Cara CAR Memenangkan Persaingan

Bukan rahasia lagi, persaingan di industri asuransi jiwa kian sengit beberapa tahun belakangan. Terutama, sejak kehadiran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan aturan pemerintah yang mewajibkan perusahaan mendaftarkan karyawannya ikut program BPJS Kesehatan.

PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya punya cara sendiri untuk memenangi persaingan sengit ini. Mereka tidak lagi fokus menggarap pasar di kota-kota besar seperti Jakarta. Pasalnya, konsumen di Ibukota Negara Indonesia itu kurang loyal.

“Untuk di Jakarta, kami menggarap pasar generasi muda lewat digital marketing yang digarap anak usaha kami, CAF, yang dikenal dengan asuransi Jaga Diri,” kata Direktur Utama CAR, Freddy Thamrin.

Menurut dia, masyarakat menyambut baik produk asuransi Jaga Diri yang dipasarkan secara online. Produknya unik karena bisa dibeli eceran setiap pekan, harian atau bahkan dalam hitungan jam. Biaya operasional juga minim karena dijual tidak melalui agen.

“Jadi harganya lebih kompetitif. Misalnya, dia mau mudik Lebaran yang hanya beberapa hari, atau main bungee jumping selama beberapa jam, bisa beli. Marketnya bagus,” ujarnya.

freddy car Direktur Utama CAR, Freddy Thamrin

Dia menjelaskan komisi agen memang masih besar di industri asuransi jiwa. Meski begitu, peran agen masih sangat vital di industri asuransi jiwa. Mereka inilah ujung tombak pemasaran di wilayah lapis kedua atau daerah-daerah di luar kota-kota besar seperti Jakarta.

“Kalau di kota lapis kedua alias di daerah, mereka (konsumen) lebih loyal. Beda dengan Jakarta. Di kota-kota kecil, menurut statistik kami, dari kakeknya, sejak tahun 70-an sampai cucunya sekarang adalah nasabah CAR,” katanya.

Dengan jam terbang tinggi, yakni lebih dari 20 tahun, agen tentu sudah mengenal baik nasabahnya selayaknya keluarga sendiri. Kehadiran agen ini juga memudahkan perseroan menggarap pasar di segmen kelas atas, yakni yang memiliki simpanan di atas Rp 200 juta.

Dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tahun 2014, total rekening ada 160 juta, dengan total dana sekitar 4.168 triliun. Tetapi yang punya uang di bawah Rp 100 juta, itu ada 157 juta accounts, dengan uang hanya 15% atau sekitar 700 triliun.

“Yang diatas 200 juta, itu ada sekitar 2 juta rekening, dengan total dana sekitar Rp 3.500 triliun. Kelompok ini yang kami sasar lewat agen. Satu orang rata-rata punya 3-4 rekening,” ujarnya.

Tak hanya di industri asuransi, lanjut dia, perbankan swasta-asing juga banyak berebut segmen kelas ini. Jika hanya fokus mengurusi tabungan, bank-bank swasta-asing jelas akan kalah dengan bank BUMN yang memiliki jaraingan luas dan infrastruktur bagus. (Reportase: Arie Liliyah)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)