Cara Universitas Ciputra Memenangi Persaingan

Untuk perguruan tinggi, menghasilkan lulusan berkualitas adalah prestasi. Persaingan ketat pun terjadi karena masing-masing ingin menghasilkan lulusan yang menjadi rebutan di dunia kerja atau yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Universitas Ciputra punya cara sendiri agar lebih dipilih calon mahasiswa diantara 3.000 lebih perguruan tinggi di Indonesia. Universitas Ciputra menjaga keunikan dan kualitas pembelajaran. Apa saja?

“Keunikan kami terletak pada penambahan pembelajaran entrepreneurship dan pemanfaatan jaringan yang dimiliki oleh grup bisnis Ciputra. Kualitas pembelajaran juga selalu ditingkatkan baik mengacu pada standar pendidikan tinggi maupun persaingan pasar di dalam maupun luar negeri,” kata Rektor Universitas Ciputra, Ir. Tony Antonio, M.Eng.

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Universitas Ciputra secara kontinu membangun gedung baru untuk sarana perkuliahan meliputi proses belajar maupun kerja kelompok setiap dua-tiga tahun sekali. Total investasi gedung yang sudah dikeluarkan selama 9 tahun terakhir mencapai Rp 110 miliar. Tahun ini, Universitas Ciputra tengah menyiapkan pembangunan gedung 22 lantai yang terdiri dari 8 lantai gedung parkir yang akan dikerjakan secara bertahap.

Rektor Universitas Ciputra, Ir. Tony Antonio, M.Eng. (Foto: IST) Rektor Universitas Ciputra, Ir. Tony Antonio, M.Eng. (Foto: IST)

“Setiap tahun, Universitas juga menyediakan anggaran pembelian buku dan jurnal serta berlangganan E-Journal sekitar Rp 1 miliar per tahun. Untuk training, anggarannya sekitar Rp 10-20 juta per tahun, meliputi pelatihan wajib 100 jam pertahun dan dukungan presentasi karya ilmiah di dalam maupun luar negeri. Tiap dosen dianggarkan untuk mengikuti pelatihan untuk mengembangkan wawasan kompetensi sesuai bidang ilmunya,” katanya.

Menurut Tony, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Dari segi kualitas akademis, selain bermutu dan tepat guna juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia. Untuk itulah diperlukan dosen yang berkualitas. Ketiga, pola generasi Y dan Z memiliki sifat netizen. Keempat adalah kemampuan menyediakan proses pembelajaran berbasis gadget online.

“Pada dasarnya, perguruan tinggi adalah institusi pendidikan. Namun, tetap harus memperhatikan aspek finansial agar dapat mengembangkan diri dan berkelanjutan (sustainable). Pengelolaan juga harus prudent dan hati-hati agar efektif dan efisien. Jika ini dilakukan dengan cermat, secara bisnis perguruan tinggi akan prospektif,” katanya.

Dia menjelaskan sumber pemasukan Universitas Ciputra berasal dari pembayaran Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) dan Dana Pembangunan dan Pengembangan (DPP). Yang terakhir, peruntukannya lebih untuk anggaran pengembangan fasilitas perkuliahan seperti membangun gedung baru, menambah fasilitas gedung. Sementara, SPP lebih untuk membiayai operasional kampus. Selain itu, Universitas juga mendapat dana dari Yayasan untuk membangun sarana-prasarana, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi untuk dosen, penelitian, serta pengabdian masyarakat.

“Universitas juga membentuk pusat pembelajaran berkelanjutan (Center of Continuing Education) sebagai unit komersial untuk mengadakan pelatihan kepada dunia usaha,” katanya. (Reportase: Maria Hudaibyah Azzahra)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)