Budi G. Sadikin: Hanya Bankir yang Jago, Bisa Make Money Saat Interest Rate Tinggi

Budi Gunadi Sadikin, CEO Group Bank Mandiri, mengatakan Good Corporate Governance (GCG) merupakan critical sign untuk kesinambungan bisnis. Bank Mandiri memiliki pengalaman tersebut. Ketika tahun 1998 bank ini kolaps sehingga harus direkapitalisasi senilai Rp 170 triliun. Dan tahun 2005 Bank Mandiri mengalami kolaps juga, walau tidak harus direkap, menurut Budi itu masalahnya juga karena GCG. Bukan karena ekonomi, tapi lebih karena GCG.

BudiSadikin Budi G. Sadikin, CEO Group Bank Mandiri

“Karena itu kami dengan dua pengalaman tersebut, kami tidak ingin mengalami lagi. Disebabkan kolaps efeknya, dulu total asset 4 bank pemerintah senilai Rp 200 triliun harus direkap menjadi Rp 170 triliun,” jelasnya. Betapa berharganya pengalaman tersebut. Dan hingga hari ini proses rekap itu belum selesai, baru akan selesai pada 2020. Betapa panjang dan mahal.

Apalagi saat ini Bank Mandiri total asetnya sudah menjadi Rp 800 triliun, bahkan mungkin tahun depan menjadi Rp 1.000 triliun, kalau terjadi seperti itu lagi, tidak bisa dibayangkan bagaimana kerugian negara yang harus ditanggung.

Untuk menjaga agar pelaksanaan prinsip GCG yang terangkum dalam TARIF berjalan dengan baik, Budi berpendapat, GCG itu ada teorinya, juga ada praktiknya. “Saya bilang, lebih penting implementasi atau praktiknya, daripada teorinya. Karena kalau teori itu semua di buku ada,” tegasnya. Ia menyebut perusahaan besar seperti Enron, Merrill Lynch dan Lehman Brothers, Budi menyakini mereka secara teori sudah ‘nglotok’ atau hafal di luar kepala tentang GCG. Maka itulah praktik dalam GCG jauh lebih penting dibanding teori.

Bagi Budi, yang paling utama dalam penerapan GCG adalah budaya perusahaan dan orangnya, di hatinya. GCG harus terefleksikan dalam budaya perusahaan, dalam kode etik yang dipatuhi oleh para bankir. “Etika itu di atas hukum, di bawah agama,” ujarnya. Ia mengatakan, ada bankir bisa menjalankan bisnis secara hukum benar, tapi secara etika salah. Oleh karena itu, seperti agama, memang sulit menjaganya tetap dijalankan dengan benar. “Untuk itu bankir itu harus menjaga etiknya dengan kuat, jika seluruh institusi menjalankan etik bisnisnya dengan benar, saya yakin GCG bagus,” ujarnya. Maka itu menurut Budi yang penting dibangun adalah budaya manusia, budaya perusahaan, etika manusia di dalamnya, dan etika perusahaannya.

Budi S2

Lalu apa terobosan Bank Mandiri untuk menjaga dan menegakan GCG? Budi menjawab semua yang sifatnya aturan, policy, prosedur, strategi dan organisasi lebih mudah dijalani dengan konsep TARIF. “Kembali lagi dari sisi struktur menurut saya tidak susah dijalani, yang lebih susah dari sisi orangnya. Orang inilah yang menentukan keberhasilan Bank Mandiri dengan pelaksanaan GCG-nya,” tuturnya.

Ia mengatakan, ketika Agus Martowardoyo masuk memimpin Bank Mandiri, tahun 2005, saat itu Budi belum masuk, karena krisis, Agus mengumpulkan petinggi Bank Mandiri. Saat itu Agus menurutnya, menyusun budaya Bank Mandiri akan pentingnya menjunjung trust, integrated, professionalism, customer focus dan excellence. Budaya ini bisa di-roll out oleh seluruh jajaran Bank Mandiri, dalam lima tahun sejak Agus masuk dan benar-benar mengubah karakter dan budaya orang-orang Bank Mandiri yang ke depannya bisa menjaga GCG hingga ke depan.

