Bukalapak: 80 Persen Saham Kami Dimiliki Lokal

Perusahaan digital rintisan (startup) Indonesia menjadi incaran perusahaan modal ventura (venture capital) dunia. Riset Google dan AT Kearney menyebutkan nilai investasi startup selama periode Januari-Agustus 2017 mencapai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 40 triliun.

Sebagian besar investasi berasal dari perusahaan asal Tiongkok. Salah satu investor yang paling rajin memberikan modalnya adalah Alibaba Group. Raksasa e-commerce yang didirikan Jack Ma itu berinvestasi di Tokopedia sebesar US$ 1,1 miliar atau setara Rp 14 triliun.

Perusahaan lain yang juga aktif berinvestasi di Indonesia adalah JD.com. Perusahaan e-commerce Tiongkok ini turut dalam kelompok investor bersama Expedia, East Ventures Hillhouse Capital Group, dan Sequouia Capital dalam putaran pendanaan di Traveloka sebesar US$ 500 juta.

Menanggapi banyaknya perusahaan lokal yang diguyur oleh investor asing, CEO Bukalapak, Achmad Zaky, memastikan bahwa start-up besutannya itu masih mayoritas dimiliki oleh investor lokal. "Sekitar 80 persen saham kami itu masih lokal," ujarnya di Jakarta, 10 oktober 2017.

Maka itu tak mengherankan bila kemudian, Bukalapak, menurut dia sangat fokus terhadap efisiensi modal. Bukalapak dalam hal ini punya visi untuk menjadi perusahaan yang bisa eksis dalam jangka waktu yang lama.Ia tidak ingin menjadi seperti pemain-pemain lain, yang bertumbuh hanya karena menggempur pasar dengan iming-iming promo atau subsidi. "Kami sangat peracaya longterm, kami tidak mau jadi perusahaan karbitan," ungkapnya.

Salah satu strategi Bukalapak untuk bersaing, menurut dia, ialah fokus terhadap Produk dan layanan yang prima dan juga nilai tambah yang dapat diberikan kepada customer. Dari sisi aplikasi misalnya ke depan, ia akan mengeksplorasi lebih jauh pemamfaatan kecerdasan buatan untuk menunjak aktivitas bisnis Bukalapak.

Ia mencontohkan banyak orang yang merasa tidak puas ketika berbelanja murah, lantas berganti pilihan lain yang bisa memberikan produk dan layanan lebih baik. Harga, kata dia, bukan satu-satunya hal yang menentukan seseorang untuk membeli. "Pada akhirnya yang menjadi kunci itu value added dan kualitas, bukan harga," ungkapnya.

Dari segi kepuasan pelanggan ia mencontohkan banyak survei yang mengatakan Bukalapak unggul dibanding perusahaan lain. Net Promoter Score Bukalapak berada diperingkat atas dibanding para pesaingnya. "Ini membuktikan bahka kami concern sekali terhadap kualitas dan juga manajemen complain," ujarnya.

Editor: Eva Martha Rahayu

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)