Cara Frisian Flag Menggaet Talent Berkualitas

Dunia Human Resources menarik minat Daman Wijaya, HR Business Partner & Talent Management Manager, PT Frisian Flag Indonesia. Dua hal yang paling menarik adalah bagaimana menggaet talent berkualitas dan membangun calon pemimpin dari dalam. Ia lalu merancang tiga kerangka kerja HR yakni keterikatan karyawan, talent, dan manajemen yang adaptif.

Pilar pertama bermuara pada karyawan yang merasa bangga dengan perusahaan dan punya motivasi kerja yang tinggi. Untuk itulah, perusahaan harus punya tujuan dan strategi yang jelas untuk mencapainya. Ini harus disampaikan kepada seluruh karyawan.

“Harus clear apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, dan apa resep ampuh untuk mencapai semua itu. Ukuran kesuksesannya juga harus jelas,” katanya.

Selanjutnya, tentang kultur kepemimpinan. Jajaran direksi dan senior manager harus membentuk sesi-sesi diskusi yang terbuka dan cair tentang visi dan misi perusahaan sekaligus mereview strategi secara berkala. “Kalau perusahaan punya long term strategy, harus ada change agent-nya,” ujarnya.

Daman Wijaya HR Business Partner and Talent Management Manager PT. Frisian Flag Indonesia Daman Wijaya HR Business Partner and Talent Management Manager PT. Frisian Flag Indonesia

Pilar kedua adalah mengembangkan talent dari dalam dengan membuat sistem yang mendukung. Ada fungsi monitoring dan pemetaan potensi setiap karyawan. Upaya ini juga penting untuk memuluskan suksesi kepemimpinan. Sehingga, tidak terjadi kekosongan terutama di pos-pos yang strategis. “Kami harus bisa melihat apa saja yang kurang sehingga bisa di-push dari dalam ataupun luar perusahaan,” katanya.

Daman menjelaskan, program edukasi korporasi ini juga untuk menyiapkan orang-orang yang akan mengisi posisi supervisor maupun manager. Dengan begitu, ada kesamaan standar di levelnya masing-masing. “Kurikulumnya juga harus jelas,” katanya.

Pilar terakhir adalah manajemen yang lincah dan adaptif terhadap perubahan yang belakangan kerap datang dengan tiba-tiba. Inisiatif ini penting karena organisasi juga harus aware dengan kondisi bisnis terkini. “Kami harus menyiapkan mental karyawan agar perubahan yang muncul menjadi tidak menakutkan,” katanya.

Sepanjang tahun 2015, lanjut Daman, tantangan terbesar adalah mengembangkan karyawan di tengah situasi ekonomi makro yang tidak kondusif. Saat nilai tukar Rupiah terpuruk dan daya beli masyarakat ambruk, perseroan mesti punya strategi jitu agar tidak melakukan pengurangan karyawan. “Kami melakukan efisiensi di segala bagian agar tetap bisa mempekerjakan karyawan,” kata dia. (Reportase: Nerissa Arviana)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)