Banyumas Terus Membangun Ruang Terbuka Hijau

Pada ajang Indonesia Green Region Award (IGRA) 2012, Kabupaten Banyumas berhasil masuk babak final. Bagaimana upaya Kabupaten Banyumas dalam program lingkungan hidup? Ir. H. Didi Rudwianto, SH., M.Si (Kepala Badan Lingkungan Hidup Kab. Banyumas), memaparkan program-programnya kepada Dewan Juri IGRA 2012, sebagaimana dicatat Radito Wicaksono dari SWA. Berikut pemaparannya:

Didi Rudwianto, Banyumas, Kabupaten, Program Hijau, IGRA. SWA, Bisnis Didi Rudwianto

Apa saja program-program Kabupaten Banyumas yang terkait dengan upaya mengatasi krisis lingkungan? Sejak kapan hal itu dilakukan secara intens?

Pada dasarnya, kami semua tahu bahwa lingkungan adalah kewajiban kita semua. Jadi, kalau kita ingin sampai nanti, anak-cucu kita tetap hidup, kita harus menyiapkan lingkungan untuk mereka. Tidak sekadar menghirup dan menikmati apa yang ada sekarang. Untuk itu, maka lingkungan harus ditata mulai dari sekarang.

Dari situ, maka kami memliki perhatian yang cukup serius perihal menata lingkungan sampai akhir zaman. Hal ini kami lakukan juga agar sesuai dengan sunnatullah. Menjaga lingkungan kan juga merupakan ajaran hukum atau ajaran yang ada di agama. Kami menjaga sunnatullah ini dengan membuat kebijakan, di mana kebijakan pertamanya adalah membuat kajian lingkungan hidup strategis, rencana tata ruang wilayah, rencana detail tata ruang kota, dan sebagainya. Sehingga nanti terlihat jelas mengenai hak dan kewajiban manusia.

Hal tersebut tentu tidak bisa dilakukan semata-mata hanya oleh pemerintah daerah saja. Di sini, masyarakat juga ikut berperan aktif dalam melestarikan lingkungan sekitar. Karena yang menghasilkan sampah adalah masyarakat, yang menghirup oksigen juga masyarakat. Masyarakat ini pun termasuk di dalamnya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), organisasi politik, organisasi massa, media/pers, akademisi, dan tokoh-tokoh masyarakat.

Untuk mencapai kelestarian lingkungan hidup, kami memiliki beberapa program. Pertama, mengenai kebutuhan karbon dalam menghadapi perubahan iklim global, yaitu dengan menjalankan program tutupan vegetasi. Jadi, kami sedang berusaha sekuat mungkin, bagaimana 60% vegetasi kami terjaga, termasuk 30% ruang terbuka hijau dapat terjaga. Hal ini perlu diatur dalam tata ruang kami, dan ini menjadi komitmen kami hingga waktu-waktu mendatang. Salah satu aksi nyata dari hal ini adalah Bupati membatasi pembangunan wilayah-wilayah pemukiman, dan lain-lain.

Dalam menjalakan program tutupan vegetasi ini ada beberapa langkah yang kami lakukan. Pertama adalah mengenai masalah Pengendalian dan Penglolaan. Proses penerbitan izin usaha dan atau kegiatan harus mengacu kepada Rencana Tata Ruang Wilayah. Selain itu, setiap kawasan wajib menyediakan 30% Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan ditetapkan 24 Kawasan Kota berdasarkan Perda No. 10 tahun 2011.

Kemudian, kami juga berupaya untuk terus menambah Ruang Tebuja Hijau (RTH). Antara lain dengan seperti pembangunan Hutan Kota Berkoh dan Karanglewas seluas 2,4 hektare (ha), Taman Kota (Taman Satria I dan II), Taman Andhang Panggeranan seluas 1,8 ha pada 2011, Taman Balai Kemambang seluas 2 ha pada tahun 2012, Taman Edukasi Hayati Arcawinangun (P2KH) seluas 2 ha pada tahun 2012, Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) Baturraden, Vegetasi Jl. Sudirman (Pohon Tabubuya), Vegetasi Jl. Gatot Subroto (Pohohn Kenari), Vegetasi Jl. Dr. Angka (pohon flamboyan), Vegetasi Jl. Bank (pohon Eboni), Revitalisasi alun-alun tiap eks. Kawedanan, dan membuat lapangan sepakbola di tiap desa.

Lalu, ada juga program-program yang terkait dengan usaha menambah tutupan vegetasi. Antara lain, Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN), One Billion Indonesia Trees (OBIT), One Man One Tree (OMOT), One Student One Tree, dan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA).

Selain hal di atas, usaha menambah tutupan vegetasi juga dilakukan dengan cara memberikan perlindungan mata air, gerakan sumur resapan dan biopori dalam rangka mitigasi perubahan iklim. Yaitu dengan cara membuat embung/situ, seperti Situ Elok di Cilongok seluas 2 ha, Situ Bamban di Jatilawang seluas 2 ha, Situ Kendalisada di Kalibagor seluas 1 ha, Situ Tapak Bima di Kemranjen seluas 1 ha, dan Situ Tlaga Kumpe di Cilongok seluas 2 ha. Kemudian, kami juga membuat sumur resapan air hujan percontohan sejumlah 75 unit. Untuk pembuatan biopori, kami sudah membuat biopori sebanyak 390 buah, yang keseluruhan dilakukan dengan alat bor.

