Cara Jababeka Berdayakan Tanjung Lesung

SD Darmono, (Tengah) CEO dan Founder PT Jababeka (tengah) SD Darmono, CEO dan Founder PT Jababeka

Setelah 24 tahun lalu Tanjung Lesung dipilih oleh pemerintah Indonesia sebagai modal pengembangan perekonomian kawasan Banten Selatan, kini pulau yang berjarak 180 km dari arah barat Jakarta itu ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), akan menjadi surga pantai di barat provinsi Banten.

Rencananya dalam waktu 3 tahun yang akan datang, sejak Jokowi mengintruksikan pembangunan jalan tol Serang-Panimbang sepanjang 83 km dan peresmian kantor administrasi KEK Tanjung Lesung pada tanggal 23 Februari 2015 yang lalu, maka masyarakat sudah dapat menikmati 'pulau Bali'nya Jawa Barat itu.

Untuk meramaikan lahan seluas 1.500 ha tersebut, SD Darmono, Founder sekaligus CEO PT Jababeka, menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan dana sekitar Rp 250 miliar untuk pembebasan lahan dan lewat strategi Tourism Trade and Investment (TTI).

Darmono berkeyakinan Tanjung Lesung yang telah ditetapkan sebagai Tourism Development Corporation (TDC) sejak tahun 1991 tersebut dapat menarik para investor untuk ikut serta memberdayakan wilayah yang dicanangkan sebagai ikon kota pariwisata kelas dunia.

“Strategi marketing kami dengan menarik kalangan kelas atas, dengan sendirinya kelas bawah akan mengikuti pola disiplin yang terbentuk dari kelas atas tersebut. Seperti kebersihan misalnya, kalau yang kita garap adalah kelas menengah-ke bawah dahulu, biasanya kelas atas akan menolak karena lingkungan yang akan ditempatinya itu tidak rapi dan kotor,” ungkap Darmono kepada wartawan di kantornya di Menara Batavia, Benhil Jakarta Pusat .

Dia mengibaratkan jika suatu perusahaan menjual prodak maka yang akan disasar pertama adalah para tokoh yang sudah terkenal dan punya banyak penggemar. Dengan sendirinya para penggemar tokoh tersebut akan mengikuti apa yang dibeli dan dinikmati oleh tokoh tersebut. Begitu pula dalam bisnis properti yang diterapkan PT Jababeka di Tanjung Lesung.

Untuk keuntungan Jababeka sendiri diperoleh dari penjualan lahan, konsep, dan keamanan. Sedangkan untuk investor yang sudah masuk sebanyak 6 hotel, 23 butik hotel dan sisanya masih dalam tahap negoisasi. Ke depannya, di wilayah Zona Ekonomic Khusus (SEZ) itu, akan dipermudah perizinan bagi para investor untuk membangun hotel dengan terget sebanyak 638 hotel.

Saat ini, hotel pertama yang berdiri sejak 1997 adalah Tanjung Lesung Beach Resort dengan 114 kamar dan dikelola oleh grup Accor, disusul kemudian Tanjung Lesung Sailing Club dengan 21 kamar dan Kalicaa Residence dengan 94 Villa. Rencananya hotel yang akan dibangun sebanyak 638 hotel dengan total investasi mencapai Rp 7 triliun, untuk pembangunan lapangan golf dianggarkan sebesar US$ 37 ribu, dan marina US$ 100 juta.

“Pembangunan Marina adalah elemen penting dalam pemberdayaan Tanjung Lesung di atas lahan seluas 140 ha dan menjadi daya tarik yang dapat mendukung perkembangan industri pariwisata Tanjung Lesung,” tambah Darmono.

Tidak hanya untuk kalangan atas, untuk kelas menengah ke bawah juga akan kami siapkan, mulai dari home stay dengan harga Rp 100 ribu hingga Rp 700 ribu per malam sebanyak 12.000 kamar. Darmono menjelaskan, dilihat dari pemberdayaan masyarakat, lewat pembangunan hotel akan terserap lapangan pekerjaan 10 kali lipat atau sekitar 120 ribu lapangan pekerjaan yang langsung diserap dari masyarakat sekitar, belum lagi dari unit yang lainnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)