Chatib Basri : Peluang Hilang Jika Supply Pincang

Tahun 2012 dipandang sebagai masa yang cerah bagi pelaku bisnis di Indonesia. Faktor pendorongnya sebut saja invesment grade, krisis ekonomi di Eropa dan Amerika, hingga meningkatnya kelas menengah yang mencapai 40% dari total populasi Tanah Air. Namun, peluang ciamik tersebut diprediksi bakal hilang jika kekurangan pasokan (supply).

Chatib Basri, pengamat ekonomi dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) mengungkapkan, ada persoalan yang lebih serius dari pertumbuhan ekonomi yang bergerak positif ditahun naga ini. Salah satunya pasokan, baik dari pemerintah ataupun pelaku bisnis. Meski berbagai sektor bisnis diramalkan bakal cerah, namun jika tidak diimbangi dengan pasokan dan ketersediaan barang, maka momentum tersebut tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.

Jumlah konsumen sudah bertambah banyak. Ditambah lagi dengan meningkatnya pendapatan komoditas dari sektor-sektor tertentu seperti energi, yang saat ini mengalami peningkatan permintaan yang cukup tinggi. Meningkatnya permintaan tersebut terbukti dengan perkembangan atau berbagai indikator mengenai penjualan, tabungan, dan lain-lain. Apakah pelaku usaha dan pemerintah sudah siap akan datangnya permintaan yang lebih banyak?. Apakah mereka sudah mempersiapkan keterediaan produk, jasa serta fasilitas?. Peluang bisa hilang, jika supply pincang,” jelas pria yang akrab disapa Dede ini.

Ia mencontohkan, komoditas seperti semen, tahun 2011 memiliki peningkatan pertumbuhan sebesar 15%. Namun, ia masih ragu akan kapasitas perusahaan dalam memenuhi supply tersebut. Contoh lainnya adalah pada industri mobil dan juga penyediaan listrik dari PLN. Dikatakan Chatib bahwa permintaan akan kedua hal tersebut sangatlah tinggi, namun pasokan hal tersebut terkadang masih sering mengalami hambatan. “Jika dilihat kemacetan di jalanan, dari situ dapat terlihat bahwa permintaan akan infrastruktur lebih tinggi, dibanding supply akan infrastruktur”, Chatib mencontohkan. Hal-hal tersebut, katanya, mencerminkan apa yang disebut sebagai “supply constraint” atau “kendala pasokan”.

Dia melihat kendala tersebut banyak terjadi diakibatkan karena ketersediaan infratruktur yang masih buruk. Ketidaktersediaan infrastruktur yang memadai tentunya akan menghambat pengembangan suatu sektor atau industri.

Dengan belum tersedianya infrastruktur yang memadai, tentu menyebabkan para pelaku bisnis tidak mampu mengembangkan perusahaan atau industrinya. Termasuk ketersediaan listrik dan lain-lain. Sehingga menyebabkan banyak perusahaan sulit memenuhi target permintaan dari konsumen. “Pelaku bisnis yang berhasil adalah pelaku yang mampu menyiasati perosalan-persoalan seperti infrastruktur tersebut,” Dede menambahkan.

Meski begitu, sudah ada beberapa perusahaan yang memiliki insiatif dalam membangun infrastrukturnya sendiri, seperti membangun pelabuhan. Ia menyarankan, agar perusahaan-perusahaan atau pelaku bisnis jangan berdiam diri dan mengeluh akan kondisi yang terjadi. “Jangan terlalu banyak mengeluh, lebih baik memikirkan apa saja yang mampu mereka jual di tengah kondisi seperti saat ini. Pelaku bisnis yang kreatif dalam menyiasati persoalan-persoalan saat ini, maka dia lah yang akan survive,” terangnya kembali. (Ario Fajar/EVA)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)