Bisnis Hotel dan Kafe ala Pegadaian

Renny Soviahani, Direktur Utama PT Pesonna Indonesia Jaya (PIJ)
Renny Soviahani, Direktur Utama PT Pesonna Indonesia Jaya (PIJ)

Seperti BUMN lainnya, PT Pegadaian (Persero) atau Grup Pegadaian kini giat berekspansi dengan membesarkan bisnis non-gadai. Beberapa anak usaha pun telah dibangun, salah satunya adalah PT Pesonna Indonesia Jaya (PIJ) yang berdiri sejak 2015 dan bergerak di bidang hospitality, yakni bisnis hotel dengan merek Pesonna dan bisnis kafe dengan nama The Gade Coffee & Gold.

Saat ini, PIJ telah membangun dan mengoperasikan sembilan hotel yang tersebar di berbagai daerah, yaitu Surabaya (Ampel), Makassar, Pekanbaru, Semarang, Gresik, Tegal, Pekalongan, serta Yogyakarta (Malioboro dan Tugu). “Totalnya ada 1.193 kamar. Rata-rata per hotel itu ada 140-an kamar, kecuali di Tegal dan Pekalongan kami cuma bangun 98 kamar. Sisanya yang di kota lainnya ada yang 120 kamar sampai 150 kamar. Terbanyak adalah yang di Semarang,” kata Renny Soviahani, Direktur Utama PIJ.

Sementara itu, kedai kopi The Gade Coffee & Gold saat ini ada 35 gerai yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Kedai kopi ini sengaja dibangun Pegadaian sebagai alat pemasaran untuk menggaet nasabah dari kalangan milenial. Itu sebabnya, rata-rata kedai kopi ini ada atau tidak jauh dari gedung Pegadaian.

Kesembilan Hotel Pesonna mulai dioperasikan secara penuh pada 2017 dengan konsep hotel halal. “Dulu istilah yang dipakai adalah hotel syariah. Sekarang kami ganti jadi halal karena lebih friendly, tidak hanya buat yang muslim tetapi juga yang nonmuslim. Halal kan kesannya membuat orang merasa akan terjamin kenyamanan dan keamanannya,” kata Renny.

Saat awal beroperasi dua tahun lalu, Hotel Pessona lebih banyak berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata ketika sedang membuat berbagai acara. “Ini sudah tahun kedua kami memasang tagline ‘Wonderful Indonesia’. Jadi, dari tahun lalu kami diberi kepercayaan oleh Kemenpar untuk itu, karena kami mendukung upaya Indonesia untuk wisata halalnya,” katanya.

Kemudian, hotel ini pun dibantu oleh induk perusahaan (Grup Pegadaian) seperti dalam hal branding. Hal ini juga karena Pegadaian memiliki Pegadaian Syariah. “Mereka juga kalau ada event, kami diajak. Jadi, branding kami dibantu juga oleh induk perusahaan,” ujar Renny. Selain itu, perusahaan induk Pegadaian mempunyai divisi baru (dibentuk pada 2019), yakni Hubungan Kelembagaan, yang bertugas mengangkat citra dan bisnis seluruh perusahaan di bawah Grup Pegadaian, termasuk PIJ yang bisnisnya di bidang hospitality.

Agar hotelnya bisa berlari kencang, pihaknya pun merekrut SDM yang berpengalaman untuk mengelola hotel. “Kami rekrut GM-GM eks dari Hyatt, Swissbell, Borobudur, Accor, yang relatively sudah pengalaman semua. Kemudian, HOD (head of department) juga dari hotel-hotel yang international chain. Nah, kalau yang level di bawahnya kami rekrut dari fresh graduate, dll., karena terus terang di level ini tuh turnover-nya tinggi sekali,” Renny memaparkan.

Bicara okupansi hotelnya, menurut Renny, setiap lokasi berbeda-beda. “Yang namanya hotel ya depend on market, dan di setiap lokasi pertumbuhannya beda-beda. Misalnya, di Jogja, di sana sudah mulai over-supply hotel,” katanya.

Hotel Pesonna tergolong pendatang baru konsep halal. ”Kami juga baru mulai membagun brand activation-nya di 2017 itu, tapi saat itu gross operating profit (GOP) sudah positif. Jadi, ada enam hotel yang sudah bagus, hanya ada tiga yang belum tumbuh saat itu. Jadi, setelah dikompilasi, total rata-rata GOP-nya jadi positif dan makin ke sini sampai 2019 sudah semakin membaik,” Renny mengungkapkan.