Disamping itu, ada juga kegiatan lainnya dalam rangka melakukan mitigasi perubahan iklim yaitu dengan cara antrara lain pembuatan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)dan Instalasi Biogas (energi terbarukan) dan juga Pengelolaan Sampah.

Didi Rudwianto

Kemudian, untuk membangun ketahanan pangan dalam rangka adaptasi perubahan iklim, kami juga melakukan pelarangan pembangunan perumahan di daerah sawah irigasi teknis maupun tadah hujan, khususnya di daerah hulu kota Purwokerto. Selain itu, melalui Surat Edaran Bupati mengenai anjuran penanaman tanaman pangan Palawija dan holtikultura seperti gembili, uwi, ganyong, suweg, gadung, muntul, sagu (irut), kacang tanah, tales, benguk, kara, dan kentang ireng.

Selain itu, usaha lain dalam rangka mitigasi perubahan iklim, yaitu dengan melaksanakan green transportation, seperti car free day, dan pembuatan jalur sepeda.

Untuk penurunan risiko bencana alam, kami menginstruksikan setiap tanah berlereng dan rawan longsor di 333 desa ditanami pohon yang menyerap air dan menahan longsoran tanah seperti: pohon kolang kaling/aren, beringin, jengkol, petai, cangkring. Dan setiap aliran sungai dari hulu ke hilir ditanami pohon trembesi.

Program-program atau komitmen-komitmen ini sudah lami dilakukan di Kabupaten Banyumas. Hal seperti ini tentu sudah dijalankan oleh bupati-bupati sebelumnya. Namun, bupati yang saat ini memimpin, Drs. Mardjoko, MM., yang memimpin sejak tahun 2008, lebih fokus lagi dalam menjalankan program-program ini. Termasuk ada beberapa program baru yang dilahirkan dan dijalankan hingga saat ini.

Apakah anggaran untuk pengelolaan lingkungan ini dari tahun ke tahun selalu meningkat? Berapa besar peningkatannya?

Hingga saat ini, untuk anggaran lingkungan, kami sudah mendapatkan 6,3% dari APBD. Dari Rp 1,7 triliun, kami sudah mendapatkan anggaran mencapai hingga ± Rp 114 miliar. Anggaran yang kami miliki tersebut hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan, tapi jumlahnya . Peningkatan tersebut, setiap tahunnya tidak mengalami peningkatan yang sama, tergantung kondisi saat itu. Yang pasti, karena kami memiliki perhatian yang cukup besar terhadap isu lingkungan ini, maka setiap tahunnya anggaran yang dimiliki untuk lingkungan hidup selalu meningkat.

Seperti hasil-hasil yang dicapainya? Apa manfaat yang dirasakannya?

Hasil dari program-program yang sudah kami jalankan hingga saat ini, yang paling terlihat adalah adanya apresiasi dari pemerintah pusat terhadap langkah-langkah yang sudah kami lakukan ini. Salah satunya adalah Penghargaan Piagam Raksaniyata tahun 2012 kepada Kabupaten Banyumas dalam upaya pengendalian fungsi lindung. Selain itu, dari hasil penelitian Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2010, Kabupaten Banyumas menghasilkan stock carbon sebesar 5.877.163.799,59 mg. Pencapaian itu merupakan hasil dari pengelolaan tutupan vegetasi di Kabupaten Banyumas.

Sedangkan manfaat yang dirasa oleh masyarakat secara langsung antara lain, dengan adanya ruang terbuka seperti taman, maka setiap lapisan masyarakat memiliki ruangan untuk interaksi. Dengan begitu, masyarakat akan mendapatkan suatu bentuk kesejahteraan yang tidak terukur, seperti kenyamanan. Selain itu, masyarakat, terutama anak-anak usia sekolah akan mendapatkan manfaat edukasi dengan adanya Taman Edukasi Hayati dan Taman KEHATI (Keanekaragaman Hayati).

Dari hal tersebut, yang paling terlihat adalah angka kemiskinan turun dan pendapatan asli daerah meningkat 5 kali lipat, dari sekitar Rp 60 miliar, saat ini mencapai Rp 200 miliar. Selain itu, ada penurunan angka pengangguran. Dari situ, tentu diikuti dengan adanya peningkatan angka pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana pula program-program lanjutannya terkait dengan upaya memelihara lingkungan dan mengatasi krisis lingkungan di daerahnya?

Masih berkaitan dengan program-program yang masih kami jalankan hingga saat ini, saat ini kami sedang menyusun Peraturan Daerah tentang detail kawasan kota Purwokerto. Nanti, hak dan kewajiban mengenai pelestarian lingkungan akan semakin jelas. Dan untuk waktu kedepannya lagi, kami sedang menyusun Peraturan Daerah tentang sampah.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)