Cara PR Melawan Kampanye Negatif terhadap Kelapa Sawit

Kelapa sawit merupakan satu dari segelintir komoditas nasional yang bebas impor. Perannya terhadap pemasukan devisa begitu besar. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negara produsen kelapa sawit terbesar di dunia. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor sawit tahun 2015 lalu mencapai US$ 18,65 miliar, atau yang terbesar dibanding komoditas lain. Tahun 2016 ini diprediksi nilainya meningkat menjadi US$ 22 miliar.

http://www.pajak.go.id/content/article/implikasi-putusan-mahkamah-agung-ri-nomor-70-tahun-2013-terhadap-petani-kelapa-sawit Foto by Pajak.go.id

Sebagai komoditas unggulan dan berperan sebagai tulang punggung devisa negara, industri sawit tidak lepas dari terpaan isu-isu negatif. Begitu masifnya isu negatif menghantam pelaku industri sawit sehingga diperlukan kesadaran bagi industri ini untuk membangun strategi komunikasi yang tepat.

Menurut Bendahara Umum GAPKI Kanya Lakhsmi Sidarta, selama ini kerap beredar persepsi negatif tentang kelapa sawit, mulai dari minyak sawit dianggap tidak baik untuk kesehatan, perkebunan kelapa sawit penyebab hilangnya biodiversitas, deforestasi, emisi GRK, hingga kebakaran hutan.

Padahal, fakta menunjukkan sebaliknya. Minyak sawit diketahui memiliki kandungan vitamin E tertinggi dibanding minyak kedelai maupun bunga matahari. Nilai Konservasi hutan justru lebih tinggi setelah ditanami kelapa sawit ketimbang sebelumnya.

“Kebakaran hutan sering dituduhkan akibat kelapa sawit. Nyatanya, hanya 10 persen, yang lebih besar disebabkan pulpwood plantation (25 persen) dan 60 persen kebakaran terjadi di lahan tak bertuan,” katanya.

Lakhsmi menegaskan, karena besarnya manfaat dan ketergantungan dunia terhadap kelapa sawit, daya saing kelapa sawit makin sulit disaingi. Karena itulah dalam konteks persaingan atau perang dagang ini, akhirnya mereka menggunakan cara-cara kampanye negatif.

Hal senada diungkapkan Adam M Tugio, Direktur Amerika Utara dan Tengah Kementerian Luar Negeri. Menurutnya, kampanye negatif terhadap kelapa sawit dilakukan di negara-negara Barat mulai dari jalanan dalam bentuk demonstrasi, supermarket, hingga menerbitkan regulasi anti sawit di parlemen. Bahkan mereka menggunakan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Leonardo Dicaprio.

Menurut Adam, perlu strategi PR untuk melawan kampanye negatif terhadap kelapa sawit. Pertama, menginformasikan bahwa kelapa sawit dari buah sampai ampas bermanfaat tinggi, lebih higinis, bisa digunakan untuk kosmetik, dan disukai sebagai pengganti butter.

“Kami melakukan kajian. Ada dua tipologi kampanye anti kelapa sawit yaitu kerusakan hutan versus brain wash yang dilakukan negara maju di Eropa dan Amerika melalui tangan-tangan NGO pada gilirannya merefleksikan adanya pertarungan perdagangan antara Utara dan Selatan,” ujar Adam.

Adam juga menyarankan perlunya dialog dengan LSM-LSM kritis dan melibatkan pakar. Ia mencontohkan, pelarangan produk kelapa sawit di supermarket di Perancis tahun 2012 berhasil dikalahkan melalui upaya hukum melibatkan pakar, karena ternyata pelarangan itu tanpa dilengkapi dengan bukti saitifik. Ini merupakan peluang yang bisa dilakukan di Indonesia terhadap pihak-pihak yang melakukan kampanye negatif terhadap sawit.

Pemimpin Redaksi Majalah Gatra, Hedy Lugito, mengungkapkan, media tak bisa disalahkan begitu saja ketika memeberitakan persepsi negatif tentang isu sawit. Pasalnya, selama ini perusahaan atau asosiasi sawit dipandang belum melibatkan media dalam kampanye sawit secara berkelanjutan. Media terbawa arus kampanye negatif karena mereka tidak mendapatkan informasi secara utuh.

“Kesalahmengertian media di Indonesia tidak boleh disalahkan sepenuhnya ke mereka. industri belum melakukan edukasi sejak awal kepada media. Selama ini media hanya dijadikan alat sebagai pemadam kebakaran,” ujar Hedy.

Bagi President ASEAN Public Relations Network (APRN) & Founder London School of Public Relations (LSPR) Prita Kemal Gani, untuk melawan kampanye negatif tentang sawit perusahaan dan asosiasi sawit perlu memahami strategi pengelolaan krisis. “Yang penting dalam komunikasi saat krisis adalah pimpinan harus tampil. Terlibat dan terlihat dalam penanganan krisis,” katanya.

Ia melanjutkan, pedoman dalam mengelola krisis yaitu mengontrol pesan. Dalam memghadapi kesulitan hal paling buruk pun, PR harus melihat satu titik yang baik yang bisa dikembangkan. “Framming issue supaya tidak menjadi liar. Berikan data-data. Tunjukkan itikad baik bersama mengatasi masalah dengan pemangku kepentingan. Tunjuk koordinator/juru bicara supaya perusahaan bisa terus fokus beroperasi,” tambahnya.

GAPKI sendiri akan terus melakukan penyadaran kepada masyarakat. Baik melalui media maupun langsung. Harapannya masyarakat tidak termakan kampanye negatif dan pada akhirnya mendukung industri sawit sebagai industri kebanggaan nasional. (EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)