Bertahan di Masa Sulit, Ini 3 Jurus Adaro

Pasar batubara masih sangat menantang untuk jangka pendek karena permintaan yang melambat dan ketidakpastian makroekonomi. Sejumlah perusahaan tambang, khususnya batubara mesti berjuang ekstrakeras untuk menjaga kinerja dan pertumbuhan bisnis.

PT Adaro Energy Tbk punya 3 jurus jitu untuk bertahan lebih baik dari siklus pasar batubara, yaitu melaksanakan keunggulan operasional, fokus pada disiplin biaya dan menerapkan strategi yang terencana dengan baik. Jurus ini terbukti ampuh karena sampai saat ini tidak ada lay off karyawan di Adaro.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro, Garibaldi Thohir, mengatakan, perseroan akan terus mengembangkan usaha nonpertambangan batubara, sekaligus meningkatkan kontribusinya agar dapat bertahan dengan lebih baik di masa sulit.

(Foto: adaro.com) (Foto: adaro.com)

Perseroan juga akan terus menjalankan rencana usahanya untuk masuk ke sektor ketenagalistrikan sekaligus berkontribusi dalam menciptakan nilai maksimum dari batubara Indonesia, termasuk melakukan pembayaran dividen tunai dan memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.

“Target produksi batubara Adaro untuk tahun 2015 sebelumnya adalah 56-58 juta ton, namun karena kondisi pasar yang penuh tantangan, kami menyesuaikan panduan produksi 2015 menjadi 54-56 juta ton. Pencapaian produksi tahun 2014 adalah 55,3 juta ton,” kata dia.

Menurut dia, Adaro melakukan langkah antisipasi untuk menghadapi pasar batubara yang masih menantang dalam jangka pendek karena masih adanya kelebihan pasokan yang semakin menekan harga batubara. Untuk itu, Adaro merevisi panduan produksi tahun 2015 menjadi 54-56 juta ton dari sebelumnya sebesar 56-58 juta ton.

Meski begitu, pria yang akrab disapa Boy itu yakin batubara akan tetap menjadi bahan bakar yang paling efisien dan berbiaya murah bagi pembangkit listrik, yang merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Walaupun prospek dalam jangka pendek masih tetap menantang karena pertumbuhan permintaan yang melambat dan ketidakpastian makroekonomi, kami tetap yakin permintaan batubara khususnya dari Indonesia, Asia Selatan dan Asia Tenggara akan memainkan peranan penting di masa yang akan datang.

Pada semester pertama 2015, volume penjualan Adaro turun sebesar 6% menjadi 26,6 juta ton disebabkan kondisi pasar yang sulit sebagai akibat dari pertumbuhan permintaan batubara yang melambat dan terjadinya kelebihan pasokan.

Produksi batubara Adaro turun 7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 25,9 juta ton. Harga rata-rata penjualan (ASP) Adaro turun 13% y-o-y sejalan dengan tekanan yang terjadi pada harga pasar batubara. Hal ini tercermin pada pendapatan usaha Adaro yang turun sebesar 17% y-o-y menjadi US$ 1.399 juta.

Net Revenue Adaro

2012 US$ 3,722 juta
2013 US$ 3,285 juta
2014 US$ 3,325 juta

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)