BI: Sistem Keuangan Masih Aman di Tengah Gejolak

Gejolak ekonomi global menghantam banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menyita perhatian banyak kalangan, terutama Bank Indonesia yang bertugas menjaga stabilitas nilai tukar. Kerentanan global terutama yang muncul akibat perlambatan ekonomi di Amerika dan Eropa, serta beberapa negara maju seperti Jepang dan Tiongkok, menjadi perhatian utama Bank Sentral.

“Secara umum, kondisi sistem keuangan di Tanah Air masih aman, khususnya yang terkait dengan sejumlah tantangan seperti pelemahan Rupiah. Kami terus memantau kondisi terkini di perbankan, bagaimana kemampuannya menyalurkan kredit ke sektor produktif sehingga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, dan kualitasnya tetap terjaga,” kata Deputi Direktur Departemen Makro Prudensial BI, Dwityapoetra S. Besar di Jakarta.

Laju ekonomi dunia yang masih lambat, hanya sekitar 3%, menimbulkan ketidakpastian. Harga minyak dunia yang masih rendah, turun dari US$ 104 per barel di tahun lalu menjadi hanya US$ 59 per barel menambah runyam keadaan. Kasus penyelesaian utang Yunani yang baru saja mendapat kemudahan restrukturisasi utang hingga Juni 2015 membuat gelombang ketidakpastian semakin menjadi.

Yang paling dominan menyita perhatian adalah rencana Bank Sentral AS untuk menaikkan suku bunga. Ini salah satu penyebab kenapa nilai tukar Rupiah terus saja melemah. Efek pengumuman The Fed juga memengaruhi mata uang global, dolar AS menguat terhadap semua mata uang. Selain itu, banyak transaksi di sektor riil di awal tahun, terutama terkait repatriasi dan pembayaran utang juga memengaruhi suplai dan demand dolar AS di pasar valas.

Deputi Direktur Departemen Makro Prudential BI, Dwityapoetra S. Besar Deputi Direktur Departemen Makro Prudensial Bank Indonesia, Dwityapoetra S. Besar

“Harga minyak yang menurun, memengaruhi konsumsi masyarakat Amerika, ini yang kemudian menjadi trigger bagi The Fed untuk menaikan suku bunga. Namun, mereka juga masih menghitung karena keputusan itu akan berdampak pada kenaikan inflasi. Tapi, isu tersebut membuat Rupiah melemah sudah sekitar 2%,” ujarnya.

Meski situasi belum menentu, lanjut Dwityapoetra, sistem keuangan masih terjaga baik. Pembalikan modal asing (capital outflow) di pasar modal, saham dan obligasi, memang telah terjadi selama beberapa pekan terakhir. Namun, masih dalam taraf yang normal bila dibandingkan dengan krisis tahun 2008, mini krisis di tahun 2005, dan yang besar pada 1997-98.

“Risiko likuiditas cenderung menurun tapi masih di bawah ambang batas. Sekarang ini, permintaan uang semakin menurun, artinya lebih banyak uang yang disimpan di bank. Likuiditas perlahan terus naik. Namun, BI mencermati risiko serupa yang lebih besar di bank kecil dan sedang yang rawan potensi penarikan (rush) karena ketatnya persaingan dengan bank besar,” ujarnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)