Ciptakan SDM Berkualitas, Ini yang Dilakukan Sasa

PT Sasa Inti terus berinovasi dan merevitalisasi seluruh aspek organisasi. Setelah melakukan rebranding Sasa dari merek MSG yang identik dengan konsumen ibu-ibu menjadi produk dengan sasaran market yang lebih muda Sasa kini fokus mengorkestrasi lingkungan kerja yang ramah bagi usia millennial.

“Orang-orang baru dan CEO baru kami, Bapak Rudolf Tjandra membawa value CARE (Courage, Action Oriented, Respectful & Enthusiasm) terhadap perusahaan. Value tersebut juga membawa PT. Sasa Inti ke sebuah era baru guna selalu relevan terhadap era baru,” jelas Brand Manager Sasa, Aldina Bahri dalam salah satu wawancara bersama SWA.  

Dalam sesi webinar SWA dan LM UI, Head of Human Resource PT Sasa Inti, Agus Sudarmoko menjelaskan perusahaannya menggunakan employer branding untuk mewujudkan best practice pengelolaan SDM.

“Jumlah karyawan kami saat ini 2100 orang. Kami menemui kendala dalam proses rekrutmen diantaranya cost yang tinggi dan waktu rekrutmen yang panjang. Kami juga menghadapi persaingan harga, market yang stagnan, dan reputasi merek. HR perlu merespon hal ini,” ujarnya.

Dimulai tahun 2019, Sasa mulai meredefinisi visi-misi, gaals, arah strategis, hingga pedoman karyawan dalam bersikap dan menjalankan organisasi. Untuk itu, HR melakukan sejumlah strategi dalam rangka revitalisasi rekrutmen.

Pertama, Sasa menjalankan employer branding dengan menawarkan Employee Value Proposition (EVP) yang berupa compensation & benefit, culture, working condition, dan career.

Kedua, implementasi strategi recruitment marketing. Di mana Sasa menawarkan dua hal kepada karyawan, yakni otentik dan konsisten.

Ketiga, memanfaatkan media sosial dan mengetahui objek dari masing-masing sosial media tersebut. Keempat, Sasa membuka job fair secara offline dan virtual serta secara agresif melakukan pendekatan ke beberapa universitas dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan membuat kompetisi bisnis, CSR, internship program, hingga company visit.

Kelima, Sasa menawarkan employee referral agar karyawan dapat merekomedasikan kandidat yang sekiranya cocok dengan kultur perusahaan. Keenam, masih dalam rangka mendapatkan best talent, Sasa melakasanakan behavioural interview techniques. Cara ini memungkinkan Sasa mendapatkan profil perilaku calon karyawan melalui rangkaian psikotes dan sejumlah pendekatan psikologis.

Ketujuh, Sasa melakukan inovasi dan terobosan dalam proses seleksi terutama di masa pandemi. Salah satunya dengan melakukan psikotes secara online.

Kedelapan yakni pada saat onboarding karyawan baru, Sasa terlebih dahulu menyampaikan visi-misi, struktur, dan value sebelum para karyawan ditempatkan di masing-masing divisinya. Hal ini dilakukan agar mereka dapat memahami dan beradaptasi dengan kultur perusahaan lebih cepat.  Setelah karyawan mulai bekerja, manajemen harus agile dalam terhadap perubahan yang terjadi, memperbaiki working environment serta compensation+benefit supaya lebih kompetitif.  

Agus menyebut, tantangan employer branding Sasa adalah bahwa hampir semua perusahaan juga menjalankan employer branding, sehingga Sasa harus menemukan keunikan baru. Tantangan kedua adalah ketika karyawan menginginkan treatment yang sama dengan bagaimana treatment perusahaan kepada konsumen.

“Contohnya, visi Sasa adalah menghadirkan kebahagiaan bagi konsumen yang salah satu implementasnya adalah produk Sasa memudahkan konsumen dalam memasak yang cepat dan instan. Nah, karyawan juga ingin mendapat perlakuan selaras dengan visi tersebut. Misalnya pengajuan cuti yang cepat atau pengajuan hal-hal lainnya,” ujar Agus.  

EDitor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
PT Sasa Inti

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)