Banyak Brand yang Tidak Mewakili Karakter Konsumen

Di era horizontal ini, positioning, diferensiasi, branding (PDB) saja tidak cukup. Karena konsumen dan produsen posisinya sejajar. Brand harus punya karakter. Dengan karakter yang kuat, brand akan kuat karena konsumen akan mencari brand yang sesuai (mewakili) karakter konsumen. Sekarang banyak brand yang awalnya tidak ada masalah tiba-tiba ditinggalkan konsumen. “Karena konsumen merasa brand tersebut tidak sesuai dengan karakternya,” kata Taufik, Chief Business Officer MarkPlus Inc. mengungkapkan alasannya.

Astra, salah satu brand yang memiliki visi jangka panjang

Selain karakter, perusahaan juga dituntut untuk tanggap terhadap isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan dan manusia. Ambil contoh kasus yang pernah menimpa Apple. Sebagai brand, kekuatan Apple tidak diragukan lagi. Tetapi saat tersangkut kasus perlakuan perusahaan supplier Apple terhadap buruh-buruhnya turut memengaruhi pandangan konsumen pada Apple. “Bicara brand saat ini sangatlah kompleks. Tidak hanya PDB dan karakter saja, namun juga berkaitan dengan value chain pemilik merek tersebut,” ujar dia.

Masih dalam kasus Apple, untuk menyelamatkan brand tersebut CEO-nya tidak sekadar melakukan klarifikasi saja. Namun, CEO Apple terjun langsung ke perusahaan tersebut di Cina untuk memastikan keadaan yang sebenarnya dan memberi solusi. “Beliau sadar kalau ini dibiarkan akan membahayakan brand Apple yang sudah lama dibangun karakternya,” tutur dia.

Banyak pemilik merek di Indonesia masih bergerak alami. Masih sedikit pemilik merek yang melakukan rejuvinasi agar mereknya tetap relevan untuk segala kalangan. “Pola pikirnya, pokoknya punya merek yang kuat. Kalau nanti ada yang beli ya lebih bagus lagi. Itu yang harus dihindari,” tegasnya.

Meski demikian, ada perusahaan di Indonesia yang sudah mulai mengarah ke sana. Taufik menyebut Astra sudah punya visi jangka panjang. “Memang produknya tidak gampang ditemui, tetapi sebagai perusahaan Astra sudah punya visi ke depan tentang reputasinya,” kata dia. Astra tidak sekadar memikirkan merek yang kuat, tetapi juga reputasi jangka panjang. “Baru-baru ini kan Astra mendapat predikat best wealth creator di ASEAN. Itu sudah dibangun belasan tahun yang lalu,” tambahnya. Memang, upaya Astra ini tidak lepas dari pendirinya, William Soeryadjaya. “Beliau ini tahu bahwa reputasi perusahaan akan memengaruhi produknya. Maka, beliau mau membayar utang yang sebenarnya bukan tanggung jawab dia,” tutur Taufik. Buah dari langkah tersebut, reputasi Astra sebagai perusahaan yang dipercaya sangat tinggi. Akibatnya, kalangan industri keuangan juga percaya ketika mengucurkan kredit pada Astra.

Pemilik brand di Indonesia mestinya mulai mengarah ke sana. Tidak hanya sekadar membuat brand besar, terkenal dan pelayanan bagus. Tetapi membangun brand dengan reputasi bagus,” kata dia. Bila merek sudah punya reputasi bagus, ketika pemilik merek sudah tidak ada maka merek masih tetap bertahan. “Punya merek besar dan bagus, itu gampang. Tetapi bagaimana membuat merek dengan reputasi bagus, itu yang harus terus diupayakan,” tegasnya.

Bila brand sudah memiliki reputasi bagus, maka kemungkinan untuk bertarung di regional atau global cenderung mudah. Benar memang, bermain di negeri orang tidak semudah membalik telapak tangan. Tapi, dengan reputasi bagus pasti kemungkinan itu terbuka lebar. Taufik mengambil contoh Sido Muncul. Produsen jamu tersebut bisa memulai dengan membangun reputasi sebagai produsen herbal. “Dan, bila Sido Muncul bisa menginspirasi pemain-pemain lainnya, Indonesia bisa menjadi pusatnya produk herbal di dunia,” tutur dia. Maksudnya, selain reputasi perlu juga dibarengi sinergi antar pemain untuk membangun reputasi negara.

Pemerintah, kata Taufik, pelan-pelan juga mulai membuka jalan. Meski belum terlalu seagresif pemerintahan di Korea Selatan. Upaya pemerintah, misalnya, ditunjukkan dengan kebijakan pegawai Kemendag harus punya skor TOEFL 600. “Ini tujuannya agar orang-orang Kemendag dapat berjualan di luar negeri dengan bahasa yang bagus,” dia menuturkan. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)