Dalam Dunia Kerja, Komunikasi Dua Arah Sangat Vital

Suasana ruang Tanjung Rasamala Hotel Mandarin Oriental sore itu lebih riuh dari biasanya. Lebih dari 40 wanita karier dengan beragam kebangsaan gemas dengan dua temannya. Mereka tengah bermain seraya memahami arti komunikasi dua arah sebenarnya.

Permainan tersebut memang hanya melibatkan dua wanita yaitu Gene Sugandy dari Colliers Internasional dan Hellen Lewis. Dalam permainan ini, Gene berperan sebagai pendengar dengan spidol dan kertas gambar di hadapannya. Ia berdiri di ujung ruangan menghadap kertas gambar dan dinding. Sementara itu di ujung lain di belakang Gene, Hellen menjadi pembicara. Wendy Kusumowidagdo, sang instruktur,  menunjukkan secarik gambar sekelompok bangun datar pada Hellen. Tugas Hellen adalah mendiskripsikan gambar tersebut kepada Gene agar ia membuat gambar yang sama seperti yang didiskripsikan Hellen. Aturannya, Gene tidak boleh berbicara apapun, hanya mendengar yang dikatakan Hellen.

Dua menit berlalu, ternyata Gene gagal menggambarkan geometri yang sama persis dengan kertas di tangan Hellen. Wendy pun menantang peserta yang hadir untuk mengupas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Satu demi satu anggota Professional Women Group at British Chamber mengemukakan pendapatnya. Ternyata kuncinya satu: komunikasi itu harus dua arah.

"Listening is hearing with sense," kata Wendy, konsultan senior Outward Bound Indonesia. Banyak orang yang menganggap remeh pentingnya mendengarkan dalam suatu proses komunikasi. Setiap hari orang berbicara, maka setiap hari pula mereka berkomunikasi. Padahal komunikasi dua arah perlu pendengar yang memang betul-betul menyimak apa yang dikatakan, bukan hanya pembicara.

Dalam dunia kerja, menyimak pembicaraan lawan adalah hal yang sangat vital. Menyimak seperti melihat gunung es. Kita hanya melihat sedikit permukaan puncak gunung, tapi harus mampu menebak apa yang ada di bawah permukaan laut.

"Menyimak berarti berkonsentrasi pada suara, mengambil maknanya, kemudian bereaksi," papar Wendy. Meski terdengar mudah, menyimak memiliki beberapa tantangan. Topik yang tidak menarik, tidak setuju dengan pendapat lawan bicara, dan pembicaraan yang tidak efektif adalah tantangan yang sering ditemuni saat mendengarkan dan menyimak.

Dari tantangan tersebut, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan menyimak sekaligus menaikkan kualitas komunikasi.

"Tumbuhkan keinginan untuk belajar, jaga eye-contact, tanyakan pertanyaan yang efektif, dan dahulukan rasional baru emosional," pungkas Wendy. (Tika Widyaningtyas/EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)