Rata-rata okupansi hotelnya tahun ini sekitar 60% karena ada low seasson di Januari-Maret. “Nah, pada saat peak seasson, hotel-hotel kami yang di Jogja, Tegal, Pekalongan itu bagus. Misalnya, Lebaran dan akhir tahun bisa mencapai 80%,” katanya.

Beralih ke bisnis kedai kopi. The Gade Coffee & Gold mulai dibangun pada 2018. Alasan kedai kopi ini dibangun, salah satunya agar menjadi tools untuk Pegadaian dalam memajukan bisnis. Hal ini didorong langkah pemerintah yang membuka bisnis gadai untuk swasta sehingga persaingan di industri ini semakin ketat.

Nah, berdasarkan data Pegadaian, nasabahnya saat ini tidak muda lagi dan semakin lama diperkirakan akan berkurang atau habis. Di satu sisi, Pegadaian pun saat ini sudah makin berkembang bisnisnya, tidak hanya gadai barang, tetapi juga ada tabungan emas, kredit usaha mikro, cicilan emas, dll. “Dulu image-nya orang yang datang ke Pegadaian itu pasti orang yang sedang sulit keuangan,” kata Renny.

Agar image tersebut bisa hilang dan semua bisnis Pegadaian lainnya bisa tersampaikan kepada target pasar, dibuatlah berbagai kampanye dan promosi. “Kami sudah campaign lewat berbagai kanal, ya sampai bandara juga. Tapi, ternyata tidak mudah mengubah image itu tadi. Akhirnya, kami putuskan untuk bikin kafe dengan nickname The Gade untuk memudahkan orang supaya ingat,” ungkapnya. Bisnis kafe dipilih karena berdasarkan riset diketahui bahwa anak milenial suka nongkrong di coffee shop. Maka, dibuatah The Gade yang kafenya ada di dalam atau menempel dengan kantor cabang Pegadaian dan sekaligus untuk optimalisasi aset milik Pegadaian.

Optimalisasi aset juga menjadi alasan Pegadaian masuk ke bisnis hotel. Pasalnya, rata-rata aset, seperti gedung Pegadaian, ada di tempat strategis, seperti di tengah kota. Optimalisasi aset milik BUMN ini sudah dicanangkan sejak zaman Menteri BUMN Dahlan Iskan. Pada tahun 2014, ada 404 aset Pegadaian yang luasnya di atas 1.000 m2 di seluruh Indonesia. Bentuknya berupa gudang, kantor cabang yang tidak dipakai, rumah dinas, dll.

Saya ingat, waktu itu Pak Dahlan menginstruksikan untuk mengutilisasi aset-aset yang tidak terpakai sehingga cost yang biasa rutin dikeluarkan seperti bayar PBB, listrik, air, dsb. bisa dikover dengan adanya utilisasi aset ini,” kata Renny yang pernah berkarier di Adhi Karya ini. Dari sinilah kemudian Pegadaian melalui JIP membangun Hotel Pessona.

Renny menjelaskan, investasi untuk membangun sembilan Hotel Pessona di luar tanah mencapai Rp 570 miliar-600 miliar. Adapun untuk membangun kafenya, karena tanah dan bangunannya memanfaatkan yang sudah ada, biaya yang dikeluarkan hanya untuk merenovasi plus mendandani bangunan, dan investasi mesin kopi. “Mesin kopi yang kami pilih yang terbaik, karena kami memang serius dan total bikin kafe ini. Kalau kopinya sudah bagus, mesinnya juga harus bagus, kan?” ucapnya.

Menurut Renny, nilai investasi peralatan kopi dan segala macamnya mencapai sekitar Rp 500 juta dan renovasi bangunannya juga Rp 500 jutaan. “Jadi, total satu outlet kafe itu Rp 1 miliar. Tapi, ada juga yang nggak sampai segitu, tergantung pada kondisi di unit tersebut,” katanya.

Ke depan, pihaknya hanya akan menjalankan sembilan hotel. Namun, saat ini sudah ada beberapa pemilik hotel yang meminta pihak JIP untuk menjadi operator hotel halal. “Ini sedang dikaji. Jadi, ke depan kami akan masuk ke operator hotel khusus halal concept,” kata Renny. (*)

Dede Suryadi dan Arie Liliyah; Riset: Hendi Pradika dan Nico Augusta

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)