Dari Monsanto untuk Indonesia

Ketika jumlah penduduk terus bertumbuh, maka produksi makanan mau tak mau harus menyesuaikan. Namun, pertanyaan yang muncul adalah: apakah alam bisa memenuhi kebutuhan manusia akan pangan yang semakin besar? Jawabannya tidak serta merta.  Ya, bisa. Karena, lahan pertanian sendiri kian tergeser oleh pembangunan infrastruktur, pemukiman, perkantoran, dan lain sebagainya. Sedangkan cuaca semakin tak menentu. Padahal, tanaman pangan sangat membutuhkan lahan yang luas dan cuaca yang mendukung demi mencukupi kebutuhan manusia.

Gabriela Burian, Director of Sustainability Agriculture & Ecosystem Monsanto

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, Monsanto, telah melihat seperti apa kondisi saat ini dan ke depannya. Dalam acara diskusi dengan wartawan, di Jakarta, Kamis (16/5/2013), Gabriela Burian, Director of Sustainability Agriculture & Ecosystem Monsanto, mengatakan, “Hingga 2030, kita harus meningkatkan produksi (pangan) dua kali lipat.”

Hal itu dikatakan Gabriela karena jumlah penduduk terus bertambah. Tahun 2000, jumlah penduduk dunia sudah mencapai 6,1 miliar orang. Dan tahun ini, kata dia, jumlah penduduk diproyeksikan akan mencapai 7 miliar jiwa. Bahkan, di 2030, jumlah penduduk dunia diprediksi bakal menyentuh angka 8 miliar orang.

Melihat kecenderungan itu, peningkatan produksi pangan mutlak dilakukan. Akan tetapi, langkah itu akan terhambat oleh, salah satunya, kelangkaan air. Karena itu, Gabriela menekankan pentingnya pertanian yang berkelanjutan. Terhadap hal itu, komitmen Monsanto tertuang dalam tiga pilar, yaitu menghasilkan lebih, menjaga kelestarian sumber daya, dan meningkatkan taraf hidup petani.

Pada pilar pertama, ia menyebutkan, “(Harus) meningkatkan produksi jagung, kapas, dan kacang kedelai, sebanyak dua kali lipat dari 2000 hingga 2030.” Sedangkan maksud pilar kedua adalah meminimalkan penggunaan sumber daya alam. Maksudnya, pangan bisa dihasilkan dengan, misalnya, air yang terbatas.

Herry Kristanto, Corporate Affairs Lead Monsanto Indonesia

Di Indonesia, komitmen nyata Monsanto untuk meningkatkan produksi pertanian, salah satunya, diwujudkan melalui pembentukan DeKalb Learning Center (DKLC). Ini adalah wadah edukasi yang berfungsi untuk memaparkan berbagai teknologi dan metode praktik pertanian terbaik, khususnya kepada para petani jagung. “DeKalb punya 15 lokasi di seluruh Indonesia. Tahun depan ada 18 lokasi,” tambah Herry Kristanto, Corporate Affairs Lead Monsanto Indonesia.

Program yang telah dilaksanakan sejak 2011 ini menargetkan 312 ribu petani dalam durasi lima tahun. Dengan DeKalb ini, Monsanto berharap adanya kenaikan hasil panen jagung, dari 4,95 ton per hektar menjadi 7,5 ton per hektar pada tahun 2015. “(Sebanyak 7,5 ton per hektar diharapkan terjadi tahun) 2015, dengan asumsi sudah ada biotek,” lanjutnya.

Selain memiliki DeKalb, Herry pun menuturkan, “Untuk memperkuat dukungan kami kepada pertanian berkelanjutan, Monsanto Indonesia turut bergabung dalam PISAgro (Partnership for Indonesia Sustainable Agriculture) dan IBSCD (Dewan Bisnis Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjutan). Partisipasi kami bertujuan untuk memaksimalkan produksi jagung nasional melalui kemitraan dengan pemerintah daerah atau Kementerian Pertanian dengan meminimalkan penggunaan sumber daya alam.” (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)