasi ini nantinya akan membawa Banda Aceh menuju Smart City, bahkan Future City.

“Untuk menuju smart city, terlebih dahulu kami harus membentuk smart people. Yakni orang orang yang baik secara perilaku dan memiliki intelektualitas yang tinggi. Setelah itu, infrastruktur pasti akan membaik dengan sendirinya. Mengenai infrastruktur, pemerintah Banda Aceh  telah menerapkan beberapa konsep dari cyber city, seperti antrian , pengawasan, serta pembelajaran online di tiap sudut kota," je;asnya.

Sebanyak 50% dana APBD memang digunakan untuk pembangunan infrastruktur yang mendukung perkembangan sumber daya manusia di Aceh. Untuk meningkatkan produktifitas masyarakat Banda Aceh dengan memberikan modal usaha yang akan dipantau oleh pemerintah. Cara ini cukup berhasil. Buktinya, sektor industri UKM di Banda Aceh berkembang pesat. Kemajuan ekonominya pun nomor satu di provinsi Aceh.
Selain berkonsentrasi membangun sumber daya manusia, Aceh juga memberi perhatian pada area hijau di sekitar kota.  Sebanyal 5,7 hektar tanah dibebaskan untuk membuat lahan tersebut. Untuk menarik perhatian masyarakat, hutan dan taman kota dilengkapi dengan Wifi sebagai sarana belanja.

Aceh juga mengolah limbah tinja manusia menjadi pupuk yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara gratis untuk mendukung kehijauan di Banda Aceh. “Saat ini, Aceh menjadi tujuan investasi nomor 2 setelah Surabaya. Keadaan ekonomi dan Inflasinya juga cukup stabil. Nantinya, saya harap hal ini dapat membawa Banda Aceh ke arah yang lebih baik,” tutup Illiza. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)