Crown Group Tumbuh Besar Bersama Talent Muda Terbaik

Crown Group bisa dibilang grup properti yang sedang tumbuh pesat di Australia. Grup yang dibangun oleh Iwan Sunito dan Paul Sathio, dua diaspora Indonesia ini memulai proyek apartemennya pada 1996 dengan nilai proyek AUS$ 28 juta di Bondai, Sydney.

Pada Agustus 2017, grup ini baru saja meluncurkan apartemen terbaru dan proyek hotel bintang lima pertamanya di Parramatta, salah satu distrik di Sydney yaitu Skye Hotel & Suites dan V by Crown Group. Grup ini berkembang berkat dukungan talent muda terbaik di dalamnya.

Saat ini ada beberapa proyek properti yang sedang dikerjakan Crown Group secara bersamaan. Proyek-proyek itu adalah Waterfall di Waterloo,  The Arc di CBD Sydney, Infinity di Green Square, Oasis di Ashfield, Skye by Crown Group. Bukan hanya di Sydney, proyek propertinya pada tahun 2018 nanti akan merambah ke Melbourne dengan membangun apartemen yang nilainya sekitar USD $ 130 juta sebanyak 150 unit. Lalu ada proyek apartemen di Brisbane sebanyak 500 unit menghadap laut dengan nilai proyek AUS$ 250 juta.

Bahkan akan merambah ke Amerika dengan menyasar orang-orang Indonesia dan Asia yang cukup banyak tinggal di sana. Disebut Iwan Sunito, proyek apartemen 700 unit di Los Angles itu akan dibangun diatas lahan seluas 2.700 meter persegi. Setidaknya proyeknya di sana akan dimulai pada 2020. Belum lagi pada 2019 nanti, proyeknya di Jakarta akan dimulai. Proyek apartemen water front ini rencananya 2.000-3.000 unit berlokasi di utara Jakarta dengan nilai investasi sekitar Rp 5 triliun.

Agresivitas dan keberhasilan Crown Group tidak lain karena dukungan orang-orang terbaik. Grup ini berani membajak talent terbaik di bidangnya. Dua di antaranya yang merupakan talent muda Crown Group adalah Prisca Edwards dan Irvan Zaki, keduanya berusia 40-an tahun.

Prisca wanita berdarah Indonesia dipercaya Iwan sebagai CEO Global Capital. Ini merupakan unit baru di grup bisnis yang khusus mengelola partnership untuk mendukung pengembangan proyek-proyeknya. Ibu satu anak ini pernah bekerja di Tugu Pratama Indonesia kantor London. “Latar belakang saya sebenarnya Hukum. Dari London, sama Tugu Pratama Indonesia dipindah Hong Kong lalu ke Sydney sebelum ketemu Pak Iwan,” kenangnya.

Prisca memulai karier di Crown Group dari bawah karena dia tidak memiliki latar belakang pengalaman di properti. “Pengalaman saya selama ini di legal. Ketika awal di Crown Group saya memegang kanal sales, pengelola penjualan yang melalui agen yang diluar orang kami. Lalu ditugasi lebih besar lagi tanggung jawabnya, terakhir saya diminta mengurusi dari ujung ke ujung proyek baru yang sedang dibangun Waterfall by Crown Group,” terang di show unit Waterfall by Crown Group di Waterloo, Sydney Australia.

Nampaknya Iwan melihat potensi lain Prisca, wanita yang kerap pulang malam ini diminta untuk mengelola divisi Global Capital Crown Group. Ini merupakan anak perusahaan yang khusus mengelola pendanaan. “Divisi ini mencari partner, pendanaan, mempertemukannya dengan pemilik Crown Group,” ujar y wanita yang mengenal Iwan Sunito 10 tahun lalu.

Ia menuturkan, ketertarikannya bergabung dengan Crown Group karena nilai dan karakter pendirinya. Terutama Iwan yang sangat visioner. “Crown Group di Australia itu beda dengan developer lain di sini. Desain nomor satu karena pendiri dan CEO-nya arsitek. Makanya kami lumayan populer saat ini,” katanya. Begitu juga kualitas, disebut Prisca proyek-proyek Crown Group salah satu yang terbaik dibanding pemain lain.

“Pak Iwan sangat memperhatikan sesuatu lebih jauh dan luas. Waktu saya baru mengenal beliau, belum bergabung dengan Crown Group, beliau meminta saya mengelola komintas dan acara networking orang-orang Indonesia, beliau waktu itu ingin orang Indonesia lebih percaya diri dan lebih sukses di Australia,” katanya. Ketika itu ia banyak mengadakan acara dengan mengundang politisi, hakim dan orang terkenal lain di Australia.

