Budi Makmur Fokus Kepada Pemegang Merek

Pelemahan ekonomi global mengganggu kinerja ekspor. Meski begitu, kinerja PT Budi Makmur Jayamurni (Budi Makmur), produsen kulit kambing dan domba, tak terpengaruh. Kuncinya, adalah menggandeng banyak pemegang merek.

“Kami tidak mengalami penurunan, tetapi tidak juga mengalami peningkatan yang signifikan. Kami berusaha mempertahankan pasar yang sudah ada dengan terus berinovasi seperti saat ini,” kata Sutanto Haryono, Direktur Budi Makmur.

susanto-haryono-pt-budi-makmur-jaya-murni Sutanto Haryono, Direktur Budi Makmur.

Menurut dia, perseroan menggunakan pendekatan sederhana, yakni menjual langsung kepada pemegang merek. Sehingga, pabrik produksi masing-masing pemilik merek otomatis akan menggunakan produk Budi Makmur yang telah direkomendasikan.

“Hal ini jauh lebih efektif dibandingkan dengan menjual langsung ke pabrik. Yang kami lakukan sekarang adalah fokus kepada pemegang merek, seperti Nike dan Adidas,” kata dia.

Salah satu keuntungannya, lanjut dia, lebih terproteksi saat ada pembayaran bermasalah. Perseroan bisa langsung menghubungi pemegang merek jika ada masalah yang terjadi dengan salah satu pabrik. Pemegang merek ini biasanya akan langsung membuat penyelesaian yang tegas.

Sutanto menjelaskan, tantangan terbesar adalah proteksionisme yang memang tidak terlalu kentara tapi cukup menyulitkan. Ia mencontohkan adanya sejumlah barrier yang diciptakan sehingga perseroan sulit menembus pasar Eropa. Namun, ia masih melihat peluang di tengah gejolak global.

“Segmen produk kulit cukup unik karena tidak terlalu maju tetapi tidak akan hilang juga karena masih banyak peminatnya. Seperti “kulit Jawa” sudah lama dikenal di Eropa. Produk sintetis juga tidak bisa menggantikan aspek kualitas kulit. Tetap ada niche untuk produk kulit ini,” ujarnya.

Selama tiga tahun terakhir, kinerja perseroan tidak menurun tetapi juga tidak naik signifikan.Budi Makmur berusaha mempertahankan pasar yang sudah ada sembari terus berinovasi. Pasar baru akan terus dibuka agar tidak mengandalkan pasar menengah ke bawah yang sangat kompetitif.

“Setiap mengekspor harus dilakukan analisis produk secara kimiawi oleh pihak ketiga. Ini membuat adanya biaya ekstra. Tidak ada pilihan lain kalau mau masuk pasar baru. Kami harus memenuhi syarat dan komitmen tersebut,” ujar dia.

Sutanto menambahkan nilai ekspor rata-rata pertahun mencapai US$ 5 juta. Selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan sekitar 5-10%. Perseroan mesti hati-hati menerima permintaan karena harus disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku kambing dan domba dari peternakan di Pulau Jawa, Sumatera, dan Nusa Tenggara.

Saat ini, kapasitas produksi setiap bulan mencapai 1,2 juta square feet kulit domba dan kambing untuk berbagai jenis produk jadi. Angka itu setara dengan 8.000 kulit perhari. Saat ini, Budi Makmur mempekerjakan sekitar 250 orang karyawan yang 30% diantaranya adalah penduduk asli sekitar. (Reportase: Jeihan Kahfi Barlian)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)