Cara XL Mempertahankan Karyawan

Industri telekomunikasi masih menjadi incaran para pencari kerja di Indonesia. Beberapa faktor yang jadi penilaian dalam memilih perusahaan antara lain gaji, tunjangan, jenjang karier, faktor keseimbangan kerja, serta budaya dan manajemen persusahaan.

Layaknya di industri perbankan, tingkat turnover di industri telekomunikasi masih tinggi. Sebagian “dibajak” oleh kompetitornya. Sebab lainnya adalah internalisasi kultur dan kejelasan peran dan tanggung jawab yang berubah sangat cepat seiring kemajuan teknologi.

“Akhir-akhir ini, masalah yang paling banyak adalah terkait resign pegawai, beberapa di-hijack kompetitor,” kata Ryyld Ipbtas Yusri, Human Capital Strategy & Information System (selevel Manajer) PT XL Axiata Tbk (XL).

Ryyld Ipbtas Yusri, HC Strategy & Information System (Manager level) PT. XL Axiata Tbk Ryyld Ipbtas Yusri, HC Strategy & Information System
(Manager level) PT. XL Axiata Tbk

Untuk mengatasinya, Human Capital XL mesti mengambil peranan untuk mempertahankan talent penting, mulai dari cash dan noncash. Fokus perseroan adalah noncash, yakni mengelola atasan untuk memberi kejelasan kepada anak buahnya dalam hal tanggung jawab, target yang ditetapkan, serta proses bisnis baik di internal divisi maupun di luar divisi.

Untuk internalisasi kultur, ada mekanisme perubahan yang diterapkan ke semua karyawan agar bisa menerima informasi tersebut. “Beberapa hal yang kami lakukan terkait keterlibatan pimpinan untuk internalisasi nilai-nilai perusahaan adalah dengan melakukan workshop,” kata jebolan Teknik Industri Universitas Gadjah Mada kelahiran 5 Mei 1982 ini.

Ada 5 program yang diusung Human Capital XL. Pertama, program yang berorientasi pada hasil, sehingga sejalan dengan target bisnis perseroan. Kedua, rutin membenahi sistem human capital, memperkuat divisi human capital business partner, meningkatkan kualitas data analytic employee, mengelola aktivitas HR bekerjasama dengan pihak ketiga, serta melakukan organisasi dan desain yang tepat.

Ketiga, disiplin dalam mengeksekusi seluruh kebijakan. Selain memiliki ukuran yang jelas, kebijakan juga harus dikomunikasikan dengan benar kepada seluruh karyawan. Kesiapan karyawan dalam hal kompetensi juga harus disiapkan agar relevan.

“Kelima, manajerial harus punya program yang jelas. Sehingga, punya standar dan kualitas yang sama untuk manajerial,” kata Ryyld yang pernah meniti karier di PT ANTAM (Persero) Tbk selama kurun 2006-2010 ini.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)