Wanita yang kini sudah 6 tahun bersama Crown Group ini memandang Iwan dan Paul memiliki jiwa kewirausahaan yang kuat. “DNA mereka itu DNA orang sukses. Bukan soal mereka orang Indonesia. Waktu saya baru bergabung itu, saya sampaikan ke Pak Iwan, saya ingin punya visi seperti Bapak. Tidak semua orang punya visi besar dan menjalaninya,” ujarnya.

Ia bersyukur, Iwan menjadi mentornya. Selain dirinya ada satu orang Indonesia lain yang dimentori Iwan untuk level senior management. “Walau nanti kami tidak bersama grup ini, Pak Iwan yakin kami bisa membangun bisnis sendiri,” katanya. Walau demikian Prisca merasa masih banyak yang ingin dipelajari.

“Waktu saya dicemplungi di Global Capital saya belajar sendiri. Ini benar-benar hal baru. Pak Iwan sendiri waktu itu mengaku tidak terlalu paham. Divisi ini dibentuk dua tahun lalu karena visi dia yang besar.  Mengikuti Pak Iwan di banyak pertemuan partership, googling dan mencatat. Karena saya belajar dari atas ke bawah, saya cepat paham,” kenangnya. Setahun mengikuti pertemuan bersama Iwan, ia kini sudah bisa jalan sendiri menghadapi dealing partnership.

“Tugas saya cukup berat. Bukan numbers-nya saja harus cocok, kalau orangnya tidak cocok tidak akan jadi. Seperti cari jodoh, kadang uangnya cocok, tapi Pak Iwan bilang tidak cocok, ya tidak jadi. Pak Iwan berprinsip kalau tidak cocok chemistry-nya malah bisa ancur-ancuran di belakang,” ujarnya.

Berapa target funding di divisinya? Bukan soal angka saja jawabnya, lebih mencari partner yang tepat untuk setiap proyek yang sedang dikerjakan Crown Group.

“Tiap partner punya nilai tambah sendiri, bisa jadi kami menolak walau ada partner yang tidak sesuai chemistry-nya,” tegasnya. Peran Prisca di grup bisnis ini ada empat, tiga peran mengelola sales dan tim dalam menjual unit apartemen, serta mengelola imej perusahaan terkait jabatannya di Divisi Global Capital.

Berbeda dengan Prisca,  sosok Irfan adalah pria Pakistan yang dibajak Iwan dari Meriton Group, grup properti besar di Australia ini didaulat menempati posisi Director of Sales & Marketing Hotels & Suites sejak dua tahun lalu, ketika grup ini akan membangun Skye Hotel & Suites. “Dia sangat visioner leader, sangat mau mendengarkan dan belajar hal baru. Saya jadi bisa menjelaskan leluasa ide-ide baru,” jelasnya. Pria yang ayahnya juga bekerja di hotel ini merasa Iwan memberikan kebebasan lebih dalam menuangkan ide-ide dan tidak terlalu jauh hirarkinya.

Kekuatan Crown Group yang memiiki desain bagus juga yang membuat Irfan tertarik bergabung. “Tidak banyak hotel seperti Skye Hotel & Suites di Parramatta, bahkan di Sydney sekali pun. Konsep hotel dengan service apartement ini hal baru juga,” terang pria yang sebelumnya memegang posisi Director Sales & Marketing Meriton Group. Ia yakin grup ini dengan reputasi bagus, akan bertumbuh pesat terlebih melihat portofolionya bahkan di kancah global.

“Banyak pemain memperhatikan proyek-proyek kami, apa yang dibangun dan teknologi yang kami terapkan,” ujarnya. Apalagi banyak hotel di Australia tampak tua, kurang sentuhan teknologi. Sedangkan Crown Group menggunakannya, seperti di Skye Hotel & Suites, dilengkapi tablet untuk customer services, mesin cuci dan pengering, oven dan kompor listrik dan sebagainya.

Irfan dipercaya mengelola sales dan marketing untuk seluruh hotel Crown Group.  Crown Group saat ini mempekerjakan 200 orang karyawan, belum termasuk 70-80 karyawan yang bekerja di proyek-proyek. Sekitar 10-15 persen karyawannya orang Indonesia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.Swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)