Lalu apakah budaya perusahaan yang baik benar-benar bisa menjaga GCG perusahaan? Budi menjawab ini mirip pertanyaan tentang agama, apakah Islam bisa dijaga dengan aturan, tapi manusianya yang bisa menjaganya. Bisa saja, orang menjalankan semua yang ada di Al Quran, tapi tetap saja melakukan kejahatan. “Maka itulah saya meyakini manusianyalah yang lebih penting dan paling susah, bukan sekadar aturan,” katanya. Budi mengakui dengan latar belakang Bank Mandiri yang merupakan bank-bank hasil merger, kulturnya memang sudah berhasil disatukan, tapi apakah 100 persen sudah sempurna, belum.

Menurutnya, memang tidak bisa 100 persen menghilangkan budaya yang sudah puluhan tahun ada sebelumnya. Tapi ia meyakini saat ini budaya Bank Mandiri, jauh lebih merasuk dan kuat di dalam setiap awak Bank Mandiri, bahkan hingga alumni, dibandingkan dengan kultur yang lama.

“GCG itu telah berhasil membawa Bank Mandiri hingga ke level sekarang, seberhasil apa, menurut saya lebih fair jika orang lain yang menilai, daripada saya sendiri yang berpendapat,” katanya. Ia lalu menyebutkan GCG Award dari 3 penyelenggara yaitu dari IICG (mendapatkan award ini dari 2007 berturut-turut hingga tahun lalu), Indonesian Initiative Corporate Directorship (IICD) juga mendapat penghargaan GCG selama 4 tahun berturut-turut, dan di level Asia (Asia Corporate Governance) sejak 2009-2014.

Budi mengungkapkan, GCG yang berjalan dengan benar dirasakan juga oleh nasabah. “Contohnya dirasakan Pak Dahlan Iskan, dulu waktu mendapat kredit dimintai duit. Pak Teddy Rahmat dan para vendor-vendor mengalami hal yang sama. Sekarang sudah tidak lagi yang mengalami itu,” katanya. Contoh lain, banyak perusahaan media yang mengajukan proyek atau iklan, orang Bank Mandiri yang memasang iklan, dulu suka minta sesuatu, kata Budi, mungkin tidak dalam bentuk uang cash, tapi bisa dalam bentuk jalan-jalan atau hotel (bahkan dengan “isinya”). Sekarang praktik itu sudah tidak dirasakan lagi oleh mitra dan nasabah.

“Kita bertarung bukan di level Indonesia saja, tapi juga level Asia, maka itu kita harus mempersiapkan diri dengan melakukan benchmarking atau berkompetisi dengan bank level Asia seperti CIMB, Maybank, DBS,” katanya. Bank-bank yang menjadi benchmark Bank Mandiri itu sudah melakukan scorecard untuk GCG-nya. Bank Mandiri baru akan mulai, ingin menantang diri sebenarnya bagaimana standar GCG bank-bank di Asia itu seperti apa.

Mengenai kinerja, Budi menjelaskan di Indonesia dengan ekonomi yang naik-turun, kinerja banknya mengikuti kondisi ekonomi. “Saya sampaikan ke teman perbankan, kalau interest rate turun, seperti dua atau tiga tahun lalu, semua bankir naik kelas, bankir bodoh pun make money,” ujarnya. Tapi kalau interest rate lagi tinggi seperti sekarang ini, hanya bankir jago yang akan make money. Budi tidak akan menyebut banknya, 15 bank YoY yield -nya mayoritas turun.

Bank besar seperti Bank Mandiri, BRI, BCA dan BNI tidak mengalami penurunan. Bank sedang yang tidak turun hanya dua yaitu OCBC NISP dan Bank Panin, serta ada satu lagi Bank Mega, itu pun karena tahun lalu YoY yield-nya rendah karena ada “sesuatu”. “Jadi kondisi memang susah, margin tentu tertekan, maka itu buat saya, pertumbuhan tahun ini dan tahun depan tidak sebagus yang dulu. NPL tahun ini dan tahun depan, pasti lebih tinggi daripada dulu,” jelasnya.

Bedanya, kalau krisis dulu Bank Mandiri kolaps, tahun ini karena sudah berpengalaman, bisa survive. Untuk bisa terus survive hingga tahun-tahun berikutnya maka itu harus: menjaga likuiditas, menjaga kualiats kredit dan baru ketiga menjaga margin. Dalam kondisi seperti ini, menurut Budi, jangan ngoyo, yang penting menjaga likuditas, profit turun sedikit tidak apa, yang penting selamat, be conservative. (***)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)