Cara Telkomsel Memanjakan Karyawan

Guna memanjakan karyawan dan meningkatkan kompetensi pegawai, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), mempraktikkan program Telkomsel Way. Ini merupakan budaya perusahaan Telkomsel yang dirancang perusahaan untuk mengapresiasi pegawai yang berprestasi. “Untuk meningkatkan engagement karyawan, kami membangun budaya perusahaan Telkomsel yang disebut The Telkomsel Way,” ujar Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Telkomsel. Perusahaan menyadari perebutan talenta di industri telekomunikasi tergolong sengit.

Kini, perusahaan telekomunikasi saling memperebutkan talenta terbaik yang beredar di bursa kerja. “Strategi untuk membangun SDM yaitu Go Beyond untuk 5 tahun ke depan. Telkomsel memasang target di atas pertumbuhan industri telekomunikasi sebesar 10%. Target tersebut harus tercapai, agar karyawan mendapat bonus 100% . Tapi kami ada target lain yaitu harus transformasi ke yang baru tanpa meninggalkan yang lama,” jelasnya Telkomsel melakukan program pengembangan SDM sebagai bagian dari upaya perusahaan menujul kesiapan digital (digital readiness).

Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Telkomsel. (Foto : Hendra Syaukani/SWA). Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Telkomsel. (Foto : Hendra Syaukani/SWA).

Pri, sapaan akrab Priyantono, menyebutkan Telkomsel memiliki salah satu program objektif di bidang SDM, yaitu ingin mengembangkan SDM untuk mencapai level terbaik (great level) dari jenjang cakap (good level). “The Telkomsel Ways adalah nilai perusahaan yang sejalan dengan personal value system yang dimiliki oleh karyawan. Sebagai contoh, saat malam takbiran di bulan puasa kemarin, direksi justru berada di kantor untuk memantau network. Kemudian, engagement karyawan juga terlihat ketika mereka menjaga posko Telkomsel saat lebaran di Pelabuhan Merak. Hal ini karena ada tujuan untuk memberi dan melayani masyarakat,” jelas Pri.

Roda bisnis Telkomsel akan terus bergulir berkembang jika mendapat kepercayaan dan loyalitas dari pelanggan. Layanan itu disediakan oleh para pegawai perusahaan. “Kami juga memiliki program true happiness, yaitu bekerja yang baik untuk meningkatkan produktivitas sehingga si karyawan itu akan mendapatkan gaji dan bonus yang tinggi serta kebahagiaan,” tuturnya.

Selanjutnya, personal value itu harus sejalan dengan corporate value secara berkesinambungan sehingga akan mencapai titik tertinggi yaitu unlock best potential. “Titik ini dapat tercapai jika terus digali dari dalam perusahaan,” sebutnya. Telkomsel berinvestasi untuk mengembangkan SDM-nya. “Tahun ini anggaran Telkomsel untuk investasi di bidang tersebut lebih dari 300% dibandingkan tahun 2015. Kami ingin membangun kapabilitas dan kemampuan karyawan untuk dapat me-unlock dirinya tidak hanya dari eksternal tetapi juga creating from within,” ucapnya. Perusahaan menggelar pelatihan M2M (Money to Meaning), yaitu bekerja tidak hanya mengejar hasil berupa materi tetapi juga tujuan hidup sehingga memiliki merasa memiliki Telkomsel.

Setiap tahun, Telkomsel mengadakan Development Day untuk menentukan Top 25 dan Top 50 pegawai yang potensial. Kelompok karyawan HiPo (High Potential) ini hanya 10%-15% dari populasi pegawai di Telkomsel. Para talent ini, dikatakan Pri, akan mendapatkan benefit khusus, program pengembangan (misalnya, Global Talent Program), dan jenjang karier yang lebih cepat dibandingkan reguler (fast track). “Mereka juga disiapkan untuk menggantikan dan mengisi posisi di atasnya,” kata mantan Direktur HR PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk ini.

Adapun untuk diferensiasi kompensasi dan benefit-nya, kata Pri, Telkomsel mengikuti prinsip 3P, yaitu Pay for Person, Pay for Position, dan Pay for Performance. Namun, secara keseluruhan di level penggajian ini, menurut Pri, Telkomsel berupaya mengejar minimal level P75 (alias 25% teratas di pasar) dalam tiga tahun ini. Pay for person, Pri melanjutkan, merupakan kebijakan untuk menyejahterakan karyawan. “Untuk scholarship, kami sudah mengirimkan sebanyak 60 orang ke universitas di seluruh benua, kecuali Afrika. Tahun 2016 ini kami memberi beasiswa sekitar 40 orang. Beberapa universitasnya ialah INSEAD, Stanford University, Melbourne University. Program studinya dipilih sesuai arah bisnis digital,” paparnya. Selain itu, Telkomsel memberikan asuransi kesehatan, asuransi kematian, asuransi kesehatan dan pensiun kepada karyawan. “Kami ingin karyawan Telkomsel yang sudah pensiun, tetap dapat menikmati masa tuanya. Kami mengusahakan agar setelah pensiun, karyawan kami dapat menerima uang pensiun di atas 50% dari gajinya ketika bekerja,” ia menambahkan.

Untuk pay for position, perusahaan memberi fasilitas yang lebih besar bagi pegawai yang memiliki kompetensi, tanggung jawab dan kapabilitas, serta akuntabilitas lebih tinggi, seperti fasilitas mobil dan rumah tinggal. Adapun, pay for performance berupa insentif yang diberikan setiap tiga bulan sekali. “Basisnya, performance harus di atas pertumbuhan pasar baik revenue, EBITDA, net income hingga kinerja keuangan operasional dan layanan. Jika tercapai, maka akan kami bayar sebanyak satu kali gaji (take home pay/THP),” bebernya. Lalu jika kinerja bisnis Telkomsel melebihi target pertumbuhan industri dan target-target lainnya, maka perusahaan akan membayar bayar 1,5 kali THP. “Total jadi 2,5 kali THP untuk tahunan,” tandasnya. Tahun lalu, Telkomsel membayarkan 4,5 kali THP. Sedangkan upaya perusahaan mempertahankan SDM adalah menempatkan pegawai yang kompeten di posisi strategis, uang tunai, kesempatan memperoleh beasiswa, dan program global talent, scholarship. “Turn over Telkomsel rata-rata dibawah 1% . Karyawan Telkomsel sekitar 5 ribu orang,” ucapnya. (*)

Reportase : Tiffany Diahnisa

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)