Tips Membangun Inovasi dari McKinsey

Salah satu kunci sukses dalam bisnis adalah kemampuan memunculkan ide-ide baru untuk menjaga operasional, produk, dan layanan baru. Proses menghadirkan ide-ide baru menjadi kenyataan inilah yang disebut inovasi. Dengan inovasi, ada peningkatan sesuatu yang telah ada sebelumnya.

Namun, konsultan McKinsey Indonesia, Dayu Dara Permata melihat tantangan terbesar membangun inovasi adalah rasa takut gagal produk baru yang diluncurkan tidak diterima pasar. Wajar kalau perusahaan memikirkan hal ini karena mereka pastinya telah menginvestasikan cukup banyak dana di bidang pengembangan produk dan layanan pelanggan.

“Mereka pasti akan memikirkan untung-ruginya. Ketakutan mereka adalah ketika produk yang diluncurkan gagal total. Itu bisa jadi akan menghambat mereka untuk berinovasi lagi. Mengatasinya, buanglah rasa takut dan terus membuat inovasi,” katanya kepada SWA Online.

Menurutnya, kunci untuk membangun perusahaan yang inovatif ada dua. Pertama, perusahaan harus punya tujuan yang jelas dari sisi finansial atau strategi perusahaan. Contoh, perseroan ingin membangun reputasi brand, ingin memperkenalkan produk dan belum mengarah ke profit. Kedua, adalah bagaimana cara meraih tujuan tersebut.

Konsultan McKinsey Indonesia, Dayu Dara Permata Konsultan McKinsey Indonesia, Dayu Dara Permata

“Membangun perusahaan inovatif, berpikirnya harus sistematis. Kita tahu goal-nya seperti apa, lalu apa yang harus dikerjakan. Kita harus membuat mekanisme yang baik, yang menyentuh empat aspek. Pertama, kita harus punya filosofi. Kedua, lihat aspek people, Ketiga, proses dan yang terakhir adalah performance,” ujarnya.

Selanjutnya, manajemen harus menegaskan pada karyawannya kalau inovasi adalah bagian dari nilai yang dijunjung tinggi di perusahaan. Dengan pemimpin yang juga inovatif, kultur inovasi akan terbangun secara top down. Kajian setiap pekan akan menjadi hal yang biasa sehingga setiap bulan akan ada ide-ide baru yang tercipta. “Secara horisontal, kita membuat tim dari keilmuan yang berbeda yang nantinya akan saling menemukan satu sama lain,” katanya.

Untuk merangsang inovasi, lanjut dia, ada banyak hal yang bisa diterapkan perseroan. Adanya stimulus akan sangat membantu untuk melahirkan banyak hal yang baru. Interaksi antara manajer atau level eksekutif dengan karyawan, seperti memberikan update atau implementasi suatu perbaikan juga bagian dari kegiatan untuk mendorong karyawan melakukan inovasi.

“Jangan lupa untuk mendokumentasikan satu keberhasilan. Reward untuk karyawan juga bagus. Namun, tidak selalu harus finansial. Inilah pentingnya keberadaan matriks inovasi. Di organisasi, hal penting yang kadang terlupakan adalah ada elemen yang bisa mengukur kemampuan berinovasi, di level perorangan, unit, atau divisi. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)