CSIS: Pertumbuhan Ekonomi 2014 akan di Bawah 6%

Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan berada di bawah 6% pada 2014. Sama seperti pertumbuhan ekonomi sampai akhir tahun 2013 yang berada pada angka. Tapi berbagai resiko penurunan masih akan ‘menghantui’ di 2014, yang mana akan memperlemah perekononomian Indonesia. Dari sisi dalam negeri, misalnya tingkat inflasi yang diprediksikan akan meninggi, suku bunga juga terus naik, serta terjadinya penurunan dalam investasi.

Slide5_FaisalBasri

Sementara, faktor luar negeri, yakni akan terjadi penurunan harga komoditas non migas, harga bahan bakar internasional yang meningkat, dan adanya ketidakpastian atas pemulihan ekonomi global dan performansi ekonomi Cina. Walau mungkin saja pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terbantu dengan pertumbuhan pemasukan dana di pasar modal, namun risiko dari hal masih tinggi disebabkan pasar keuangan global yang masih volatile, dan akan adanya peningkatan biaya keuangan di luar negeri.

“Pemerintah Indonesia memang harus bisa menjaga defisit di neraca transaksi berjalan (current account) agar tidak semakin melebar, sehingga pertumbuhan ekonomi di atas 6% masih akan bisa tercapai di 2014. Tapi itu juga sulit, karena pada 2013, pertumbuhan ekonomi kita juga tidak mencapai 6%. Sehingga sebenarnya masalah pertumbuhan ekonomi itu bisa ‘dikorbankan’ dulu, asal defisit transaksi berjalan bisa berkurang,” kata Yose Rizal Damuri, Head of the Department of Economics CSIS.

Menurut Yose, pertumbuhan ekonomi itu berkenaan dengan masalah struktural di dalam negeri yang sudah sejak dulu ada seperti infrastruktur. Maka, selain menjaga defisit transaksi berjalan agar tidak makin melebar, dan depresiasi rupiah supaya tidak menjadi-jadi, pemerintah Indonesia juga harus bisa mengimbanginya dengan sisi suplai barang dan jasa, serta kapasitas ekonomi yang lebih baik. Dari sini, selanjutnya bisa diharapkan bahwa pertumbuhan ekonomi akan meningkat.

Dari segi permintaan (demand), Yose menjelaskan bahwa tingkat inflasi dan suku bunga yang meninggi, juga kepercayaan konsumen yang makin rendah, kemudian kondisi pasar keuangan yang naik-turun yang menyebabkan masalah di kekayaan seseorang, membuat menurunnya konsumsi rumah tangga dan swasta. Walau begitu spending dana yang berkaitan dengan Pemilu, akan menimbulkan efek positif terhadap peningkatan konsumsi dalam semester pertama 2014.

Sedangkan di sisi persediaan (supply), pertumbuhannya akan berjalan datar-datar saja hampir di semua sektor ekonomi. Hal ini dikarenakan kondisi kredit atau pembiayaan yang diketatkan, dan harga komoditas internasional yang masih belum menentu. Performansi dalam sektor manufaktur akan beragam, ada yang bagus dan jelek. Karena sektor tersebut masih banyak yang mengandalkan impor bahan baku, dan depresiasi rupiah akan membuat biaya produksi mereka semakin meninggi. Sebaliknya, sub sektor yang berorientasi ekspor akan menjadi lebih baik, sebab kondisi ekonomi global yang membaik, dan adanya depresiasi rupiah.

“Pemerintah juga harus mencari cara mengurangi high cost economy. Lalu, harus juga bisa dipahami bahwa inflasi itu bukan hanya sekadar masalah moneter saja, melainkan juga diakibatkan oleh masalah dari sisi suplai. Di sini ada capital output yang masih kurang baik, iklim bisnis yang buruk, dan lain-lain. Penyebab inflasi dari aspek moneter bisa dibilang hanya 30%-40%, sedangkan sisanya timbul dari ketidakmampuan pemerintah memenuhi suplai untuk perindustrian dan perdagangan,” ucap Yose.

Sebagai informasi, Pemerintah Indonesia mengatakan pertumbuhan ekonomi akan bangkit ke sekitar 6% pada 2014, namun banyak pihak masih ragu. Karena Bank Dunia sendiri memprediksi pertumbuhan Indonesia di 2014 akan melamban menjadi 5,3%, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksinya berkisar antara 5%-5,5%. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)