BNI Raup Rp 1,23 Triliun dari Digital Banking

Perbankan ramai-ramai meluncurkan layanan perbankan digital (digital banking). PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga tak ingin ketinggalan. Pengembangan digital banking bahkan menjadi salah satu kebijakan strategis BNI pada tahun ini.

Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni mengatakan, beberapa pengembangan yang saat ini dilakukan BNI meliputi aspek internal seperti pembangunan budaya digital kepada segenap pegawai, pengembangan IT yang agile dan fleksibel, otomasi proses bisnis, membangun channel perbankan berbasis digital dan pengembangan manajemen inovasi untuk produk dan layanan bank. “Jumlah transaksi internet banking tumbuh 29,8%, SMS banking 19,6%, dan ATM 11,99%. BNI meraup pendapatan dari digital banking/e- banking tahun 2016 sebesar Rp 1,23 triliun,” katanya.

Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni

Saat ini, lanjut dia, total transaksi melalui elektronik banking sudah mencapai 92%. Transaksi melalui kantor cabang sudah bergeser ke transaksi melalui elektronik banking. Untuk itulah, bank pelat merah ini melakukan penyesuaian bentuk dan pola layanan di kantor cabang.

“Kunci keberhasilan dari bisnis bank di dunia digital adalah kesesuaian antara solusi dan layanan yang diberikan oleh bank terhadap kebutuhan nasabah. Bank harus memahami betul kebutuhan nasabahnya,” ujar dia.

Dengan begitu, pemasar terbaik adalah nasabah selaku pengguna (word of mouth). Bila produk yang ditawarkan tepat dan mampu menjawab kebutuhan baik pengguna individu maupun institusi sudah dapat dipastikan produk akan diminati.

“Target pasar digital banking BNI adalah individual yang berbasis pada pemenuhan layanan keuangan sehari-hari. Target pasar individual meliputi Gen Y dan Milenials, masyarakat unbanked, dan para digital immigrant (Gen X dan Baby boomers),” papar Baiquni.

Dia menjelaskan, kebutuhan layanan digital banking sudah sangat mendesak. Hal ini seiring perubahan perilaku masyarakat yang ingin serba instan dan mudah akibat pesatnya perkembangan teknologi. Arus informasi yang mengalir begitu cepat membuat masyarakat dengan mudah terhubung kemana saja. Termasuk, industri e-commerce yang merubah cara belanja masyarakat.

“Jika bank tidak cepat beradaptasi, akan ditinggalkan oleh nasabahnya. Kemudian, menjamurnya model bisnis baru yang mendisrupsi layanan bank yang sebelumnya sudah mapan, seperti bisnis payment, crowdfunding, investment, mortgage, bahkan loan,” terang dia.

Selain itu, lanjut dia, pesatnya penggunaan uang elektronik yang disediakan beberapa startup fintech mengancam layanan payment yang disediakan bank. Layanan ini membuat masyarakat unbanked juga bisa dengan mudah menggunakan jasa ini tanpa harus lebih dulu menjadi nasabah bank.

“Bank harus fokus pada pengembangan kapabilitas untuk menjadi platform transaksi e-commerce. Kami mengajak fintech seperti AliPay, Go-Jek, Lazada, Tokopedia, dan lainnya untuk bersinergi,” kata dia.

 

(Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)
Read previous post:
Daihatsu Investasikan Rp 1 Triliun untuk Bangun Pusat R&D

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) meresmikan gedung pusat Penelitian dan Pengembangan (Research & Development/R&D) Center, yang berlokasi di Kawasan Industri...

Close