Cara Kurie Membumikan Coding

Bagi Kurie Suditomo, mendirikan sekolah coding bukan berarti hanya mencari keuntungan semata. Sekolah yang dimulai sejak tahun 2013 ini, juga dibuka untuk anak-anak tak mampu. Ia mengaku memiliki janji di mana satu anak di kelas regular akan ditukar dengan 2 jam kelas coding di komunitas tidak mampu.

Namun, waktu 2 jam ternyata tidak memberikan dampak yang diharapkan, mengingat tidak ada satu tempat yang tetap. Sejak September 2015, ia pun memutuskan untuk membuka kelas tetap di satu tempat, yaitu rumah yatim piatu di daerah Terogong, Jakarta. Di sini anak-anak tersebut belajar dengan 1 orang guru yang ia kirimkan ke rumah tersebut.

Coding kids 6_Oct05 (2)

Keseluruhan biaya ditanggung oleh wartawati Tempo ini, begitu juga dengan peralatan yang dibutuhkan. ”Aku ingin supaya coding tidak hanya menjadi suatu perayaan saja. Prosesnya yang memakan waktu dan tenaga itu yang harus diperhatikan, "ujarnya. Selain itu, bagi ibu dua anak ini, mengajar untuk anak yatim tak berbeda jauh dengan mengajar kelas regular.

Banyak tantangan yang harus dihadapi, salah satunya mengasah kemampuan para guru. Menurutnya, para guru terbiasa membuat coding untuk kalangan dewasa, tapi di sekolah coding ini mereka dtuntut untuk mengajar anak-anak. Dengan tinginya jam terbang mengajar, tentunya kemampuan mereka akan terus bertambah.

Oleh karena itu, ia tak ingin membatasi sekolah coding pada kelas tertentu saja. Ia tak berani memberikan biaya yang tinggi untuk setiap kelas yang dibukanya, dengan Rp 500.000 per 4 kali pertemuan para anak-anak sudah bisa mengikuti kelas coding di tiga tempat yaitu Kemang Cipete dan Bintaro.

Kebanyakan anak-anak memilih akhir pekan sebagai waktu belajar mereka, sehingga tak heran bila kelas selalu ramai di waktu ini. Dalam satu kelas ada 3 hingga 10 anak yang dipegang oleh 1 guru. Hal ini agar masing-masing guru bisa berkonsentrasi pada perkembangan masing-masing anak.

Kepedulian Kurie terhadap anak-anak ini pun diapreasisi BlackBerry pada tahun awal tahun 2014 dengan memberikan dana bantuan yang didonasikan ke sekolah coding. Pada awal 2014, BlackBerry sedang mencari sekolah coding untuk memberikan donasi.

Wanita yang pernah mengambil Master International Affair di Ohio University, Amerika Serikat ini, tak mau mengungkap berapa besar donasi bantuan, namun menurutnya dana tersebut mampu membantu menambah pemasukan mereka. Ia juga menolak untuk memberitahukan modal awal pendirian sekolah coding. “Investasi yang paling penting adalah manusia,” tegasnya.

Ia beramibisi untuk memiliki guru sebanyak mungkin mengajar anak-anak berusia 8 hingga 12 tahun tersebut. Semakin banyak guru yang mengajar, maka semakin pesat pula pertumbuhan bisnisnnya. Hal ini sesuai dengan cita-citanya untuk semakin memperbanyak sekolah coding. (EVA)

 

 

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)