Cegah Bubble Properti, China Batasi Kepemilikan Rumah

China mulai membatasi kepemilikan rumah perorangan di Kota Beijing dan Shanghai. Pembatasan yang mulai berlaku akhir pekan lalu tersebut sebagai upaya untuk membendung bubble pasar properti.

Pemerintah hanya memperbolehkan untuk membeli satu unit rumah saja, bagi warga yang belum memiliki rumah. Bagi sudah memiliki rumah dan ingin membeli lagi, pemerintah menaikkan uang muka minimumnya.

Kabinet China pada 1 Maret lalu mengatakan akan menerapkan pajak atas laba penjualan rumah bekas sebesar 20%. Selain itu, ada peningkatan kontrol kredit bagi para pembeli rumah kedua di kota-kota yang harga rumahnya mengalami lonjakan drastis.

Para analis ragu keputusan yang mulai berlaku akhir pekan lalu itu akan berumur panjang. Meskipun demikian, kebijakan itu agaknya akan mengurangi volume transaksi dalam beberapa bulan mendatang. Para calon pembeli akan memilih menunggu dan terus mengamati dampak kebijakan itu sebelum mengambil langkah lebih lanjut.

“Kebijakan itu hanya bisa diberlakukan dalam jangka pendek. Walaupun angka penjualan mungkin melambat, saya rasa harga rumah tidak akan jatuh. Likuiditas pasar masih tinggi,” ujar Johnson Hu, analis CIMB Securities.

Beberapa tahun belakangan, pemerintah China telah mengambil sejumlah langkah guna menekan harga rumah karena tingginya ongkos hidup akan memicu keresahan masyarakat. Namun, Beijing masih terlihat ragu mengubah unsur fundamental yang mendorong gejolak pasar properti, sektor yang mencakup seperdelapan dari total ekonomi China, demikian pernyataan Dana Moneter Internasional.

Rendahnya suku bunga, terbatasnya alternatif investasi bagi masyarakat China, serta ketergantungan pemerintah daerah akan penerimaan dari jual-beli lahan yang dipatok dengan harga tinggi ikut andil dalam pasar perumahan yang kini kembali booming. (Lila Intana/Wall Street Journal)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)