Bisnis Pendidikan Tinggi Masih Sangat Menjanjikan

Prospek bisnis pendidikan tinggi masih sangat menjanjikan di masa mendatang. Booming bisnis pendidikan tinggi takkan pernah mati selagi jumlah penduduk di Tanah Air terus meningkat, stigma bahwa hanya dengan pendidikan bisa mengubah status sosial semakin menguat, dan masyarakat tetap menganggap pendidikan sebagai kebutuhan utama dalam pengembangan keilmuan, kompetensi, dan keterampilan.

Direktur Bina Sarana Informatika (BSI) Naba Aji Notoseputro mengatakan, usaha di bidang pendidikan tinggi dari tahun 1990-an sampai saat ini tetap sangat menjanjikan. Pertama, potensi jumlah penduduk di Indonesia yang semakin banyak. Kedua, upaya-mengubah status sosial hanya bisa dilakukan melalui pendidikan tinggi terus mengakar. Ketiga, pendidikan masih dinilai sebagai sebuah kebutuhan utama manusia untuk pengembangan diri terutama keilmuan, kompetensi, dan ketrampilan. "Kesimpulannya, prospek usaha di bidang pendidikan tinggi dari saat ini hingga ke depan sangat menjanjikan," ujar dia.

Direktur Bina Sarana Informatika, Naba Aji Notoseputro Direktur Bina Sarana Informatika, Naba Aji Notoseputro

Dia mengakui, kompetisi di bidang usaha pendidikan tinggi saat ini memang begitu ketat. Jumlah perguruan tinggi (PT) setiap tahunnya meningkat, artinya regulasi pemerintah untuk pendirian PT baru tetap dibuka. Persaingan atau kompetisi itu semakin tajam dengan dibukanya era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang memungkinkan PT dari negara Asean merambah Indonesia. Pun dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang terus berkembang cepat juga menambah tingkat persaingan PT. "Namun dengan peningkatan mutu dan layanan terhadap mahasiswa dan stakeholdernya, prospek bidang usaha pendidikan tinggi takkan tergerus oleh persaingan," kata dia.

Menurut Naba Aji, peningkatan kualitas dan layanan bisa dilakukan dengan investasi fisik (infrastruktur) dan nonfisik (kualitas pengajar). Keduanya sangat penting bagi perkembangan PT karena memang keduanya sangat dibutuhkan. Contoh investasi fisik adalah ruang kuliah, laboratorium, dan sarana prasarana lainnya. Sedangkan investasi nonfisik adalah kemampuan dosen yang harus terus dikembangkan karena PT bertugas menciptakan orang-orang pandai dan berdaya guna dalam kehidupan bermasyarakat. "Saat ini, rata-rata anggaran PT untuk pengembangan atau investasi fisik dan nonfisik berkisar 20-30% dari belanja kotor PT bersangkutan," ujar dia.

Pengamat pendidikan Arief Rachman melihat semangat untuk membuat perguruan tinggi masih sangat tinggi, bahkan sampai ke daerah. Untuk itulah perlu peran aktif pemerintah untuk mengendalikan mutu perguruan-perguruan tinggi tersebut agar tidak melahirkan sarjana yang hanya membawa titel. Pengendalian mutunya juga harus punya aturan. “Apa yang membuat perguruan tinggi itu bagus? Misalnya doctor dan profesornya banyak, penelitiannya banyak, jurnal-jurnal ilmiah yang dipublish di luar negeri banyak,” katanya.

Perguruan tinggi yang akan besar dan berkembang adalah perguruan tinggi taat dan konsisten menjalankan undang-undang pendidikan. Kemudian, perguruan tinggi yang kreatif dan inovatif juga akan lebih banyak dipilih oleh calon mahasiswa. Misalnya, penemuan yang dilakukan oleh peneliti di perguruan tinggi banyak. Dan yang terakhir yang mempunyai kemitraan luas. Misalnya perguruan tinggi tersebut bermitra dengan Harvard, Cambridge, dan Oxford. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra, Destiwati Sitanggang)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)